Penunjukan Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai calon direktur baru Mossad memunculkan perdebatan besar di lingkaran keamanan Israel. Langkah Benjamin Netanyahu itu dipandang tidak biasa karena Gofman lebih dikenal sebagai perwira tempur ketimbang sosok yang dibesarkan di dunia operasi intelijen.
Penolakan paling keras datang dari direktur Mossad saat ini, David Barnea. Seorang pejabat intelijen Israel juga menyampaikan kepada Ynet bahwa Gofman tidak pernah menangani sistem operasi intelijen secara langsung dan tidak memiliki kedalaman pengalaman yang dibutuhkan untuk memimpin lembaga sebesar Mossad.
Sorotan terhadap Gofman tidak lepas dari jalur hidupnya yang keras sejak muda. Ia lahir di Belarus dan pindah ke Israel bersama keluarganya saat masih remaja, lalu menetap di Ashdod.
Masa sekolahnya diwarnai perundungan dan kekerasan dari siswa lain. Pengalaman itu membuatnya menekuni tinju sebelum akhirnya masuk ke militer.
Gofman bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel atau IDF pada 1995 melalui Korps Lapis Baja. Dari sana, kariernya banyak ditempa di medan tempur dan membangun reputasinya sebagai perwira lapangan.
Ia memulai tugas sebagai prajurit batalion tank dan terlibat dalam operasi militer di Lebanon Selatan, Jalur Gaza, dan Tepi Barat saat Intifada Kedua. Dalam perjalanan kariernya, Gofman kemudian memimpin Brigade Etzion dan Brigade Lapis Baja ke-7, dua unit tempur penting di Israel.
Pada konferensi komando senior IDF pada 2018, Gofman dikenal sebagai perwira yang mendorong penggunaan pasukan darat secara lebih aktif dalam operasi militer. Rekam jejak itu membuat namanya kuat di lingkungan militer, meski belum lekat dengan dunia intelijen.
Namanya semakin sering dibahas setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Saat menerima laporan infiltrasi militan, ia disebut segera bergerak dari rumahnya di Ashdod menuju wilayah Sderot.
Di persimpangan Sha’ar HaNegev, Gofman bergabung dengan relawan polisi dan terlibat baku tembak dengan militan Hamas. Dalam insiden itu, ia dilaporkan menewaskan dua militan dan mengalami luka serius di lutut.
Setelah peristiwa itu, Gofman makin dekat dengan pusat kekuasaan Israel. Pada April 2024, ia menulis dokumen internal yang mendorong pembentukan administrasi militer Israel di Jalur Gaza, meski militer Israel menegaskan bahwa isi dokumen itu merupakan pandangan pribadinya.
Sebulan setelahnya, Netanyahu mengangkat Gofman sebagai Sekretaris Militer Perdana Menteri. Dalam jabatan itu, ia disebut terlibat dalam komunikasi Israel dengan Rusia terkait kemungkinan runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Gofman juga disebut memainkan peran penting dalam inisiatif rahasia Israel untuk pengelolaan bantuan kemanusiaan ke Gaza selama perang 2023–2024. Dengan latar belakang seperti itu, penunjukannya ke Mossad dipandang sebagai pilihan yang mengandalkan figur lapangan yang keras dan loyal.
Namun, pertanyaan mengenai kapasitas intelijennya tetap mengiringi pencalonan tersebut. Transisi dari medan perang ke puncak lembaga spionase belum diterima mulus, terutama di tengah penolakan terbuka dari David Barnea dan kritik soal kurangnya pengalaman mendalam di bidang operasi intelijen.
Source: www.suara.com