Sepincuk Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia, Tradisi Lokal Kian Mendunia

Pengakuan dunia terhadap pecel Jawa Timur bukan hanya soal peringkat, tetapi juga soal bagaimana makanan sederhana bisa membawa identitas daerah ke panggung internasional. Dalam daftar 7 salad terbaik dunia versi TasteAtlas 2026 yang dirilis pada 15 April 2026, pecel menempati posisi ketujuh dan berada di atas som tam dari Thailand.

Capaian itu menegaskan bahwa sepincuk pecel tidak lagi dipandang sebatas hidangan sehari-hari. Di balik sayuran, sambal kacang, dan penyajiannya yang akrab, pecel membawa cerita tentang tradisi, bahan lokal, dan kedekatan masyarakat Jawa Timur dengan alam.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai pecel mencerminkan pemanfaatan bahan lokal yang sehat, sederhana, tetapi tetap kaya rasa. Ia juga melihat pecel sebagai wujud hubungan masyarakat dengan alam karena bahan-bahannya mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Khofifah, kekuatan pecel justru muncul dari kesederhanaannya yang berpadu dengan cita rasa yang kuat. Karena itu, ia memandang pecel sebagai warisan budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya, bukan sekadar dinikmati sesaat.

Ragam rasa dari berbagai daerah

Di Jawa Timur, pecel hadir dalam banyak versi daerah dan masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Keragaman itu membuat pecel berkembang bukan sebagai satu menu tunggal, melainkan kumpulan tradisi rasa yang hidup di berbagai wilayah.

Pecel Madiun dikenal dengan sambal kacang yang kental dan aroma daun jeruk purut. Hidangan ini biasanya disajikan dalam pincuk daun pisang dan dilengkapi peyek kacang.

Pecel Tumpang Kediri menawarkan karakter yang berbeda lewat sambal tumpang. Bumbunya memakai tempe fermentasi, santan, dan rempah-rempah yang memberi rasa lebih dalam.

Di Surabaya, masyarakat mengenal Pecel Semanggi. Hidangan ini memakai daun semanggi sebagai bahan utama dan disiram bumbu kacang yang dicampur petis sehingga menghasilkan rasa manis dan gurih.

Tulungagung memiliki Pecel Punten yang disajikan bersama punten berbahan beras dan santan. Sementara itu, Banyuwangi dikenal dengan Pecel Rawon serta Pecel Pitik khas Suku Osing yang kaya rempah.

Mengapa pecel mendapat tempat kuat

Keberagaman versi daerah membuat pecel Jawa Timur punya nilai lebih di mata dunia. Setiap daerah mempertahankan ciri penyajian dan rasa yang berbeda, tetapi semuanya tetap berada dalam satu tradisi kuliner yang sama.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa pecel tidak hanya soal makanan, melainkan juga tentang kesinambungan budaya. Dari satu daerah ke daerah lain, pecel tetap membawa benang merah yang menghubungkan rasa, kebiasaan makan, dan identitas lokal.

Pengakuan dari TasteAtlas juga memberi dorongan baru bagi pelestarian kuliner tradisional. Khofifah berharap generasi muda semakin mengenal pecel dan tidak lebih akrab dengan makanan luar dibanding kuliner daerah sendiri.

Ia menilai pecel perlu terus dipromosikan dan diwariskan lintas generasi sebagai bagian dari budaya Jawa Timur. Di tengah arus kuliner modern, sepincuk pecel kini tampil sebagai bukti bahwa tradisi lokal masih punya tempat yang kuat di tingkat dunia.

Source: surabaya.kompas.com
Exit mobile version