Bagi BYD, polemik merek Denza di Indonesia kini bukan lagi sekadar urusan administrasi merek dagang. Setelah kalah dalam sengketa dengan PT Worcas Nusantara Abadi, perusahaan asal Tiongkok itu disebut mulai menyiapkan langkah cadangan agar lini premium mereka tetap bisa berjalan di pasar Tanah Air.
Data pada Pangkalan Data Kekayaan Intelektual menunjukkan BYD Company Limited telah mendaftarkan sejumlah nama alternatif. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak ingin bergantung pada satu identitas merek saja jika Denza benar-benar tidak dapat digunakan di Indonesia.
Enam nama cadangan yang disiapkan
Dari data yang muncul, ada enam opsi nama yang tercatat sebagai persiapan. Nama-nama itu adalah Danza, Deynza, Denzza, Dehnza, Deynza, dan Dnza.
Daftar tersebut menunjukkan BYD masih berupaya menjaga kedekatan bunyi dengan Denza. Dengan pola seperti itu, karakter merek lama tetap terasa, meski bentuk namanya berpotensi berubah.
Sampai saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai nama mana yang akan dipilih untuk pasar Indonesia. Karena itu, publik masih menunggu apakah Denza akan dipertahankan dengan wajah baru atau diganti sepenuhnya.
Sengketa yang membuat posisi Denza goyah
Masalah ini berawal dari pendaftaran merek oleh PT Worcas Nusantara Abadi yang dilakukan lebih dulu pada 3 Juli 2023. Perlindungan merek itu tercatat berlaku hingga 3 Juli 2033, sehingga posisinya sah saat sengketa terjadi.
Setelah itu, BYD mengajukan permohonan merek Denza pada 8 Agustus 2024. Langkah tersebut kemudian tidak menghentikan perdebatan, apalagi BYD juga sudah membawa Denza D9 ke Indonesia pada 22 Januari 2025.
BYD sempat menggugat PT Worcas Nusantara Abadi karena menilai merek yang lebih dulu didaftarkan menyerupai Denza miliknya secara global. Di banyak negara, Denza memang dipakai BYD sebagai lini kendaraan premiumnya.
Namun, majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatan itu. Putusan tersebut membuat pendaftaran merek milik PT Worcas Nusantara Abadi tetap diakui, sementara BYD juga harus menanggung biaya perkara.
Dampak ke strategi produk di Indonesia
Jika nama pengganti benar-benar dipakai, maka model-model BYD yang masuk setelah ini akan membawa identitas baru di bawah sub merek premium tersebut. Artinya, produk seperti Z9GT dan B5 berpeluang tampil dengan label yang berbeda dari Denza.
Saat ini, Denza baru memiliki satu model yang dijual untuk konsumen Indonesia, yaitu MPV listrik Denza D9. Kehadiran D9 sempat menjadi langkah awal untuk membangun posisi merek itu di pasar lokal.
Situasi ini membuat BYD perlu menata ulang strategi pemasaran. Di tengah pasar kendaraan listrik yang berkembang cepat, nama merek punya peran besar dalam membentuk kepercayaan konsumen dan membedakan produk dari para pesaing.
Pilihan nama yang masih dekat dengan identitas awal
Menariknya, seluruh opsi yang sudah didaftarkan masih terasa dekat dengan Denza. Danza, Deynza, Denzza, Dehnza, dan Dnza menunjukkan bahwa BYD tampaknya ingin tetap mempertahankan kesan yang sudah dikenal pasar.
Pendekatan itu juga memberi sinyal bahwa perubahan merek, bila terjadi, kemungkinan tidak akan terlalu jauh dari identitas awal. Meski begitu, keputusan final tetap belum dibuka ke publik.
Sampai saat ini, perhatian masih tertuju pada langkah BYD berikutnya setelah kalah di pengadilan. Jawaban atas pilihan nama itu akan menentukan arah merek premium ini di Indonesia dan bagaimana model-model berikutnya akan diperkenalkan ke pasar.