Porprov Jateng XVII diposisikan bukan sekadar agenda pertandingan, tetapi juga ajang kerja bersama yang menuntut dukungan banyak pihak. Karena cakupannya besar dan peserta yang terlibat juga banyak, penyelenggaraan event ini dinilai tidak mungkin ditangani sendirian oleh satu institusi saja.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan hal itu saat memimpin rapat koordinasi Panitia Besar Porprov Jateng XVII mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah, Kota Semarang. Ia menilai keberhasilan Porprov hanya bisa dicapai jika pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pengurus cabang olahraga, dan dunia usaha bergerak dalam satu irama sejak persiapan sampai pelaksanaan.
Kolaborasi jadi kunci utama
Sebagai Ketua Umum Panitia Besar Porprov Jateng 2026, Taj Yasin meminta semua unsur menjaga kebersamaan agar penyelenggaraan berjalan lancar. Ia menekankan bahwa peran masing-masing pihak saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Menurutnya, keterlibatan pihak non-pemerintah juga perlu diperkuat, bukan sekadar menjadi dukungan simbolis. Partisipasi yang sudah ada diharapkan berkembang menjadi dukungan yang lebih luas supaya kerja panitia di lapangan lebih tertata dan terkoordinasi.
Taj Yasin menyampaikan penegasan bahwa penyelenggaraan event sebesar Porprov tidak bisa mengandalkan kerja sepihak. “Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kebersamaan dan kolaborasi dari semua pihak agar pelaksanaan Porprov ini bisa berjalan optimal,” ujarnya.
Tantangan efisiensi tidak mengurangi semangat
Porprov kali ini memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam situasi efisiensi. Meski begitu, Taj Yasin menilai semangat untuk menyukseskan ajang olahraga tingkat provinsi itu tetap harus dijaga, terutama karena penyelenggaraannya melibatkan banyak daerah dan kebutuhan teknis yang tidak sedikit.
Rapat koordinasi tersebut juga menunjukkan bahwa Porprov dipahami sebagai momentum bersama untuk membuktikan kemampuan Jawa Tengah menggelar event olahraga secara tertib. Dengan skala seperti itu, koordinasi antarpihak menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Selain urusan teknis pertandingan, kebutuhan logistik dan pengaturan lapangan juga menjadi perhatian. Porprov bukan hanya soal perebutan medali, tetapi juga soal kesiapan sistem penyelenggaraan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan efektif.
Atlet tetap menjadi perhatian setelah pertandingan selesai
Di luar persiapan acara, Pemprov Jawa Tengah juga memberi perhatian pada pembinaan atlet setelah kompetisi berakhir. Taj Yasin menilai Porprov harus mampu melahirkan atlet berprestasi yang disiplin dan memiliki komitmen kuat untuk membawa nama Jawa Tengah ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia juga mendorong koordinasi yang lebih erat dengan kabupaten/kota agar atlet yang berprestasi mendapat peluang yang lebih baik untuk masa depan mereka. Dalam pandangan Pemprov Jateng, para atlet adalah aset daerah yang perlu dijaga tidak hanya saat bertanding, tetapi juga setelah ajang selesai.
Cara pandang itu membuat Porprov tidak berhenti sebagai turnamen semata. Ajang ini ditempatkan sebagai bagian dari rantai pembinaan olahraga daerah yang diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi perkembangan atlet.
Skema pendanaan dan ruang partisipasi
Ketua KONI Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko menjelaskan bahwa pembiayaan Porprov bersumber dari dua jalur utama, yaitu APBD Provinsi Jawa Tengah dan sumber dana lain yang sah serta tidak mengikat. Skema itu membuka ruang bagi kontribusi pihak lain yang ingin ikut menyukseskan penyelenggaraan.
Sujarwanto menyebut partisipasi tersebut juga dapat menjadi sarana promosi bagi dunia usaha. Dengan ikut mendukung Porprov, unsur lain yang terlibat dapat memperkenalkan produk dan kegiatan usahanya secara bersamaan.
Ia juga mendorong pembentukan tim-tim teknis penyelenggaraan yang melibatkan instansi terkait. Langkah ini dinilai penting agar setiap aspek pelaksanaan bergerak lebih rapi dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Penyelenggaraan melibatkan banyak daerah
Porprov XVII Jateng dijadwalkan berlangsung pada 25–31 Oktober 2026 di kawasan Semarang Raya. Wilayah penyelenggaraannya meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Salatiga, Grobogan, dan Demak, sementara beberapa cabang olahraga juga akan digelar di Blora.
Ajang empat tahunan ini akan mempertandingkan 59 cabang olahraga dengan 830 nomor pertandingan. Secara keseluruhan, sekitar 10.528 atlet dan pelatih diperkirakan terlibat, sehingga kebutuhan koordinasi yang rapi menjadi semakin penting.
Dengan skala sebesar itu, Porprov Jateng 2026 diharapkan tidak hanya sukses sebagai penyelenggaraan olahraga. Jawa Tengah juga menargetkan lahirnya atlet unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Source: jatengpos.co.id