Lintasan maraton di Beijing baru-baru ini bukan hanya jadi arena adu cepat manusia, tetapi juga ruang uji bagi robot humanoid yang harus menghadapi rute sekitar 21 kilometer. Dalam ajang 2026 Beijing E-Town Half Marathon and Humanoid Robot Half Marathon, lebih dari 300 robot dari lebih dari 100 tim ikut bergerak bersama sekitar 12.000 pelari, membawa satu pesan yang makin jelas: robot humanoid kini tidak lagi sekadar tampil di laboratorium.
Yang menarik, sebagian robot sudah mampu menempuh rute tanpa dikendalikan langsung dari jarak jauh. Panitia membagi peserta robot ke dalam dua kelompok, yakni navigasi otonom dan kendali jarak jauh, dengan porsi robot yang disebut bisa bernavigasi sendiri mencapai hampir 40 persen.
Ujian yang jauh dari sederhana
Lintasan yang dipakai memang sengaja dibuat untuk menguji kemampuan robot secara nyata, bukan hanya ketahanan fisik. Rute sepanjang 21 kilometer itu memuat lebih dari 10 jenis medan, mulai dari jalan datar, tanjakan, tikungan, sampai jalur sempit.
Selain itu, panitia menyiapkan 12 tikungan kiri, 10 tikungan kanan, serta beberapa tikungan tajam mendekati 90 derajat. Ada pula lima titik penyempitan jalan dan satu rintangan pulau jalan yang dirancang agar robot menghadapi kondisi seperti di lingkungan perkotaan yang tidak selalu mudah diprediksi.
Dengan susunan seperti itu, robot dituntut punya perencanaan jalur yang presisi, keseimbangan yang stabil, dan pengelolaan energi yang efisien. Persepsi lingkungan dan kemampuan mengambil keputusan secara otonom ikut diuji langsung di lintasan.
Robot tampil beragam, hasilnya tidak sama
Di area start, robot-robot itu dilepas bergiliran di bawah pohon paulownia yang sedang berbunga. Beberapa tim menambahkan perlindungan pada robot mereka, termasuk topi pelindung matahari, sementara tim lain memilih menonjolkan desain visual yang unik agar lebih menarik perhatian penonton.
Gerak robot pun terlihat beragam. Ada yang melaju lebih cepat, ada yang berjalan lambat, ada yang tubuhnya tinggi dan lincah, dan ada pula yang berukuran mungil dengan tampilan mencolok.
Namun, lomba ini juga memperlihatkan batas kemampuan robot humanoid saat ini. Sebagian peserta mampu menyesuaikan arah secara otomatis saat mendekati pagar pembatas, tetapi ada juga yang terjatuh, harus dibantu tim, bahkan mengalami kerusakan hingga komponen terlepas dan tidak bisa lanjut.
Dalam beberapa kasus, tim terpaksa mengganti baterai secara darurat dan mendinginkan suhu mesin dengan semprotan air. Situasi itu menegaskan bahwa stabilitas sistem dan daya tahan energi masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan robot humanoid.
Dari arena lomba ke kebutuhan industri
Menurut peneliti Departemen Otomasi Universitas Tsinghua, Zhao Mingguo, desain lomba seperti ini memberi ujian penting bagi mobilitas dan kelincahan robot. Ia menilai format tersebut membantu peralihan dari pengujian di laboratorium menuju penerapan di skenario nyata.
Zhao juga menyebut data yang muncul dari lomba bisa dimanfaatkan untuk mempercepat terobosan dalam embodied intelligence dan kontrol gerak. Dengan kata lain, ajang ini tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran teknis bagi pengembangan industri.
Pandangan serupa datang dari tim Robot Era yang menurunkan Xingdong L7, robot humanoid bipedal berukuran penuh generasi terbaru mereka. Tim itu memandang maraton sebagai ruang uji penting untuk mengukur stabilitas robot dalam skenario ekstrem dan di jalan yang kompleks.
Sinyal kuat dari Beijing E-Town
Pemerintah kawasan Beijing E-Town menyebut ajang ini dirancang untuk mendorong riset, memperkuat industri, dan memperluas penerapan robot humanoid. Pejabat setempat juga menegaskan bahwa tahun ini menjadi kali pertama navigasi otonom robot humanoid diterapkan dalam skala besar.
Di luar arena lomba, robot humanoid China memang semakin sering muncul dalam berbagai skenario. Teknologi ini sudah tampil dalam tarian, seni bela diri, dan lari maraton, lalu mulai masuk ke pabrik, toko ritel, pusat layanan lansia, taman, hingga pusat perbelanjaan.
Arah pengembangannya juga mendapat dukungan dari kebijakan tingkat nasional. Laporan kerja pemerintah China menempatkan kecerdasan berwujud sebagai salah satu sektor industri masa depan yang perlu dikembangkan, sementara Garis Besar Rencana Lima Tahun ke-15 menyoroti pemetaan industri masa depan.
Asosiasi Elektronika China bahkan memproyeksikan nilai pasar robot humanoid di China bisa mencapai sekitar 870 miliar yuan pada 2030. Ketua Asosiasi Elektronika China Xu Xiaolan menilai perkembangan ini sudah bergerak dari terobosan teknologi menuju kepemimpinan industri global, dan lomba di Beijing memperlihatkan bahwa proses itu kini benar-benar diuji di jalan raya.





