Di antara kota-kota besar Maroko, Rabat justru menonjol karena ketenangannya. Ibu kota ini tidak tampil dengan hiruk-pikuk yang biasanya melekat pada kota metropolitan, melainkan dengan ritme yang lebih tertata, ruang terbuka yang luas, dan suasana yang terasa rapi di tepi Samudra Atlantik.
Karakter itu membuat Rabat sering dipandang sebagai wajah Maroko yang berbeda. Kota ini tetap menjadi pusat pemerintahan modern, tetapi pada saat yang sama masih menjaga jejak sejarah yang kuat, sehingga kesan modern dan kuno berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
Kota besar yang bergerak lebih teratur
Salah satu tanda paling jelas dari arah pembangunan Rabat terlihat pada sistem trem Rabat–Salé. Layanan ini mulai beroperasi pada 2011 dan dirancang untuk membantu mengurangi kemacetan sekaligus menghubungkan dua kota yang dipisahkan Sungai Bouregreg.
Jalur trem itu melintas ke titik-titik penting seperti pusat pemerintahan, universitas, dan rumah sakit. Dengan lintasan sepanjang puluhan kilometer, transportasi ini mampu melayani hingga 170 ribu penumpang per hari.
Keberadaan trem juga menunjukkan bagaimana Rabat mengarah pada mobilitas yang lebih ramah lingkungan. Di saat yang sama, tata kota terasa lebih tertib dan aktivitas warga menjadi lebih mudah dijalankan.
Hijau di tengah karakter ibu kota
Selain tertata, Rabat juga dikenal sebagai salah satu kota paling hijau di Maroko. Kota ini memiliki lebih dari 230 hektar taman dan hutan kota, yang membuat suasananya terasa lebih sejuk di tengah iklim Afrika Utara.
Hutan Ibn Sina dan Jardin d’Essais menjadi dua ruang hijau yang paling menonjol. Di sana tumbuh berbagai tanaman eksotis yang memperkuat citra Rabat sebagai kota dengan lingkungan yang terjaga.
Nuansa asri itu tidak hanya muncul di ruang terbuka modern. Di kawasan bersejarah pun, kesan hijau tetap terasa kuat lewat taman bergaya Andalusia di Kasbah des Oudayas dan vegetasi rindang di situs arkeologi Chellah, yang juga menjadi habitat burung bangau.
Warisan yang tetap menyatu dengan kota
Rabat mendapat pengakuan penting ketika resmi masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2012. Status itu diberikan karena kota ini berhasil mempertahankan perpaduan antara warisan sejarah Islam dan perkembangan kota modern dari masa protektorat Prancis di awal abad ke-20.
UNESCO menilai kawasan bersejarah Rabat masih terjaga dengan baik. Medina, benteng kuno, dan peninggalan masa kekhalifahan Almohad tetap menjadi bagian penting dari wajah kota hingga kini.
Kondisi itu membuat Rabat memiliki identitas yang khas dibanding banyak kota besar lain di Maroko. Kota ini berkembang tanpa memutus hubungan dengan lapisan sejarah yang membentuknya sejak lama.
Menara yang menjadi penanda Rabat
Di antara banyak peninggalan yang ada, Menara Hassan menjadi salah satu simbol paling dikenal. Pembangunannya dimulai pada akhir abad ke-12 pada masa Sultan Yacoub El Mansour dari Dinasti Almohad.
Menara itu awalnya dirancang sebagai bagian dari masjid terbesar di dunia pada masanya. Namun pekerjaan terhenti setelah sang sultan wafat, sehingga bangunan tersebut tidak pernah selesai.
Meski begitu, Menara Hassan tetap berdiri sebagai ikon penting Maroko. Tingginya sekitar 44 meter dan dikelilingi sisa-sisa tiang masjid yang memperlihatkan besarnya rencana awal pembangunan.
Jejak banyak budaya dalam satu kota
Rabat juga memperlihatkan percampuran budaya Arab, Andalusia, dan Prancis dalam banyak lapisan kotanya. Jejak itu tampak pada arsitektur bangunan, tata ruang, hingga suasana di berbagai kawasan.
Kota tua bernuansa Arab-Muslim berdampingan dengan kawasan modern bergaya Ville Nouvelle peninggalan Prancis. Di sisi lain, pengaruh Andalusia terlihat pada medina dan desain taman-taman kota, sedangkan jalan-jalan lebar serta tata kota yang rapi menunjukkan pengaruh perencanaan urban Prancis.
Tembok pertahanan peninggalan Dinasti Almohad menegaskan jejak Arab-Muslim yang masih kuat. Dari perpaduan itulah Rabat tampil sebagai ibu kota yang tidak hanya modern dan tertata, tetapi juga membawa warisan sejarah dan budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan kota.
Source: www.idntimes.com