Saat listrik padam dan jaringan internet ikut terganggu, banyak layanan digital langsung kehilangan fungsinya. Situasi itu kembali terlihat di Jakarta, ketika aktivitas komunikasi, transaksi, hingga kerja berbasis internet ikut tersendat karena dua infrastruktur penting tersebut tidak berjalan normal.
Kondisi seperti ini membuat kebutuhan akan jalur cadangan semakin terasa nyata. Di tengah ketergantungan yang besar pada jaringan konvensional, MeshNode Indonesia menawarkan pendekatan komunikasi berbasis mesh text yang dirancang tetap bisa dipakai saat sistem utama bermasalah.
Gangguan listrik bukan hanya soal lampu padam. Dalam praktiknya, banyak layanan harian kini bergantung pada koneksi digital, sehingga saat jaringan melemah, dampaknya langsung merembet ke berbagai aktivitas masyarakat.
Salah satu sektor yang paling cepat merasakan efeknya adalah pembayaran elektronik. Perangkat seperti EDC dan QRIS tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya ketika jaringan pendukung ikut terganggu, sehingga transaksi nontunai ikut melambat bahkan terhenti.
Praktisi teknologi sekaligus penggagas Komunitas MeshNode Indonesia, Arya Dega, menilai peristiwa itu menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar gangguan teknis. Ia menekankan bahwa ketahanan sistem menjadi hal penting ketika layanan utama tiba-tiba hilang.
“Ini bukan hanya soal teknologi yang terganggu, tetapi soal ketahanan sistem. Ketika listrik dan internet hilang, hampir semua lini kehidupan ikut terhenti,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Mesh text untuk kondisi darurat
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, MeshNode Indonesia mengembangkan komunikasi berbasis mesh text. Sistem ini memungkinkan perangkat saling terhubung langsung tanpa bergantung pada internet, sehingga tetap dapat digunakan ketika infrastruktur utama mengalami gangguan.
Arya menyebut model tersebut sebagai jaringan mandiri yang memang disiapkan untuk situasi krisis. Pesan dapat berpindah antardevais melalui koneksi langsung, tanpa harus menunggu jaringan pusat kembali normal.
“Kami membangun jaringan mandiri yang tetap bisa berjalan meskipun infrastruktur utama runtuh. Ini menjadi opsi komunikasi cadangan di situasi krisis,” katanya.
Pendekatan itu memberi ruang bagi komunikasi darurat yang lebih fleksibel. Saat jaringan umum tidak stabil, perangkat dalam sistem mesh masih dapat bertukar informasi lewat jalur alternatif yang dibangun secara langsung.
Komunitas yang tumbuh dari kebutuhan lapangan
MeshNode Indonesia berdiri sejak 20 Februari 2026 dan awalnya digagas Arya Dega bersama Anas Rahman di Bali. Dari inisiatif kecil tersebut, komunitas ini berkembang hingga memiliki lebih dari 100 pengguna aktif dan hampir 1.000 anggota.
Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa minat terhadap komunikasi alternatif mulai mendapat perhatian. Bagi banyak pihak, keberadaan jaringan cadangan bukan lagi sekadar ide teknis, tetapi kebutuhan praktis ketika layanan digital bisa terganggu sewaktu-waktu.
Tidak berhenti di komunikasi
Pengembangan MeshNode juga tidak dibatasi pada pesan darurat. Arya menyoroti perlunya skema pembayaran alternatif agar aktivitas ekonomi tetap bisa berjalan saat jaringan utama bermasalah.
Ia mencontohkan kemungkinan agar EDC dan QRIS dapat berfungsi di jaringan alternatif. Dengan begitu, transaksi tidak langsung berhenti hanya karena terjadi pemadaman atau gangguan konektivitas.
“Bayangkan jika sistem pembayaran seperti EDC dan QRIS bisa berjalan di jaringan alternatif, maka aktivitas ekonomi tidak harus berhenti saat terjadi gangguan,” ujarnya.
Gagasan itu menempatkan teknologi cadangan dalam kerangka kesiapsiagaan. Kecepatan layanan digital tetap penting, tetapi kemampuan bertahan ketika kondisi tidak ideal menjadi nilai yang semakin dibutuhkan.
Tetap mengikuti aturan yang berlaku
Meski mengembangkan sistem mandiri, MeshNode menegaskan bahwa langkah tersebut tetap berada dalam koridor regulasi pemerintah. Salah satu perhatian utamanya adalah penggunaan frekuensi resmi dalam teknologi yang dikembangkan.
Sikap ini menjadi penting agar inovasi tetap sejalan dengan ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, pendekatan komunitas menunjukkan bahwa solusi untuk gangguan besar tidak selalu harus lahir dari institusi besar.
Dalam konteks blackout Jakarta, mesh text menjadi contoh bagaimana gangguan pada listrik dan internet dapat mendorong lahirnya jaringan cadangan yang lebih tangguh. Sistem seperti ini diposisikan sebagai opsi darurat agar komunikasi dan aktivitas penting tidak langsung terputus saat infrastruktur utama mengalami masalah.
Source: www.beritasatu.com