Di antara semua skenario yang mungkin terjadi, Persib Bandung kini berada pada posisi paling menguntungkan untuk menutup Super League 2025-2026 dengan cara istimewa. Satu laga tersisa melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (23/5/2026), bisa mengantar mereka mencatat sejarah sebagai tim pertama yang menjuarai kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia tiga kali beruntun.
Meski peluang itu terbuka lebar, suasana di dalam tim justru dijaga tetap tenang. Persib tidak mau terburu-buru membicarakan perayaan, karena masih ada 90 menit yang harus diselesaikan sebelum trofi benar-benar aman berada di Bandung.
Posisi Persib di puncak klasemen membuat laga penutup ini punya bobot yang jauh lebih besar dari sekadar pertandingan biasa. Mereka mengumpulkan 78 poin dan unggul dua angka atas Borneo FC yang berada di urutan kedua, sehingga hasil akhir duel kontra Persijap akan sangat menentukan arah gelar.
Secara matematis, Persib hanya perlu minimal satu poin untuk memastikan status juara. Jika menang atau imbang, mereka langsung mengunci trofi, sementara hasil akhir juga tetap berpihak pada Persib bila Borneo FC menang di laga terakhir karena kedua tim akan sama-sama finis dengan 81 poin, dan Persib unggul head to head.
Sikap hati-hati itu juga terlihat dari cara tim menjalani persiapan. Selama menunggu kembalinya pelatih Bojan Hodak, asisten pelatih Igor Tolic menjaga ritme latihan agar tetap terarah dan tidak terganggu oleh besarnya peluang yang sedang mereka hadapi.
Tolic menegaskan tidak ada pembahasan mengenai pesta juara di ruang tim. Baginya, fokus harus tetap pada pekerjaan yang belum selesai karena pertandingan penentu masih tersisa satu kali kesempatan.
Program latihan pun diarahkan ke detail-detail yang langsung berhubungan dengan laga. Sesi diawali pemulihan fisik, lalu berlanjut ke aspek teknis dan taktis agar tim tetap tajam menjelang pertandingan terakhir.
Tolic menyebut latihan berikutnya mencakup bertahan, set piece, menyerang, dan elemen lain yang dibutuhkan untuk menjaga permainan tetap rapi. Pendekatan itu menunjukkan Persib tidak hanya mengandalkan keunggulan klasemen, tetapi juga menyiapkan struktur permainan agar tetap stabil di hadapan tekanan laga penutup.
Dari ruang ganti, pertandingan ini juga dibaca sebagai duel dengan tensi setara final. Bek kiri Persib, Eliano Reijnders, menilai kemenangan adalah syarat mutlak sebelum tim dan Bobotoh bisa merayakan hasil besar di GBLA.
Reijnders juga melihat Persijap sebagai lawan yang tidak bisa dianggap enteng. Ia menilai tim asal Jepara itu tampil cukup impresif pada putaran kedua dan membawa modal kemenangan yang membuat laga terakhir tetap berbahaya bagi Persib.
Selain soal perebutan gelar, Persib punya misi tambahan berupa balas kekalahan dari pertemuan putaran pertama. Faktor itu membuat pertandingan penutup ini memiliki lapisan emosi yang lebih dalam, karena hasilnya bukan hanya menentukan juara, tetapi juga peluang menuntaskan urusan lama dengan cara yang tepat.
Reijnders berharap dukungan Bobotoh bisa memberi tenaga ekstra di laga sebesar ini. “Saya berharap Bobotoh akan mendukung kami, karena kami sangat membutuhkan mereka (di laga ini),” ujarnya.
Di tengah semua tekanan dan kemungkinan yang mengiringi laga terakhir, Persib memilih tetap berpijak pada satu prinsip sederhana: jangan mendahului hasil. Selama peluit akhir belum berbunyi, target mereka hanya satu, yaitu menjaga kendali atas nasib sendiri sampai kesempatan sejarah itu benar-benar selesai dimainkan.
Source: bola.bisnis.com




