Kematian Amal Khalil di Lebanon selatan kembali membuka perhatian pada bahaya yang terus mengintai jurnalis di wilayah konflik. Dalam serangan di desa al-Tayri, Khalil tewas dan rekannya, Zeinab Faraj, mengalami luka serius setelah keduanya terjebak dalam rangkaian serangan yang disebut otoritas Lebanon sebagai pola serangan ganda.
Pemerintah Lebanon menuduh rangkaian serangan itu sebagai pelanggaran berat dan bahkan menyebutnya sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Sorotan utama muncul karena serangan kedua terjadi saat upaya perlindungan dan evakuasi sedang berlangsung, sebuah pola yang kerap dikaitkan dengan istilah serangan susulan atau double-tap.
Serangan saat wartawan mencari perlindungan
Menurut laporan lapangan dan pernyataan resmi, Khalil dan Faraj awalnya sedang meliput serangan Israel terhadap sebuah kendaraan. Ketika serangan berikutnya terjadi, keduanya berlari menuju sebuah bangunan untuk berlindung, tetapi lokasi itu juga terkena serangan.
Faraj kemudian berhasil dievakuasi oleh petugas medis dalam kondisi terluka parah. Sementara itu, pencarian terhadap Khalil berlangsung jauh lebih lama karena jasadnya baru ditemukan dari reruntuhan beberapa jam kemudian.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut tim penyelamat sempat berusaha menjangkau Khalil. Namun, upaya itu terhenti karena mereka ditembaki dan dipaksa mundur, sehingga proses evakuasi menjadi semakin sulit setelah rumah tempat dua jurnalis itu berlindung ikut menjadi sasaran.
Kronologi yang memunculkan tuduhan serangan ganda
Pejabat Lebanon menyebut rangkaian ledakan dan tembakan itu sebagai double-tap, yakni serangan lanjutan ke lokasi yang sama ketika petugas medis, penyelamat, atau warga mulai mendekat. Dalam kasus ini, jasad Khalil ditemukan sesaat sebelum tengah malam, lebih dari tujuh jam setelah serangan awal.
Khalil terakhir kali disebut sempat dihubungi sekitar pukul 16.10 waktu setempat ketika menelepon anggota keluarga dan militer Lebanon. Jeda panjang antara serangan pertama dan proses evakuasi ini memperkuat kritik bahwa pola semacam itu dapat membuat korban sulit diselamatkan, terutama di area sipil yang masih aktif diserang.
Siapa Amal Khalil
Amal Khalil lahir pada 1984 di Baysariyyeh, Lebanon selatan, dan telah meliput wilayah tersebut untuk Al Akhbar sejak perang 2006. Dalam liputan-liputannya, ia banyak menyoroti kehancuran rumah-rumah di desa-desa dekat garis perbatasan.
Dalam wawancara dengan The Public Source awal tahun ini, Khalil menjelaskan bahwa pekerjaannya bertujuan menggambarkan ketahanan warga di desa-desa perbatasan Lebanon. Ia juga menegaskan bahwa liputannya dimaksudkan untuk membantah klaim Israel yang menyebut hanya menargetkan lokasi militer.
“Saya membongkar narasi musuh bahwa mereka hanya menargetkan situs militer,” ujar Khalil, seraya menyinggung rumah, ladang, dan anak-anak yang ikut menjadi korban. Ia juga mengatakan ingin menunjukkan solidaritas kepada “orang-orang bumi”.
Reaksi Lebanon dan desakan pertanggungjawaban
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan atas pembunuhan Khalil dan luka yang dialami Faraj. Presiden Lebanon Joseph Aoun juga menyampaikan belasungkawa dan mendoakan kesembuhan bagi Faraj.
Dalam unggahan di X, Aoun menuduh Israel secara sengaja dan konsisten menargetkan jurnalis untuk menyembunyikan kebenaran tentang agresi terhadap Lebanon. Menteri Informasi Lebanon Paul Morcos juga menyebut serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional.
Committee to Protect Journalists atau CPJ ikut mengecam kematian Khalil. Lembaga itu meminta komunitas internasional menegakkan hukum internasional dan menuntut pertanggungjawaban atas pembunuhan jurnalis di kawasan tersebut, yang menurut CPJ telah mencapai 262 kasus.
Direktur regional CPJ, Sara Qudah, menilai penghalangan kru medis untuk menyelamatkan warga sipil yang terluka merupakan tindakan brutal yang berulang. Ia menyoroti bahwa Khalil, sebagai jurnalis sipil tak bersenjata, terjebak di bawah puing selama lebih dari tujuh jam saat tim Palang Merah tidak dapat menjangkaunya.
Ancaman terhadap wartawan di garis depan
Jurnalis Al Jazeera, Heidi Pett, menggambarkan Khalil sebagai sosok yang dikenal luas dan dihormati di Lebanon. Pett juga menyebut Khalil pernah menerima ancaman langsung melalui WhatsApp dari nomor telepon Israel yang memintanya berhenti meliput.
Menurut Pett, ancaman itu bahkan berisi peringatan agar Khalil meninggalkan Lebanon jika ingin tetap hidup. Di sisi lain, militer Israel membantah telah menghalangi tim penyelamat dan menyatakan tidak menargetkan jurnalis.
Insiden di al-Tayri muncul kurang dari sebulan setelah tiga jurnalis tewas dalam serangan lain di Lebanon selatan yang juga disebut sebagai serangan ganda. Dalam kasus sebelumnya, kendaraan mereka dihantam lalu kembali diserang ketika penyelamat datang, dan militer Israel kemudian mengakui foto yang dipakai untuk menuduh salah satu jurnalis sebagai anggota pasukan elite Hizbullah telah diubah.