Bagi Akuatik Indonesia, penguatan prestasi tidak cukup hanya mengejar hasil di arena. Federasi ini juga ingin renang kembali hadir di sekolah agar kebiasaan berenang tumbuh sejak dini dan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dorongan itu datang bersamaan dengan peta jalan pembinaan yang diarahkan ke Olimpiade 2032 dan visi Indonesia Emas 2045. Dengan cara pandang tersebut, renang diposisikan bukan sekadar cabang medali, tetapi juga keterampilan dasar yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan.
Ketua Harian Federasi Akuatik Indonesia, Harlin Rahardjo, menegaskan bahwa prestasi internasional tidak lahir secara instan. Ia menilai pembinaan harus dimulai sejak anak-anak dan dijalankan secara berkelanjutan melalui Long Term Athlete Development atau LTAD.
Pandangan itu disampaikan Harlin saat peluncuran Indonesia Short Course Emerging Series atau ISCES di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, Senin 11 Mei 2026. Ajang ini melibatkan peserta usia 11 tahun ke bawah dan dipandang sebagai bagian dari jalur pembinaan jangka panjang.
Sekolah sebagai pintu awal
Harlin berharap renang bisa kembali diajarkan di sekolah seperti pada era 1980-an dan 1990-an. Gagasan itu ia sampaikan di hadapan Ketua Umum KONI, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, sebagai cara memperluas akses masyarakat terhadap renang.
Menurut Harlin, sekolah dapat menjadi titik awal paling efektif untuk membangun budaya berenang. Selain menyehatkan, kemampuan ini juga dinilai penting sebagai survival skill bagi masyarakat Indonesia.
“Kita berharap renang ini bisa masuk lagi ke kurikulum sekolah. Paling tidak, kita ingin menyehatkan masyarakat Indonesia, dan ujung-ujungnya bisa menjadi prestasi,” kata Harlin.
Target yang disusun bertahap
Fokus pembinaan Akuatik Indonesia tidak berhenti pada level dasar. Federasi telah menyiapkan roadmap yang mengarah ke Olimpiade 2032 dan Indonesia Emas 2045, dengan target yang tidak hanya menyasar SEA Games.
Dalam peta jalan itu, Akuatik Indonesia ingin menembus final Olimpiade 2032. Untuk sampai ke sana, pembinaan dasar, kompetisi usia dini, dan penguatan atlet elite harus berjalan bersamaan.
Harlin menilai jalur prestasi nasional hanya bisa stabil jika regenerasi berlangsung tanpa putus. Karena itu, bakat-bakat muda perlu diberi ruang berkembang secara konsisten sampai mencapai level elite.
Nilai strategis cabang akuatik
Akuatik Indonesia juga melihat cabang ini punya peluang besar dari sisi perolehan medali. Nomor renang saja memperebutkan lebih dari 40 medali emas, belum termasuk loncat indah, polo air, open water swimming, dan artistic swimming.
Potensi tersebut membuat akuatik dinilai layak mendapat perhatian lebih besar dalam pembinaan nasional. Jika penguatan dilakukan sejak dasar, kualitas atlet di masa depan diharapkan ikut naik dan daya saing Indonesia pada ajang multi-event internasional juga makin besar.
ISCES kemudian ditempatkan sebagai ruang pembinaan untuk mendorong regenerasi atlet renang muda. Kompetisi ini diharapkan memberi pengalaman tanding bagi kelompok umur sekaligus memperkuat jalur dari pembinaan sekolah menuju prestasi.
Dengan menempatkan usia dini sebagai titik awal, Akuatik Indonesia ingin budaya berenang tidak berhenti pada wacana. Federasi berharap kebiasaan itu tumbuh dari sekolah, berlanjut ke pembinaan yang terstruktur, lalu menjadi fondasi lahirnya atlet yang lebih siap bersaing di level yang lebih tinggi.
Source: www.viva.co.id