Langkah Inggris mengirim kapal perang, kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur ke Selat Hormuz menunjukkan bahwa kawasan itu masih dipandang sebagai titik paling sensitif dalam arus energi dunia. Keputusan tersebut tidak hanya soal pengamanan pelayaran, tetapi juga menegaskan bahwa ketegangan di sekitar Iran belum benar-benar surut.
Selat Hormuz kembali menjadi sorotan karena jalur sempit itu memegang peran penting dalam pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia. Saat banyak negara bergantung pada kelancaran lintasan tersebut, setiap gangguan di kawasan itu berpotensi berdampak luas pada perdagangan dan pasokan energi global.
Inggris menempatkan misi ini sebagai bagian dari pertahanan masa depan. Fokusnya adalah menjaga kebebasan navigasi dan melindungi kapal dari ancaman di laut maupun di udara, termasuk risiko drone dan ranjau yang dapat mengganggu pelayaran.
Kementerian Pertahanan Inggris menyebut unsur yang dikerahkan mencakup peralatan pemburu ranjau otonom, sistem anti-drone canggih, jet Typhoon, dan kapal HMS Dragon. Seluruh komponen itu disiapkan untuk memperkuat keamanan di jalur pelayaran yang dinilai berisiko tinggi.
HMS Dragon disebut sudah berangkat ke Timur Tengah pada pekan lalu. Kapal perusak itu juga telah dilengkapi sistem anti-drone mutakhir untuk mendukung pengamanan kawasan tersebut.
Pengerahan kekuatan militer ini muncul setelah Inggris dan Prancis memimpin pertemuan para menteri pertahanan dari sedikitnya 40 negara. Forum yang digelar pada Selasa itu membahas upaya membuka kembali jalur air strategis tersebut dan memastikan kapal-kapal tetap bisa melintas.
Besarnya jumlah negara yang hadir mencerminkan perhatian internasional terhadap situasi di Hormuz. Jalur ini bukan sekadar rute regional, melainkan simpul penting yang memengaruhi pasokan energi lintas negara.
Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mengumumkan alokasi 115 juta pound sterling, atau sekitar Rp2,7 triliun, untuk pengadaan peralatan pesawat nirawak. Dana itu diarahkan untuk memperkuat operasi keamanan di kawasan yang memerlukan pengawasan ketat.
Pendanaan tersebut mencakup pengerahan kapal nirawak Kraken di bawah sistem modular Beehive. Inggris juga sedang memodernisasi kapal RFA Lyme Bay agar dapat berfungsi sebagai platform peluncuran drone.
Ketegangan di sekitar Iran telah memicu blokade efektif terhadap Selat Hormuz. Kondisi itu langsung berdampak pada distribusi minyak dan gas alam cair yang melintas di jalur tersebut.
Gangguan di Hormuz juga memengaruhi ekspor dan tingkat produksi minyak. Efek lanjutannya terasa di banyak negara melalui kenaikan harga bahan bakar dan produk industri, sehingga pengerahan aset laut dan udara dari Inggris kini dibaca sebagai langkah antisipatif atas risiko krisis yang masih membayangi.
Source: www.viva.co.id