Selat Hormuz Jadi Taruhan Utama, Diplomasi China Mencari Jalan Meredakan Konflik AS-Iran

China sedang berada di titik yang membuat setiap langkah diplomatiknya diperhatikan dengan cermat. Pertemuan Abbas Araghchi dengan Wang Yi di Beijing menjadi salah satu momen paling sensitif dalam konflik AS-Iran karena menyentuh jalur energi yang sangat penting bagi pasar dunia.

Yang membuat pertemuan ini menonjol bukan hanya karena dua menteri luar negeri itu berbicara di tengah ketegangan, tetapi juga karena Beijing punya kepentingan langsung di Selat Hormuz. Jalur sempit itu menjadi urat nadi pengiriman energi global, sehingga stabilitasnya ikut menentukan seberapa jauh konflik dapat merembet.

Hormuz Jadi Pusat Tekanan

Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali berputar di sekitar Selat Hormuz setelah Iran membatasi pelayaran di kawasan itu pasca perang pecah. Amerika Serikat lalu memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah gencatan senjata April lalu untuk menekan Teheran agar menerima syarat dalam perundingan.

Dampaknya tidak berhenti pada hubungan dua negara itu saja. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat tersebut, sehingga setiap gangguan langsung berisiko memicu efek berantai ke pasar energi dan ekonomi global.

Sikap Beijing yang Menjadi Sorotan

Dalam pertemuan di Beijing, Wang Yi menegaskan bahwa gencatan senjata menyeluruh tidak boleh terus ditunda. Ia juga menilai melanjutkan permusuhan bukan pilihan bijak, dan menempatkan perundingan sebagai langkah paling penting saat ini.

Posisi China menjadi penting karena krisis ini menyentuh kepentingan ekonominya sendiri. Jalur Hormuz sangat vital bagi impor energi dan perdagangan Beijing, sehingga ketidakstabilan berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi China yang masih berjalan cepat.

Selain itu, China juga dipandang memiliki bobot geopolitik yang besar di Timur Tengah. Iran dilihat sebagai penyeimbang strategis terhadap pengaruh Amerika Serikat di kawasan, sehingga Beijing punya alasan untuk menjaga hubungan itu tetap kuat.

Kepentingan Iran dan Peran China

Bagi Iran, China tetap menjadi penopang ekonomi paling penting di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat. Beijing membeli sebagian besar minyak Iran, sering kali dengan harga diskon, sementara Iran memakai pendapatan itu untuk membeli produk dan jasa dari China.

Hubungan kedua negara juga semakin dalam sejak kemitraan strategis 25 tahun ditandatangani pada 2021. Kerja sama tersebut mencakup infrastruktur, perdagangan, dan keamanan, sehingga kunjungan Araghchi juga dibaca sebagai upaya Teheran mencari kepastian dukungan diplomatik dari Beijing.

Teheran disebut ingin mengetahui sejauh mana China bersedia tetap mendukungnya apabila Iran memilih meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Iran juga ingin membaca sikap Beijing menjelang pembicaraan Xi Jinping dengan Trump, termasuk kemungkinan adanya konsesi China kepada Washington yang dapat berdampak pada kepentingan Iran.

Peluang Mediasi yang Belum Tertutup

Di saat ruang dialog belum sepenuhnya tertutup, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara operasi militer AS terkait pembukaan Selat Hormuz. Meski begitu, situasi di lapangan tetap rapuh dan belum memberi jaminan ketenangan jangka panjang.

Jodie Wen dari Center for International Security and Strategy, Universitas Tsinghua di Beijing, menilai pesan utama China selama ini adalah mencegah eskalasi lebih lanjut di sekitar selat itu. Ia melihat Beijing kemungkinan akan berupaya mendorong Iran kembali ke meja perundingan dan membuka kembali jalur pelayaran seperti semula.

Di tingkat internasional, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutu Teluk dilaporkan sedang menyusun resolusi PBB untuk menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Draf yang dilaporkan kantor berita Jerman DPA itu berisi tuntutan agar Iran menghentikan serangan terhadap kapal, menyingkirkan ranjau laut, dan menghentikan pemungutan biaya transit.

Usulan tersebut juga disebut direvisi agar bisa mengamankan dukungan Rusia dan China. Pada titik inilah sikap Beijing menjadi sangat menentukan karena dapat memengaruhi arah negosiasi di PBB maupun pembicaraan langsung antara para pihak terkait.

Pakistan bahkan disebut telah meminta China memainkan peran mediasi yang lebih besar dalam ketegangan regional ini. Jika Beijing berhasil membantu meredakan konflik, pengaruhnya di antara negara-negara produsen energi Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga dapat meningkat.

Dimensi yang Lebih Luas dari Sekadar Energi

Krisis ini juga membuka ruang bagi China untuk menunjukkan pengaruh yang lebih luas. Laporan media AS menyebut Beijing sedang mempertimbangkan opsi meningkatkan dukungan militer kepada Iran, termasuk kemungkinan pemberian sistem radar canggih dan pertahanan udara menurut penilaian analis intelijen Pentagon, meski belum jelas apakah transfer itu benar-benar terjadi.

Di sisi lain, Iran semakin aktif mendorong penggunaan yuan China dalam transaksi minyak. Langkah itu sejalan dengan ambisi Beijing memperluas peran mata uangnya di tengah dominasi dolar AS.

Dengan kepentingan energi, ekonomi, dan geopolitik yang bertemu di satu titik, Beijing kini memegang posisi yang sulit diabaikan. Konflik AS-Iran masih bergantung pada langkah Teheran, Washington, dan Beijing berikutnya, sementara Selat Hormuz tetap menjadi medan paling rawan yang menentukan arah krisis.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button