Di saat banyak mobil baru berlomba membawa Android Auto dan Apple CarPlay, Rivian justru memilih arah yang berlawanan. Pabrikan ini menilai masa depan pengalaman di kabin tidak lagi bergantung pada layar ponsel, melainkan pada AI yang lebih dalam memahami kendaraan.
Sikap itu kembali ditegaskan menjelang peluncuran SUV R2 pada 9 Juni. Kepala perangkat lunak Rivian, Wassym Bensaid, mengatakan bahwa integrasi AI yang semakin kuat pada akhirnya dapat membuat perdebatan soal CarPlay menjadi jauh kurang relevan.
AI menjadi pusat pengalaman di dalam mobil
Rivian tidak sekadar menambah fitur digital biasa. Perusahaan itu menempatkan Rivian Assistant sebagai bagian inti dari pengalaman di mobil, bukan hanya sebagai lapisan antarmuka yang diproyeksikan ke layar tengah.
Asisten ini disiapkan sebagai layanan berlangganan dan diposisikan Rivian sebagai “AI-based digital co-pilot”. Sistemnya sudah tertanam langsung di kendaraan, sehingga bisa bekerja lebih dekat dengan fungsi mobil itu sendiri.
Menurut Bensaid, Rivian Assistant mampu menyesuaikan sejumlah pengaturan dan fitur kendaraan. Sistem ini juga dapat merangkum pesan teks dari ponsel yang sudah dipasangkan, lalu menjawab pertanyaan pemecahan masalah yang spesifik untuk kendaraan pengguna.
Mengapa Rivian tidak mengejar dua platform ponsel populer
Bagi banyak pengemudi, Android Auto dan CarPlay menarik karena memudahkan aplikasi ponsel hadir di mobil tanpa proses rumit. Pengguna juga tidak perlu menunggu produsen mobil membangun dukungan untuk setiap layanan yang sudah familiar di ponsel.
Rivian memilih jalan lain karena ingin mengendalikan pengalaman perangkat lunaknya sendiri. Dengan pendekatan itu, perusahaan punya ruang lebih besar untuk membangun sistem yang lebih paham kendaraan dan kebutuhan penggunanya.
Bensaid mengakui bahwa permintaan terhadap CarPlay dan Android Auto sempat sangat kuat di basis pelanggan Rivian. Ia menyebut survei sebelumnya menunjukkan lebih dari 70 persen pelanggan meminta CarPlay.
Namun angka itu disebut turun tajam pada survei yang lebih baru. Menurut Bensaid, permintaan tersebut kini berada di bawah 25 persen seiring meningkatnya kualitas perangkat lunak buatan Rivian sendiri.
Rivian tetap membuka pintu untuk integrasi tertentu
Meski tidak mengejar Android Auto dan Apple CarPlay, Rivian tidak sepenuhnya menutup akses ke ekosistem lain. Bensaid mengatakan Rivian Assistant nantinya bisa berinteraksi dengan asisten AI lain seperti Gemini.
Lewat integrasi itu, fungsi tertentu di ponsel pengguna dapat dijalankan melalui perintah suara. Arah ini menunjukkan bahwa Rivian ingin AI menjadi penghubung antara kendaraan dan aplikasi pribadi pengguna, bukan sekadar menyalin tampilan ponsel ke layar mobil.
Ketika ditanya soal keunggulan utama yang selama ini sulit digantikan platform ponsel, Bensaid tidak menolak pentingnya akses ke aplikasi. Tetapi ia menilai integrasi antara Rivian Assistant dan Gemini bisa membuat pengemudi tetap dapat mengendalikan aplikasi tertentu hanya dengan suara.
Posisi Rivian di pasar mobil AS
Di pasar Amerika Serikat, Rivian sudah lama dikenal sebagai salah satu produsen mobil yang tidak mengadopsi Android Auto dan CarPlay. Pernyataan terbaru Bensaid menegaskan bahwa posisi itu masih bertahan.
Langkah ini menonjol karena banyak produsen mobil lain masih menganggap dua platform tersebut sebagai fitur yang hampir wajib ada. Bagi sebagian besar pembeli, kehadirannya memudahkan perpindahan dari ponsel ke mobil tanpa harus mempelajari sistem baru.
Rivian memilih mempertahankan pendekatan tertutup karena ingin memegang penuh kendali atas pengalaman perangkat lunak. Strategi itu juga sejalan dengan upaya perusahaan membangun teknologi internal sebagai pembeda, termasuk lewat kerja sama patungan dengan Volkswagen bernama RV Tech.
Dengan arah tersebut, Rivian tampaknya bertaruh bahwa konsumen akan lebih menghargai sistem yang memahami kendaraan secara mendalam. Perusahaan yakin AI yang lebih kontekstual bisa perlahan membuat kebutuhan terhadap Android Auto dan CarPlay berkurang.
Source: www.androidauthority.com




