Pasar laptop Windows murah tampaknya segera mendapat dorongan besar dari Qualcomm. Lewat Snapdragon C, perusahaan itu sedang menyiapkan platform ARM baru yang diarahkan ke perangkat Windows dengan harga mulai sekitar $300.
Langkah ini menarik perhatian karena langsung menempatkan Snapdragon C sebagai penantang MacBook Neo, laptop Mac paling terjangkau yang dibanderol $599. Di saat MacBook Neo disebut laris sejak diperkenalkan pada Maret dan Apple dilaporkan kesulitan memenuhi permintaan, Qualcomm justru bergerak ke segmen yang selama ini jarang digarap serius di ekosistem Windows.
Dorongan baru di kelas budget
Selama ini, laptop Windows berbasis Snapdragon lebih sering hadir di kisaran $600 hingga $1,000. Snapdragon C mengubah arah itu dengan masuk ke kelas budget yang biasanya dikuasai chip entry-level dari Intel atau AMD.
Perubahan ini penting bagi produsen laptop Windows karena memberi ruang untuk menawarkan perangkat yang lebih murah tanpa sepenuhnya bergantung pada platform x86 tradisional. Qualcomm juga terlihat ingin membawa Snapdragon meluas dari kelas premium ke pasar yang jauh lebih besar volumenya.
Jika banderol awal itu benar-benar terwujud, Snapdragon C bisa menjadi salah satu langkah paling agresif Qualcomm untuk menekan biaya laptop Windows modern. Bagi pasar murah, itu berarti ada opsi baru yang berpotensi menggeser standar harga yang selama ini dianggap sulit turun.
Difokuskan untuk kebutuhan harian
Snapdragon C tidak diposisikan untuk laptop performa tinggi. Qualcomm menargetkannya untuk komputasi dasar sehari-hari seperti penjelajahan web, pekerjaan kantor, streaming, dan kelas online.
Arah tersebut membuat chip ini lebih cocok sebagai solusi praktis untuk aktivitas umum yang paling sering dijalankan di laptop murah. Targetnya bukan mengejar kelas atas, melainkan memberi pengalaman yang cukup untuk penggunaan harian dengan biaya lebih rendah.
Di atas kertas, Qualcomm juga menonjolkan dua daya tarik yang sangat relevan untuk segmen ini. Laptop berbasis Snapdragon C diklaim bisa bertahan seharian dan bekerja lebih senyap dibanding banyak laptop Windows murah konvensional.
Kedua hal itu menyentuh masalah lama yang sering muncul di kelas entry-level. Banyak laptop murah masih identik dengan kipas yang berisik dan daya tahan baterai yang terbatas.
Ada efisiensi, ada kompromi
Untuk menjaga harga tetap rendah, Qualcomm tidak memakai inti CPU Oryon yang dipakai pada chip premium terbarunya. Sebagai gantinya, Snapdragon C menggunakan inti Kryo yang lebih lama.
Inti tersebut sebelumnya juga sudah digunakan di smartphone dan Chromebook. Pilihan itu menunjukkan bahwa Qualcomm memang mengutamakan efisiensi biaya sekaligus tetap menjaga chip ini relevan untuk beban kerja ringan.
Keputusan itu juga memperjelas posisi Snapdragon C sebagai produk budget, bukan versi murah dari platform laptop premium Qualcomm. Konsumen bisa berharap pada harga yang lebih rendah dan efisiensi, tetapi bukan pada performa yang setara dengan seri Snapdragon kelas atas.
Tetap membawa AI, tetapi tidak penuh
Meski menyasar harga terjangkau, Snapdragon C tetap dilengkapi kemampuan AI lewat neural processing unit atau NPU bawaan. Kehadiran komponen ini membuat laptop berbasis chip tersebut tetap mengikuti arah komputasi modern yang makin bergantung pada pemrosesan AI di perangkat.
Namun ada batas yang penting. Laptop Snapdragon C tidak akan masuk kategori Copilot+ PC dari Microsoft, sehingga pengguna tidak akan mendapatkan sebagian fitur AI Windows yang lebih canggih.
Dengan begitu, Qualcomm tetap memberi fondasi AI dasar, tetapi belum membawa pengalaman AI premium yang kini mulai menjadi pembeda di laptop yang lebih mahal. Kompromi ini sejalan dengan target harga yang lebih rendah.
Acer, HP, dan Lenovo jadi mitra awal
Qualcomm menargetkan Acer, HP, dan Lenovo sebagai produsen besar yang akan mempercepat adopsi Snapdragon C. Ketiganya disiapkan sebagai mitra awal untuk meluncurkan perangkat berbasis chip ini pada tahun ini.
Jika rencana itu berjalan sesuai jadwal, laptop Windows berbasis Snapdragon C akan mulai masuk pasar pada tahun ini. Kehadiran perangkat dari tiga merek besar itu akan menjadi ujian awal apakah Qualcomm benar-benar bisa mengubah wajah laptop murah yang selama ini kerap dianggap penuh kompromi pada performa, baterai, dan kebisingan.
Source: www.indiatoday.in