Rambut Jagung Disulap Jadi Pelindung Kulit Anak, Sunscreen UB Masuk Tahap Produksi Massal

Produk perawatan kulit anak tak selalu harus berbasis bahan impor atau formula yang rumit. Di Universitas Brawijaya, rambut jagung yang selama ini dianggap limbah justru diolah menjadi bahan utama sunscreen anak bernama Hi-To-Go Sun Protector.

Inovasi ini dirancang untuk membantu melindungi kulit anak yang sensitif dari paparan sinar matahari dan sinar ultraviolet. Produk tersebut juga sudah masuk ke tahap produksi massal lewat kerja sama dengan PT Cedefindo, sehingga peluang hadir di pasar menjadi semakin terbuka.

Berangkat dari limbah pertanian

Gagasan utama produk ini muncul dari upaya mengubah limbah pertanian menjadi bahan yang punya nilai lebih. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, menilai rambut jagung yang kerap tersisa setelah panen masih menyimpan potensi besar jika diolah melalui riset yang tepat.

Rosalina menjelaskan bahwa pendekatan ini membuat bahan yang semula terbuang bisa naik kelas menjadi produk bernilai tinggi. “Inovasi ini menjadi terobosan dalam pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tinggi dan ramah lingkungan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan ini tidak hanya berorientasi pada produk baru. Riset yang dijalankan sekaligus membuka ruang untuk mengkaji kandungan bahan aktif lokal agar manfaatnya bisa lebih luas dalam industri perawatan diri.

Formulasi yang disesuaikan untuk anak

Hi-To-Go Sun Protector merupakan bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri untuk anak usia 4–14 tahun hasil kolaborasi Universitas Brawijaya dengan PT Cedefindo di bawah Martha Tilaar Group. Kehadiran produk ini menunjukkan bahwa riset kampus dapat diarahkan ke kebutuhan harian anak dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Formulasinya memadukan ekstrak rambut jagung atau zea mays silk extract dengan bahan alami lain, termasuk minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Dari formulasi tersebut, lahirlah sunscreen dengan SPF 50 PA++ yang ditujukan untuk membantu melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB sekaligus menjaga kelembapan kulit.

Bentuk spray membuat produk ini lebih praktis digunakan, terutama untuk anak-anak yang aktif bergerak. Aroma lavender dari bahan alami juga memberi sensasi nyaman saat dipakai, sementara formulanya disebut dirancang agar aman untuk kulit anak yang sensitif.

Masuk jalur produksi massal

Setelah dikembangkan melalui riset, sunscreen berbasis rambut jagung ini kini tidak berhenti di tahap laboratorium. Produk tersebut telah masuk proses produksi massal bersama PT Cedefindo, sehingga hilirisasi riset kampus ke industri berjalan lebih nyata.

Dalam proses produksinya, bahan baku rambut jagung diperoleh dari petani, terutama di wilayah Pulau Jawa. Skema ini memperlihatkan bagaimana hasil riset bisa dihubungkan langsung dengan rantai pasok industri sekaligus memberi nilai tambah pada sisa produksi yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Model kerja sama seperti ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian secara lebih luas. Bukan hanya karena bahan bakunya berasal dari sisa hasil panen, tetapi juga karena produk akhirnya memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Potensi bahan lokal tidak berhenti di sunscreen

Rosalina, yang akrab disapa Oca, menyampaikan bahwa kajian terhadap bahan aktif lokal masih terus berlanjut. Menurutnya, sejumlah bahan pangan lokal lain juga memiliki potensi anti-UV dan dapat dikembangkan untuk kebutuhan perawatan diri di masa depan.

“Pada dasarnya, banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa dikembangkan lebih luas,” ungkapnya. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pengembangan bahan lokal masih menyimpan ruang besar untuk inovasi berbasis alam.

Selain itu, rambut jagung sendiri juga disebut masih memiliki peluang penelitian lanjutan. Potensinya tidak hanya sebatas untuk produk perawatan kulit, tetapi juga untuk minuman herbal hingga kemungkinan sebagai bahan yang berkaitan dengan anti kanker, meski semua itu masih berada dalam tahap riset dan belum menjadi produk komersial.

Melalui Hi-To-Go Sun Protector, Universitas Brawijaya menunjukkan bagaimana penelitian akademik bisa bergerak menuju produk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Inovasi ini sekaligus menegaskan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi solusi perawatan diri yang bernilai, relevan, dan berkelanjutan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version