Sengketa antara Justin Sun dan World Liberty Financial kini memusat pada satu hal yang paling sensitif dalam bisnis kripto, yakni kendali atas token yang sudah dibeli. Sun menuduh proyek yang terkait dengan keluarga Presiden Donald Trump itu membekukan asetnya, mengancam membakarnya, dan memakai tekanan yang menurutnya setara dengan pemerasan.
Gugatan tersebut diajukan di pengadilan federal San Francisco dan membuka babak baru dalam hubungan yang sebelumnya tampak sebagai dukungan terhadap proyek. Dalam pengaduannya, Sun meminta pengadilan membekukan kembali token miliknya, mencegah World Liberty membakar atau membebani token itu, serta memberikan ganti rugi yang jumlahnya tidak dijelaskan.
Dari mitra awal menjadi lawan terbuka
Sun sebelumnya termasuk salah satu figur besar yang masuk ke proyek tersebut dengan komitmen dana yang sangat besar. Ia disebut telah mengeluarkan total $45 juta untuk membeli 3 miliar token WLFI pada 2024 dan 2025.
Selain pembelian itu, Sun juga menerima tambahan 1 miliar token WLFI sebagai imbalan atas perannya sebagai penasihat proyek. Namun hubungan itu kemudian merenggang setelah Sun menolak memberikan investasi dan dukungan tambahan, lalu ketegangan di antara para investor awal ikut meningkat.
Perubahan relasi itu tidak berhenti pada perbedaan pandangan bisnis. Sun dan pihak World Liberty kemudian saling sindir di platform X, yang memperlihatkan bahwa konflik mereka sudah bergeser dari urusan internal menjadi pertarungan terbuka di ruang publik.
Tuduhan pembekuan dan perubahan sistem token
Di dalam gugatan, Sun menyebut World Liberty diam-diam memberikan kewenangan baru yang memungkinkan perusahaan membekukan token miliknya. Ia juga menuduh proyek itu memperoleh hak untuk membakar token yang tersimpan di dompet digital pribadinya.
Menurut Sun, kebijakan itu makin kuat setelah pada November sistem WLFI diubah sehingga token dapat dialokasikan ulang dari satu pengguna ke pengguna lain. Ia menilai perubahan tersebut memperbesar kemampuan perusahaan untuk membatasi transfer token para pengguna.
Sun juga menuduh World Liberty berupaya menekan dirinya agar menanam modal di stablecoin USD1 dan mendorong pemakaiannya di blockchain Tron, jaringan yang ia bangun. Dalam gugatan itu, ia bahkan menyebut ada upaya untuk memaksanya menempatkan ekuitas di holding company World Liberty.
Klaim kerugian dan ancaman yang disebut sebagai pemerasan
Dalam pengaduannya, Sun mengatakan dirinya dan perusahaan-perusahaannya menanggung “ratusan juta dolar” kerugian akibat tindakan World Liberty. Ia menilai ancaman terhadap token miliknya semakin serius setelah salah satu co-founder proyek, Chase Herro, disebut mengancam akan membakar token tersebut pada September.
Pada saat itu, nilai token yang dipermasalahkan disebut mencapai $776 juta. Sun juga menuduh World Liberty mengancam akan melaporkannya ke otoritas pidana jika ia mencoba menegakkan haknya, dan ia menggambarkan tekanan itu sebagai bentuk pemerasan kriminal.
Di sisi lain, Sun menyebut pembekuan token terjadi sebagian karena perusahaan tidak senang dirinya membeli memecoin Trump senilai $100 juta. Ia juga mengatakan bahwa pada Desember ada kesepakatan untuk tidak membakar tokennya selama proses negosiasi yang berlangsung hingga akhir Februari.
Pertanyaan seputar kondisi keuangan proyek
Selain soal token miliknya, Sun juga menyoroti kondisi keuangan World Liberty. Ia menilai proyek itu tampak berada di bawah tekanan, apalagi setelah perusahaan disebut mengambil pinjaman dengan WLFI token sebagai agunan.
World Liberty menyatakan pihaknya memiliki cukup modal untuk menghindari gagal bayar atas pinjaman tersebut. Meski begitu, gugatan Sun membuat sorotan terhadap kemampuan finansial proyek itu semakin tajam di tengah konflik yang sudah melibatkan investor awal, pendiri, dan pemegang token.
World Liberty belum memberikan komentar atas gugatan tersebut. Eric Trump, salah satu co-founder proyek, merespons melalui X, sementara Chase Herro disebut tidak langsung menanggapi permintaan komentar di luar jam kerja.
Di saat yang sama, investor awal proyek masih belum bisa memperdagangkan 80% token mereka, dan sebuah usulan yang sedang dipertimbangkan akan menunda akses perdagangan itu setidaknya selama dua tahun. Situasi ini membuat sengketa Sun bukan hanya soal kepemilikan token, tetapi juga soal arah pengelolaan aset, cadangan stablecoin USD1, dan masa depan bisnis kripto yang terkait dengan keluarga Trump itu.




