Peluang misi Rosalind Franklin untuk mengarah ke Mars kembali terbuka setelah NASA memutuskan kembali membantu proyek robotik milik European Space Agency (ESA) itu. Dukungan tersebut memberi dorongan penting bagi misi tak berawak yang sejak lama tertunda dan kini dibidik untuk meluncur paling cepat pada 2028.
Peran NASA kali ini tidak menggantikan ESA, melainkan melengkapi bagian-bagian yang paling menentukan dalam rangkaian misi. ESA tetap memimpin penyiapan rover, wahana antariksa, dan pendarat, sementara NASA kembali masuk untuk mendukung peluncuran serta sejumlah komponen teknis yang dibutuhkan agar perjalanan menuju Mars bisa berjalan lebih mulus.
Dukungan peluncuran kembali dibuka
Skema terbaru menempatkan SpaceX Falcon Heavy sebagai roket pengangkut dari Kennedy Space Center. NASA akan membantu sisi peluncuran itu bersama penyediaan mesin pengereman untuk pendarat dan unit pemanas bagi sistem internal rover.
Bagi misi yang sudah beberapa kali tertunda, detail teknis seperti ini sangat penting. Tanpa dukungan pada tahap awal dan perangkat pendukung saat pendaratan, peluang sukses misi bisa menurun karena perjalanan menuju Mars menuntut koordinasi yang sangat ketat.
Rover yang dibangun untuk mencari jejak kehidupan
Rosalind Franklin bukan sekadar kendaraan jelajah biasa. Rover ini dirancang sebagai mesin eksplorasi ilmiah yang membawa instrumen canggih, termasuk mass spectrometer dan alat analisis molekul organik.
Seluruh perangkat itu disiapkan untuk mendukung pengambilan sampel di Oxia Planum, lokasi pendaratan yang dipilih karena dianggap relevan untuk studi geologi dan pencarian jejak organik. Dari sana, rover akan memeriksa komposisi permukaan Mars untuk membantu ilmuwan memahami kondisi planet itu pada masa lampau.
Jalan misi ini sempat panjang dan berliku
Perjalanan proyek Rosalind Franklin sudah mengalami banyak perubahan besar sejak awal dirancang. Pada tahap awal, misi ini bahkan pernah dijadwalkan meluncur pada 2009 ketika NASA masih terlibat.
Namun, kendala anggaran membuat NASA mundur pada 2012. Setelah itu, ESA beralih ke Rusia sebagai mitra peluncuran, tetapi rencana tersebut ikut terganggu setelah perang di Ukraina dan ESA memutus hubungan dengan Rusia pada 2022 sesaat setelah invasi dimulai.
Serangkaian perubahan mitra itu membuat masa depan misi sempat kembali kabur. Baru pada 2024 NASA masuk lagi untuk membantu, sehingga jalur menuju Mars kembali terbuka setelah proyek ini lama tertahan.
Nilai ilmiah tetap jadi alasan utama
Kembalinya NASA tidak terjadi dalam situasi yang sepenuhnya tenang. Proposal terbaru untuk melanjutkan keterlibatan badan antariksa Amerika Serikat itu muncul saat lembaga tersebut juga menghadapi upaya berulang dari pemerintahan Trump untuk mengakhiri keterlibatan dalam proyek ini dan sejumlah program lain.
Meski begitu, dukungan yang kembali diberikan menunjukkan bahwa nilai ilmiah misi ini masih dianggap besar. Jika Rosalind Franklin berhasil mendarat dan bekerja sesuai rencana, data yang dikirim ke Bumi dapat membantu menjawab pertanyaan penting tentang apakah Mars pernah memiliki lingkungan yang mendukung kehidupan.
Target 2028 memberi ruang tambahan bagi ESA dan NASA untuk menyusun detail teknis yang tersisa. Dengan pembagian peran yang kini lebih jelas, misi Rosalind Franklin kembali memiliki pijakan yang lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan panjangnya menuju planet merah.