Kenaikan harga ponsel dan perangkat elektronik lain di ITC Kuningan kini tidak lagi hanya dirasakan pada barang baru. Di lapangan, harga unit bekas pun ikut terdorong naik, sementara pembeli mulai menahan transaksi karena daftar harga berubah cepat ke atas.
Di sejumlah toko, pedagang melihat tekanan itu datang dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan naiknya biaya komponen, terutama chip. Situasi tersebut membuat harga smartphone, kartu memori, tablet, laptop, hingga jam tangan pintar bergerak tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir.
Seorang pegawai toko di ITC Kuningan menyebut tren kenaikan sudah terasa sejak Maret hingga April 2026. Ia mengatakan harga bisa berubah sangat cepat, bahkan berpotensi naik setiap dua minggu sekali.
Menurut dia, tekanan terbesar datang dari dolar dan chipset AI yang membuat biaya barang tidak menentu. Dalam skenario paling buruk, kenaikan harga disebut bisa berkali-kali lipat, sampai ada barang yang semula Rp100 menjadi Rp300 jika tekanan biaya terus berlanjut.
Untuk produk kelas menengah seperti seri Redmi, kenaikan harga biasanya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Sementara itu, lini flagship disebut bisa mengalami penyesuaian yang lebih tinggi, sekitar Rp500 ribu dalam satu kali perubahan harga.
Keluhan serupa juga muncul dari pegawai toko lain di lokasi yang sama. Ia mengatakan kenaikan tidak hanya terjadi pada barang baru, tetapi juga pada perangkat second yang selama ini menjadi alternatif bagi pembeli.
Harga iPhone bekas, menurut dia, ikut terkerek sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Untuk produk baru, kenaikannya lebih besar, yakni sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Pedagang tersebut menilai gelombang kenaikan mulai terasa sejak 24 Mei dan merembet ke hampir seluruh lini produk elektronik. iPad, MacBook, ponsel, dan laptop disebut sama-sama mengalami penyesuaian harga.
Dampak paling cepat terlihat pada perilaku konsumen. Para pedagang menyebut pembeli kini lebih hati-hati karena harga terus bergerak naik, sehingga suasana jual beli tidak seramai biasanya.
Seorang penjaga toko bahkan menggambarkan penjualan bukan hanya melambat, tetapi sudah terasa sangat berat. Kondisi itu menambah kekhawatiran pedagang di tengah biaya barang yang belum menunjukkan tanda mereda.
Di level yang lebih luas, kelangkaan chip memori ikut menekan pasar global. Tekanan paling besar disebut terjadi di Asia-Pasifik, wilayah yang sangat bergantung pada HP murah dengan margin tipis.
Counterpoint memangkas proyeksi pertumbuhan pengapalan HP global untuk 2026 menjadi minus 2,1%. Revisi tajam juga terjadi pada pabrikan China seperti Honor, Oppo, dan vivo, yang diperkirakan mencatat pertumbuhan negatif.
Harga chip memori masih berpotensi naik 40% sepanjang Q2-2026. Kenaikan ini dapat menambah biaya produksi sekitar 8% hingga 15%, sehingga manufaktur harus memilih menyerap beban itu atau meneruskannya ke konsumen.
Analis senior Counterpoint, Yang Wang, menyebut kenaikan harga tajam di segmen bawah tidak berkelanjutan. Ia juga menilai OEM mulai memangkas sebagian portofolio karena pengalihan biaya tidak selalu memungkinkan.
Rata-rata harga jual HP diperkirakan naik 6,9% secara tahunan pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya pada September 2025 yang masih berada di 3,6%.
Laporan IDC dan Counterpoint pada Q1 2026 memperlihatkan pengapalan HP global justru turun. IDC mencatat penurunan 4,1% secara tahunan, sementara Counterpoint mencatat penurunan 6%.
IDC menyebut pengapalan HP global pada Q1 2026 mencapai 289,7 juta unit. Angka itu mengakhiri tren pertumbuhan selama 10 kuartal berturut-turut yang berlangsung sejak pertengahan 2023.
IDC menilai perlambatan ini bisa menjadi tanda awal bahwa kendala pasokan memori dan kenaikan harga akan terus menekan pasar sepanjang 2026. Dalam versi IDC, Samsung masih memimpin dengan 62,8 juta unit dan pangsa pasar 21,7%, sedangkan Apple berada di posisi kedua dengan 61,1 juta unit dan pangsa pasar 21,1%.
Counterpoint justru menempatkan Apple di posisi teratas pada awal 2026, sementara Samsung turun ke peringkat kedua. Bagi pasar seperti Asia Tenggara dan India, tekanan ini terasa lebih dalam karena perangkat di bawah US$200 selama ini menjadi motor volume penjualan.
Source: www.cnbcindonesia.com