Kepastian RD Kongo kembali ke Piala Dunia bukan hanya soal tiket lolos, tetapi juga tentang kebangkitan identitas sepak bola yang lama tertahan. Di tengah persaingan berat kualifikasi Afrika, Leopards akhirnya mendapatkan momentum yang membuat nama mereka kembali terdengar di panggung terbesar.
Lolosnya RD Kongo ke Piala Dunia 2026 langsung menempatkan mereka di antara delapan wakil Afrika yang berhasil mengamankan tempat. Selain RD Kongo, negara-negara yang juga melangkah ke putaran final adalah Mesir, Maroko, Aljazair, Senegal, Ghana, Tunisia, dan Pantai Gading.
Kemenangan yang lahir dari jalur sulit
Perjalanan RD Kongo menuju putaran final tidak berjalan mulus. Mereka sempat berada sangat dekat dengan kelolosan dari Grup B kualifikasi Afrika, tetapi peluang itu hilang setelah kalah 3-2 dari Senegal meski sempat unggul 2-0.
Kegagalan tersebut membuat RD Kongo harus menempuh jalur play-off. Situasi itu sempat terlihat berisiko, namun mereka justru mampu menjaga peluang tetap hidup hingga akhir.
Di semifinal play-off Afrika, Kamerun menjadi lawan berikutnya. RD Kongo bermain imbang 1-1 dalam waktu normal sebelum menang 4-3 lewat adu penalti.
Hasil itu membuka jalan ke play-off antar benua. Pada laga penentuan melawan Jamaika, RD Kongo menang 1-0 lewat gol Axel Tuanzebe dan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.
Peran Sebastian Desabre dalam perubahan arah
Kebangkitan ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan yang terjadi sejak Sebastian Desabre menangani tim pada 2022. Setelah gagal menembus kualifikasi pada dua edisi sebelumnya, yakni 2018 dan 2022, RD Kongo mulai menunjukkan pola permainan yang lebih stabil di bawah arahannya.
Perkembangan itu terlihat dari cara mereka bermain yang lebih terstruktur dan disiplin. Salah satu indikator pentingnya adalah keberhasilan lolos ke AFCON 2023, yang ikut meningkatkan kepercayaan publik terhadap proyek kepelatihan tersebut.
Dari situ, performa RD Kongo berlanjut ke jalur kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka tampil dengan mental yang lebih kuat dalam pertandingan-pertandingan penentuan, sesuatu yang sebelumnya kerap menjadi kendala.
Jejak sejarah yang kembali muncul
Bagi publik RD Kongo, kelolosan ini juga membawa ingatan pada penampilan bersejarah di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Saat itu, tim nasional yang kini dijuluki Leopards tampil untuk pertama kalinya dan sekaligus mencatat capaian terbaik mereka hingga saat ini.
Mereka lolos setelah menembus kualifikasi Afrika dengan performa kuat. Dalam proses itu, RD Kongo bahkan menyingkirkan tim yang lebih dulu diperhitungkan seperti Maroko dan Zambia.
Prestasi tersebut membuat RD Kongo tercatat sebagai negara Afrika ketiga yang tampil pada edisi 1974, setelah Mesir dan Maroko. Dalam konteks sepak bola benua Afrika, pencapaian itu memberi makna besar karena RD Kongo pernah berada di level tertinggi kompetisi internasional.
Namun, perjalanan di turnamen final saat itu berlangsung berat. RD Kongo tergabung di Grup II bersama Yugoslavia, Skotlandia, dan Brasil yang kala itu berstatus juara bertahan.
Hasil di lapangan tidak berpihak kepada mereka. RD Kongo kalah 2-0 dari Skotlandia, tumbang 9-0 dari Yugoslavia, lalu kembali kalah 3-0 dari Brasil.
Tantangan baru di panggung dunia
Kini, setelah kembali ke Piala Dunia, RD Kongo langsung dihadapkan pada grup yang tidak ringan. Mereka berada di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan, tiga lawan dengan karakter permainan yang berbeda.
Komposisi itu membuat setiap laga akan menuntut konsistensi tinggi sejak awal. Bagi RD Kongo, tampil sebagai wakil Afrika yang kembali ke panggung dunia juga berarti membawa sorotan besar terhadap sejauh mana kebangkitan mereka benar-benar bertahan.
Source: bola.bisnis.com




