Solidaritas Lintas Kampus Warnai May Day Di Depan DPRD Jabar, 7 Tuntutan Buruh Disuarakan

Tujuh tuntutan buruh kembali mengemuka saat aksi May Day 2026 digelar di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Bandung. Massa yang hadir menekan pemerintah dan DPR agar persoalan ketenagakerjaan tidak berhenti pada seruan tahunan, tetapi benar-benar masuk ke kebijakan yang berpihak pada pekerja.

Aksi pada Jumat (1/5/2026) sore itu berlangsung di tengah pengawalan petugas dan sempat berdampak pada arus lalu lintas di Jalan Diponegoro. Polisi bersama Dishub Kota Bandung berjaga di sekitar lokasi, sementara gerbang gedung dipasangi kawat berduri dan dikunci rapat.

Solidaritas lintas kampus mewarnai aksi

Kehadiran massa menunjukkan dukungan dari berbagai almamater dan memperlihatkan solidaritas lintas kampus dalam peringatan Hari Buruh. Dari barisan peserta, Dika dari Universitas Muhammadiyah Bandung menyampaikan bahwa gerakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk buruh di Jawa Barat, tetapi untuk buruh di seluruh Indonesia.

Ia menilai setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum selesai. Menurut dia, tuntutan yang dibawa massa lahir dari kebutuhan nyata agar kesejahteraan pekerja tidak hanya berhenti sebagai slogan.

Massa pasang spanduk dan bakar ban bekas

Di depan gerbang DPRD Jawa Barat, massa membakar ban bekas dan sampah sebelum memasang spanduk serta poster tuntutan. Aksi itu menjadi penanda bahwa peserta ingin menyampaikan desakan mereka dengan cara yang tegas dan terlihat langsung oleh publik.

Situasi di sekitar gedung juga dibuat tertib dengan pengamanan ketat. Kondisi gerbang yang ditutup rapat menambah kesan bahwa aspirasi yang disuarakan massa berhadapan langsung dengan pusat pengambilan keputusan di daerah itu.

Isi desakan buruh yang dibawa ke DPR

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah dan DPR. Tuntutan itu mencakup pengesahan Undang-undang Ketenagakerjaan yang baru, penghapusan outsourcing dan rezim upah murah, serta penghentian PHK massal disertai pengendalian impor.

Mereka juga menuntut reformasi pajak, kenaikan PTKP, dan penghapusan pajak THR. Selain itu, massa meminta segera disahkannya RUU PPRT, RUU perampasan aset, serta penurunan biaya aplikasi ojek online menjadi 10 persen.

Aspirasi yang ingin terus didengar

Dalam orasinya, Dika meminta agar aspirasi buruh tidak hanya dicatat, tetapi juga ditindaklanjuti secara nyata. Ia menegaskan bahwa aksi yang kembali dilakukan dari tahun ke tahun dimaksudkan untuk mendorong agar suara buruh benar-benar masuk ke meja kebijakan.

Dika juga mengaitkan perjuangan itu dengan latar belakang pribadinya sebagai anak seorang buruh. Kedekatan itu membuat isu kesejahteraan pekerja terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari dan memperkuat alasan mengapa peringatan May Day terus dijalankan.

Di depan DPRD Jawa Barat, massa berharap tuntutan yang mereka bawa dapat membuka jalan bagi kebijakan yang lebih berpihak kepada buruh di seluruh Indonesia. Aksi sore itu menegaskan bahwa persoalan kesejahteraan pekerja masih menjadi sorotan utama dalam peringatan Hari Buruh di Jawa Barat.

Source: www.detik.com
Exit mobile version