Di tengah ketegangan yang kembali memanas di Selat Hormuz, Donald Trump memilih menampilkan wajah tenang. Ia menegaskan gencatan senjata masih berjalan meski tiga kapal perang Amerika Serikat disebut menjadi sasaran serangan Iran.
Sikap itu memberi sinyal bahwa Washington belum ingin mengubah insiden tersebut menjadi titik pecah baru dalam hubungan dengan Teheran. Gedung Putih juga belum menganggap serangan itu sebagai pelanggaran resmi terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Serangan tersebut terjadi saat USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason melintas di jalur strategis itu. Komando Pusat AS menyebut Iran menyerang ketiga kapal menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil.
Melalui Truth Social, Trump menggambarkan insiden itu dengan nada meremehkan. Ia menulis bahwa tiga kapal perusak kelas dunia Amerika berhasil melewati Selat Hormuz di bawah serangan.
Dalam unggahan yang sama, Trump menyebut rudal-rudal berhasil ditembak jatuh dengan mudah. Ia juga mengatakan drone-drone Iran terbakar di udara lalu jatuh ke laut.
Pernyataan itu menonjolkan upaya Trump untuk menunjukkan ketahanan pertahanan AS. Di saat yang sama, narasi tersebut juga berusaha menjaga kesan bahwa serangan Iran tidak mencapai sasaran.
Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik yang sangat sensitif dalam hubungan Washington dan Teheran. Jalur pelayaran itu dikenal penting bagi arus perdagangan internasional, sehingga setiap insiden di kawasan ini cepat memicu perhatian luas.
Meski ada serangan langsung terhadap kapal perang AS, Gedung Putih belum mengubah status gencatan senjata. Trump bahkan menyampaikan kepada ABC News bahwa gencatan senjata masih tetap berjalan.
Sikap hati-hati itu menunjukkan bahwa Washington, setidaknya untuk saat ini, belum memilih jalan eskalasi. Di balik layar, ruang untuk diplomasi masih dibiarkan terbuka.
Pembicaraan tertutup antara Washington dan Teheran juga disebut masih berlangsung. Negosiator kedua pihak dikabarkan membahas kerangka kesepakatan 14 poin yang bisa menjadi pintu menuju perjanjian yang lebih luas soal program nuklir Iran.
Dalam skema itu, Amerika Serikat menawarkan pelonggaran sebagian sanksi dan pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran diminta menghentikan pengayaan uranium.
Namun, sejumlah hal masih menjadi hambatan dalam perundingan. Persoalan stok uranium Iran dan lamanya pembatasan pengayaan nuklir masih belum menemukan titik temu.
Trump sendiri menegaskan seluruh uranium hasil pengayaan harus diserahkan kepada Amerika Serikat. Iran, di sisi lain, disebut lebih memilih Rusia sebagai pihak yang menyimpan material itu bila kesepakatan akhirnya tercapai.
Di AS, insiden ini tidak dibaca seragam oleh semua pihak. Sejumlah pengamat keamanan menilai Iran memang ingin menyasar personel militer Amerika dalam operasi tersebut.
Mantan pejabat Pentagon, Alex Plitsas, menyebut tindakan Iran telah melanggar kesepakatan damai. Ia menulis di platform X bahwa Iran menembakkan drone, rudal, dan mengerahkan kapal kecil ke kapal perang AS dengan niat membunuh personel militer Amerika.
Perbedaan pandangan itu memperlihatkan betapa satu insiden bisa memunculkan tafsir yang berlawanan. Di satu sisi, Gedung Putih menekankan bahwa serangan berhasil digagalkan, sementara di sisi lain ada penilaian bahwa langkah Iran tetap menunjukkan niat agresif yang serius.
Source: www.suara.com




