Banyak orang masih menempatkan gula berlebih sebagai masalah yang sebatas membuat berat badan naik. Padahal, beban dari gula tambahan juga bisa merembet ke kesehatan pembuluh darah dan membuat jantung ikut tertekan tanpa disadari.
Risiko itu muncul terutama dari gula tambahan yang banyak ditemukan dalam makanan dan minuman olahan. Jenis gula ini masuk ke tubuh sebagai kalori, tetapi tidak membawa gizi yang sebanding, sehingga dampaknya berbeda dari sumber manis alami.
Gula yang tidak bekerja seperti yang sering dibayangkan
Gula tidak selalu identik dengan ancaman bagi tubuh. Gula alami yang ada pada buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk susu diproses lebih perlahan oleh tubuh menjadi energi.
Berbeda dengan itu, gula tambahan pada minuman kemasan, makanan instan, dan produk olahan hanya menambah asupan energi tanpa menyumbang serat, vitamin, atau mineral. Karena itulah, jenis gula ini sering disebut memberi kalori kosong.
Mengapa rasa kenyang cepat hilang
Kalori kosong dari gula tambahan memang bisa memberi dorongan energi dalam waktu singkat. Namun, rasa kenyang yang muncul biasanya tidak bertahan lama, sehingga keinginan untuk makan lagi datang lebih cepat.
Kondisi ini membuat asupan kalori harian mudah berlebihan, terutama bila kebiasaan mengonsumsi makanan manis berlangsung terus-menerus. Dalam situasi seperti ini, pola makan sehat bisa ikut terganggu karena tubuh lebih sering menerima energi dari sumber yang miskin zat gizi.
Dr. Frank Hu dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menegaskan bahwa banyak orang sudah memahami kaitan gula dengan obesitas dan diabetes. Namun, menurutnya, dampak gula terhadap jantung sering belum disadari sebagai ancaman yang lebih serius.
Saat kebiasaan makan mulai bergeser
Jika gula tambahan masuk terlalu sering, keseimbangan gizi dalam pola makan bisa berubah. Makanan bernutrisi yang sudah dikonsumsi sebelumnya dapat kehilangan perannya ketika tubuh terus dibanjiri kalori dari sumber manis yang tidak memberi dukungan nutrisi yang memadai.
Bila kondisi ini terus terjadi, tubuh bisa terbiasa mendapatkan energi dari makanan yang tidak membantu metabolisme jangka panjang. Pada titik ini, kebiasaan makan menjadi lebih sulit dikendalikan karena dorongan untuk mencari rasa manis terus dipenuhi.
Jantung ikut menerima beban
Dampak gula berlebih tidak selalu langsung terasa. Masalahnya sering muncul perlahan ketika konsumsi gula tambahan sudah menjadi bagian dari rutinitas harian.
Harvard Health Publishing menyebut asupan gula yang terlalu tinggi dapat memicu penyakit kardiovaskular yang membahayakan jantung. Artinya, persoalan gula melampaui urusan berat badan atau diabetes, karena pembuluh darah dan kerja jantung juga bisa ikut terdampak.
Pilihan manis yang lebih aman bagi tubuh
Rasa manis sebenarnya masih dapat diperoleh dari sumber yang lebih baik. Buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk susu tetap bisa memberi rasa manis alami yang diproses tubuh secara bertahap.
Membiasakan diri memilih buah utuh dibanding sereal manis atau minuman kemasan dapat membantu tubuh menerima rasa manis dengan risiko yang lebih rendah. Langkah sederhana ini juga mendukung pola makan yang lebih seimbang dalam jangka panjang.
Konsumsi makanan alami tersebut turut dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes, jantung, dan kanker. Karena itu, sumber rasa manis sebaiknya dipilih bukan hanya berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan nilai gizi dan dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.
Source: www.beautynesia.id