Rencana NASA membangun pangkalan permanen di Bulan menandai perubahan besar dalam cara manusia tinggal dan bekerja di luar Bumi. Dengan anggaran sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 325 triliun, proyek ini diarahkan bukan sekadar untuk kunjungan singkat, melainkan untuk fondasi kehidupan jangka panjang di permukaan Bulan.
Fasilitas yang disiapkan juga tidak langsung berbentuk kota besar. NASA memulai dari struktur lipat dan modul portabel yang dibawa dari Bumi, lalu merakitnya di lokasi agar bisa tumbuh bertahap menjadi kompleks modular yang lebih luas.
Target bertahap dari pangkalan kecil
Administrator NASA Jared Isaacman menjelaskan bahwa pembangunan ini dibagi ke dalam tiga fase. Tahap awal berlangsung dari sekarang hingga 2029 dan difokuskan pada pengintaian wilayah Kutub Selatan Bulan.
Pada fase pertama itu, NASA menyiapkan hingga 21 misi pendaratan tanpa awak. Robot dan drone helikopter bernama MoonFall akan membantu memetakan cadangan air es serta mencari lokasi yang paling aman untuk pemukiman.
Setelah itu, fase kedua dijadwalkan berlangsung pada 2029 hingga 2032. Di tahap ini, manusia pertama akan dikirim ke Bulan untuk mulai membangun infrastruktur penting, termasuk pembangkit listrik tenaga surya skala besar dan modul hunian awal.
Logistik besar untuk hidup di lingkungan ekstrem
Untuk mendukung tahap kedua, NASA menyiapkan pengiriman 60 ton kargo logistik secara bertahap lewat puluhan penerbangan roket. Kiriman itu disusun untuk menunjang kebutuhan hidup para perintis di lingkungan yang keras dan serba terbatas.
Dr Simeon Barber dari Open University membandingkan rancangan ini dengan stasiun penelitian di Antartika. Menurut dia, hunian di Bulan harus mandiri karena letaknya terisolasi dan seluruh kebutuhan hidup perlu dikelola sendiri.
Namun, tantangan di Bulan jauh lebih berat daripada di wilayah kutub Bumi. Suhu bisa mencapai 100 derajat celsius pada siang hari dan turun hingga -100 derajat celsius pada malam hari.
Di luar suhu ekstrem, ada ancaman radiasi kosmik, hujan mikrometeorit, dan debu Bulan atau regolit. Karena itu, desain pangkalan harus mampu melindungi penghuni dari banyak risiko sekaligus.
Hunian ringan yang ditimbun regolit
Profesor Mahesh Anand, ahli permukaan Bulan, mengusulkan penggunaan tenda tiup mandiri atau inflatable tent. Struktur ini dianggap cocok karena ringan saat dilipat, tetapi kuat ketika mengembang di permukaan Bulan.
Setelah dipasang, tenda itu akan ditimbun dengan tanah gembur Bulan atau regolit. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung alami dari meteorit dan bahaya lain di permukaan Bulan.
Energi, bahan lokal, dan kota modular
Perubahan besar diperkirakan muncul pada 2029 saat NASA mengintegrasikan reaktor nuklir mini berdaya 40 kilowatt ke sistem kelistrikan pangkalan. Reaktor itu akan dibawa dari Bumi dalam keadaan nonaktif dan dihidupkan otomatis setelah tiba di lokasi.
Demi keselamatan, reaktor akan ditanam jauh di dalam tanah atau ditempatkan beberapa mil dari zona hunian utama. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi risiko kebocoran radiasi sekaligus menjaga pasokan listrik tetap stabil.
Dukungan energi yang stabil dari reaktor nuklir akan membuka peluang untuk ekstraksi material lokal atau in-situ extraction. NASA juga sedang mematangkan teknologi robotik yang bisa melelehkan debu Bulan dengan sinar laser, lalu mencetak batu bata superkuat seperti printer 3D raksasa.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pangkalan itu akan berkembang menjadi wilayah yang tersebar luas. Area hunian, zona industri tambang, dan laboratorium sains akan dipisahkan di berbagai titik, membentuk tata kota luar angkasa yang semakin kompleks dan mandiri.
Pada tahap operasional penuh, pangkalan Bulan tidak lagi diposisikan sebagai tempat singgah singkat. Jadwal rotasi kru, ruang olahraga untuk menjaga tulang dari efek gravitasi rendah, dan area rekreasi untuk kesehatan mental akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sana.
Source: www.beritasatu.com