Sri Lanka kembali menyesuaikan harga BBM di tengah tekanan fiskal yang belum mereda. Kenaikan itu datang setelah International Monetary Fund mendorong pemerintah memulihkan biaya energi dan memangkas subsidi yang selama ini menahan tarif tetap rendah.
Ceylon Petroleum Corporation menaikkan harga bensin menjadi 434 rupe Sri Lanka per liter dari sebelumnya 410 rupee. Harga diesel juga naik menjadi 407 rupee per liter dari 392 rupee, sehingga beban biaya transportasi dan distribusi ikut terdorong naik.
Langkah tersebut muncul tidak lama setelah IMF mencairkan dana pinjaman sebesar US$ 695 juta. Pencairan itu merupakan bagian dari paket bailout senilai US$ 2,9 miliar yang disepakati pada awal 2023 untuk membantu menstabilkan perekonomian Sri Lanka.
IMF menekan agar Sri Lanka tidak terus bergantung pada subsidi energi. Lembaga itu menilai pemulihan biaya pada tarif BBM dan listrik perlu dilakukan supaya perbaikan fiskal tidak tertahan oleh beban anggaran yang berkepanjangan.
Pemerintah Sri Lanka juga sudah memberi sinyal arah kebijakan yang sama. Presiden Anura Kumara Dissanayake menyampaikan dalam surat kepada IMF bahwa subsidi BBM akan dihapus secara bertahap paling lambat September 2026.
Perubahan harga energi di negara itu juga dipengaruhi situasi global yang belum stabil. Sejak konflik pecah di Timur Tengah pada Februari 2026, harga bensin dan diesel di Sri Lanka tercatat naik sekitar 48 persen, sementara tarif listrik meningkat sepertiga.
Tekanan itu bertambah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu krisis energi global, sementara penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran ikut mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen ekspor minyak global melewati kawasan itu. Bagi Sri Lanka, gangguan pada rantai pasok tersebut terasa lebih berat karena negara ini masih sepenuhnya bergantung pada impor minyak dan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional.
Pemerintah di Kolombo sudah memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pemulihan ekonomi. Peringatan itu menjadi penting karena Sri Lanka masih berusaha keluar dari krisis besar pada 2022, ketika negara itu gagal membayar utang luar negeri sebesar US$ 46 miliar akibat kehabisan devisa.
Sejak gagal bayar, Sri Lanka bergantung pada pencairan bantuan IMF untuk menjaga stabilitas ekonomi. Karena itu, setiap kenaikan harga energi kini langsung berdampak pada fiskal negara, pasokan listrik, dan daya tahan rumah tangga.
Source: www.beritasatu.com




