Satu Tema, Dua Tradisi Buruh, May Day Dan Labor Day Ternyata Jauh Berbeda

Bagi banyak orang, May Day dan Labor Day terdengar seperti dua nama untuk hal yang sama. Padahal, keduanya tumbuh dari sejarah yang berbeda dan diperingati dengan cara yang jauh tak sama.

Perbedaan itu paling mudah dilihat dari tanggalnya. May Day identik dengan 1 Mei dan dipakai di banyak negara sebagai Hari Buruh Internasional, sedangkan Labor Day di Amerika Serikat dan Kanada justru jatuh pada Senin pertama bulan September.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, 1 Mei tidak sekadar menjadi tanggal libur biasa. Hari itu lekat dengan gerakan buruh global yang menonjolkan tuntutan hak pekerja, terutama soal jam kerja delapan jam per hari.

Jejak May Day bahkan tidak langsung bermula dari gerakan buruh. Sebelum menjadi simbol perjuangan pekerja, 1 Mei lebih dulu dikenal di Eropa sebagai perayaan musim semi.

Maknanya berubah ketika kondisi kerja di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 sangat berat. Pada masa itu, jam kerja buruh bisa mencapai 10 hingga 16 jam sehari, sehingga tuntutan untuk memperpendek waktu kerja semakin menguat.

Puncaknya terjadi pada 1 Mei 1886, saat ratusan ribu buruh di Amerika Serikat melakukan mogok kerja massal. Aksi ini lalu berkaitan dengan Haymarket Affair di Chicago pada 4 Mei 1886, ketika bentrokan antara demonstran dan polisi menimbulkan korban jiwa.

Setelah rangkaian peristiwa itu, Konferensi Sosialis Internasional di Paris pada 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak saat itu, May Day menjadi lambang perjuangan pekerja di banyak negara.

Mengapa Labor Day memilih September

Labor Day punya jalur sejarah yang berbeda dan tidak mengikuti 1 Mei. Peringatan ini lahir di Amerika Serikat dan Kanada dengan tanggal resmi pada Senin pertama bulan September.

Perayaan pertamanya berlangsung di New York City pada 5 September 1882 dan digerakkan oleh Central Labor Union. Sekitar 10.000 pekerja ikut dalam parade besar yang kemudian dilanjutkan dengan piknik keluarga dan pidato.

Status resminya baru ditegaskan pada 1894 ketika Presiden Grover Cleveland menetapkan Labor Day sebagai hari libur federal. Keputusan itu juga dipandang sebagai bentuk rekonsiliasi setelah kerusuhan besar dalam Pemogokan Pullman.

Pilihan September tidak lepas dari pertimbangan politik di Amerika Serikat. Pemerintah saat itu ingin menjauhkan peringatan buruh dari ideologi radikal seperti sosialisme dan anarkisme yang melekat pada 1 Mei.

Karena alasan itu, 1 Mei di Amerika Serikat tidak dipakai sebagai Labor Day. Hingga kini, tanggal tersebut justru diperingati sebagai Loyalty Day atau Law Day.

Nuansa perayaan yang berbeda

Perbedaan May Day dan Labor Day bukan hanya soal kalender. Keduanya juga membawa suasana peringatan yang berlainan, sesuai konteks sosial dan politik di wilayah masing-masing.

May Day diperingati secara global di lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia, Tiongkok, India, serta banyak negara di Eropa dan Amerika Latin. Di banyak tempat, peringatannya diisi demonstrasi, rapat umum, dan pawai yang menonjolkan tuntutan hak-hak pekerja.

Sebaliknya, Labor Day versi September lebih dikenal di Amerika Serikat dan Kanada. Di Amerika Utara, hari ini kerap diperlakukan sebagai penutup musim panas.

Masyarakat biasanya merayakannya dengan barbekyu keluarga, liburan singkat, atau pesta belanja. Suasananya jauh lebih santai dibandingkan May Day yang sering menjadi ajang penyampaian aspirasi buruh.

Dari sini terlihat bahwa satu tema yang sama bisa melahirkan tradisi yang berbeda di tiap negara. May Day dan Labor Day sama-sama menghormati kerja keras buruh, tetapi sejarah, tanggal, dan cara merayakannya bergerak di jalur yang berbeda.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version