Banyak hewan bertahan hidup tanpa pernah benar-benar memejamkan mata. Pada beberapa spesies, keadaan itu bukan anomali, melainkan bagian dari cara tubuh mereka bekerja untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada struktur mata. Ada yang tidak memiliki kelopak mata, ada yang memakai mata majemuk, dan ada juga yang lebih mengandalkan getaran daripada penglihatan.
Mata yang tidak mengenal kelopak
Ikan termasuk hewan yang matanya tetap terbuka sepanjang waktu karena tidak memiliki kelopak mata. Saat beristirahat, tubuh ikan tetap menurunkan aktivitasnya, dan sebagian spesies masih berenang pelan sambil menggerakkan sirip serta ekor lebih lambat untuk menghemat energi.
Ular juga tidak bisa memejamkan mata karena tidak memiliki kelopak mata. Sebagai pelindung, mata ular tertutup kulit atau sisik yang menahan debu dan kotoran, lalu lapisan itu terkelupas berkala bersama kulit atau sisik yang baru.
Penglihatan majemuk pada serangga dan kepiting
Serangga tidak melihat dengan satu bola mata besar seperti manusia. Mereka memiliki compound eyes atau mata majemuk yang tersusun dari banyak bagian kecil bernama ommatidia, dan tiap bagian itu tidak memiliki kelopak mata.
Susunan tersebut membuat penglihatan serangga tampak seperti pixel bertumpuk. Cara ini juga membantu mereka menangkap berbagai sudut sekaligus tanpa perlu memejamkan mata.
Kepiting memiliki pola yang serupa karena juga memakai compound eyes. Mata jenis ini membuat kepiting tidak bisa menutup mata, dan penglihatannya pun cenderung terlihat buram dengan tampilan yang mirip pixel bertumpuk.
Laba-laba lebih bergantung pada getaran
Dibanding tiga kelompok hewan tadi, laba-laba justru tidak terlalu mengandalkan mata. Kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang buruk, sehingga fungsi matanya terbatas untuk membantu aktivitas sehari-hari.
Sebagian laba-laba hanya mampu mendeteksi gerakan, sementara yang lain hanya melihat objek secara buram. Saat berburu atau berpindah tempat, laba-laba lebih banyak mengandalkan getaran dan gerakan benda di sekitarnya.
Indra lain sering lebih menentukan
Pada kepiting, mata compound eyes juga bisa digerakkan dan didukung otot yang kuat. Meski penglihatannya tetap cenderung buram, bentuk mata kepiting ikut menyesuaikan habitatnya, termasuk pada kepiting yang hidup di dasar laut dengan mata berukuran besar.
Ragam cara melihat itu menunjukkan bahwa penglihatan bukan satu-satunya alat penting untuk bertahan hidup. Pada banyak spesies, pendengaran, penciuman, perasa, dan deteksi getaran justru memegang peran yang lebih besar daripada sekadar melihat.
Source: www.idntimes.com




