Dorongan balas dendam Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel kini naik kelas dari sekadar retorika menjadi pembahasan politik yang sangat keras. Di parlemen Iran, muncul rancangan yang disebut membuka hadiah besar bagi siapa pun yang bisa membunuh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Nilai hadiahnya disebut mencapai 50 juta euro atau sekitar Rp1,02 triliun. Angka itu membuat isu tersebut langsung menyita perhatian karena menyasar dua tokoh paling berpengaruh di Washington dan Tel Aviv.
Rancangan yang dibahas di parlemen
Informasi mengenai rancangan itu pertama kali mencuat lewat Iran Wire dan The Telegraph UK, lalu dikutip NDTV. Dalam laporan itu, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran, Ebrahim Azizi, disebut mengatakan bahwa parlemen tengah menyiapkan aturan berjudul “Counter Action by the Military and Security Forces of the Islamic Republic”.
Rancangan tersebut dikaitkan dengan pemberian hadiah kepada pihak yang berhasil membunuh Trump dan Netanyahu. Azizi juga menyebut nama Komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, sebagai salah satu target serangan balasan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembahasan balasan Iran tidak berhenti pada satu nama. Isunya melebar ke tokoh-tokoh penting dari Amerika Serikat dan Israel yang dianggap berada dalam pusaran konflik yang lebih luas.
Suasana politik yang makin keras
NDTV melaporkan parlemen Iran dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait rancangan undang-undang tersebut. Pembahasan itu juga dikaitkan dengan serangan gabungan AS-Israel ke Tehran yang disebut terjadi akhir Februari dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah situasi itu, anggota komisi keamanan nasional Iran, Mahmoud Nabavian, juga disebut mendukung langkah tersebut. Ia menyatakan parlemen akan segera melakukan voting terkait hadiah bagi siapa pun yang bisa “mengirim Trump dan Netanyahu ke neraka”.
Nada seperti itu menunjukkan bahwa isu balas dendam sudah masuk ke level institusional. Ketika wacana dibahas di parlemen, pesan politik yang muncul menjadi jauh lebih tajam dan terstruktur.
Bukan satu-satunya klaim hadiah besar
Sebelum kabar Rp1 triliun ini, sudah ada klaim lain soal dana untuk memburu Trump. Media pro-pemerintah Iran, Masaf, disebut mengklaim rezim Iran telah menyiapkan sekitar 50 juta dolar atau setara Rp880 miliar untuk kampanye bertajuk “Kill Trump”.
Kelompok perang siber Iran yang didukung negara, Handala, juga menyampaikan hal serupa. Kelompok itu menyebut telah mengalokasikan dana sekitar 5 juta dolar AS atau setara Rp880 miliar untuk menghabisi pihak yang mereka sebut sebagai dalang utama penindasan dan korupsi, yakni Trump dan Netanyahu.
Pernyataan Handala itu disebut sebagai respons atas tawaran hadiah sekitar 10 juta dolar AS atau setara Rp176 miliar dari Departemen Kehakiman AS. Hadiah tersebut diberikan bagi siapa saja yang memberi informasi terkait anggota kelompok itu.
Eskalasi yang bergeser ke ancaman terbuka
Rangkaian klaim, balasan dana, dan dukungan politik itu memperlihatkan konflik verbal antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus bergerak di ranah propaganda dan keamanan. Di saat yang sama, pembahasan hadiah besar untuk menyerang pemimpin negara membuat eskalasi yang terjadi terlihat semakin terbuka.
Sorotan internasional pun menguat karena isu ini tidak hanya menyentuh simbol politik. Wacana yang dibahas langsung mengarah pada figur utama dari dua negara yang selama ini berada di pusat ketegangan dengan Iran.
Source: www.viva.co.id




