Ancaman mikroplastik kini tidak berhenti pada isu lingkungan. Partikel berukuran sangat kecil ini sudah ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia, dan perhatian ilmiah mulai tertuju pada dampaknya terhadap usus.
Jalur masuknya pun beragam, mulai dari udara, makanan, hingga air yang dikonsumsi setiap hari. Temuan ini membuat mikroplastik dipandang bukan lagi sekadar sampah yang sulit terurai, melainkan paparan harian yang berpotensi memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Ukuran mikroplastik yang sangat kecil membuat partikel ini mudah tersebar dan sulit dihindari. Istilah mikroplastik merujuk pada fragmen plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, bahkan ada yang hanya mencapai 0,001 milimeter.
Partikel tersebut bisa berasal dari produk yang memang dibuat berukuran kecil, seperti glitter. Mikroplastik juga dapat muncul dari pecahan benda plastik yang lebih besar setelah mengalami pelapukan.
Kecilnya ukuran mikroplastik juga menyulitkan proses pengukuran. Instrumen yang tersedia kerap kesulitan membedakan mikroplastik dari partikel lain, termasuk lemak, sehingga jejaknya di dalam tubuh belum mudah dipetakan secara akurat.
Di tengah kekhawatiran itu, usus menjadi titik perhatian utama. Dalam kondisi normal, organ ini dihuni ratusan spesies mikroba yang membantu proses pencernaan dan menghasilkan senyawa penting seperti butirat.
Butirat berperan menjaga kesehatan usus sekaligus mendukung sistem imun. Jika mikrobioma terganggu, produksi butirat dapat menurun dan risiko gangguan pencernaan ikut meningkat, termasuk radang usus atau Inflammatory Bowel Disease.
Sejumlah temuan pada hewan memberi gambaran awal tentang dampak paparan ini. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials menemukan indikasi bahwa mikroplastik pada hewan uji dapat memperburuk kondisi tersebut.
Pada tikus yang diberi mikroplastik polistirena, peneliti melihat penurunan mikroba penting di usus. Produksi butirat ikut berkurang, sementara peradangan justru meningkat.
Meski begitu, hasil tersebut belum bisa langsung disamakan dengan kondisi manusia. Peneliti menegaskan bahwa dampak pada manusia masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan yang lebih jauh.
Salah satu pertanyaan besar yang masih belum terjawab adalah sejauh mana mikroplastik dapat menumpuk di dalam tubuh. Akumulasi partikel ini juga belum bisa diukur secara pasti karena keterbatasan alat yang mampu membedakannya dari partikel lain.
Di sisi lain, muncul temuan awal yang membuka peluang riset baru. Sejumlah bakteri usus diduga memiliki kemampuan menguraikan mikroplastik, meski bukti yang tersedia masih sangat awal.
Jika temuan itu nanti terbukti, mikrobioma bisa menjadi pintu baru untuk memahami sekaligus mengatasi paparan plastik di dalam tubuh. Namun para ilmuwan menilai hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih jauh dan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Dengan paparan mikroplastik yang terus meningkat dalam kehidupan sehari-hari, isu ini kian relevan bagi kesehatan manusia. Karena itu, pemahaman yang lebih komprehensif dibutuhkan agar risiko jangka panjang, terutama pada sistem pencernaan, bisa dipetakan dengan lebih akurat.
Source: www.suara.com




