Perbaikan puskesmas kini jadi salah satu ujian paling nyata dari dana yang berhasil diselamatkan negara. Di tengah sorotan atas Rp10,27 triliun dari denda administratif dan penguasaan kembali kawasan hutan, Prabowo Subianto mengarahkannya ke layanan kesehatan dasar yang selama ini banyak tertinggal.
Fokus itu langsung menyentuh kebutuhan yang paling dekat dengan warga. Ia menyebut dana tersebut dapat dipakai untuk memperbaiki sekitar 5.000 puskesmas yang disebut belum direnovasi serius selama puluhan tahun.
Beban layanan dasar yang lama menumpuk
Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 10.000 puskesmas yang banyak dibangun sejak era Orde Baru. Dari jumlah itu, ribuan fasilitas disebut belum pernah diperbaiki secara serius, padahal kebutuhan renovasi sudah sangat mendesak.
Dengan kebutuhan sekitar Rp2 miliar untuk satu puskesmas, total biaya pembenahan nasional diperkirakan mencapai Rp20 triliun. Hitungan ini menunjukkan bahwa dana Rp10,27 triliun memang belum menutup seluruh kebutuhan, tetapi sudah mampu membiayai sekitar separuh dari kebutuhan renovasi yang disebutkan.
Kondisi itu membuat pembenahan puskesmas tidak bisa bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Jika ingin pemerataan benar-benar terjadi, pemerintah tetap perlu menyiapkan pembiayaan lanjutan agar perbaikan tidak berhenti di tengah jalan.
Masalahnya bukan hanya bangunan
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah puskesmas di Indonesia sudah melampaui 10.000 unit. Namun, sebarannya belum merata dan ketimpangan masih terlihat jelas antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
Di banyak daerah 3T, jarak menuju puskesmas masih jauh dan mahal bagi warga. Situasi ini membuat akses layanan kesehatan dasar tetap sulit, terutama ketika satu kecamatan hanya memiliki satu puskesmas untuk melayani banyak desa.
Trubus Rahardiansah dari Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia menilai renovasi fisik saja tidak cukup. Menurut dia, reformasi puskesmas harus menyentuh tata kelola, kualitas layanan, dan distribusi fasilitas yang lebih dekat ke masyarakat.
Tenaga kesehatan masih jadi titik lemah
Selain kondisi gedung, masalah lain yang menahan kualitas layanan adalah ketersediaan tenaga medis. Distribusi dokter masih terkonsentrasi di kota besar, sedangkan daerah terpencil kerap kekurangan tenaga dasar untuk layanan primer.
Trubus juga menyoroti perlunya dokter spesialis hadir lebih dekat ke layanan primer, meski kebutuhan itu belum terpenuhi di banyak tempat. Karena itu, renovasi puskesmas akan kurang berarti bila tidak dibarengi penguatan sumber daya manusia kesehatan.
Jumlah Puskesmas 2020—2024
2020: 10.205 unit, terdiri dari 4.119 puskesmas rawat inap dan 6.086 non rawat inap.
2021: 10.292 unit, terdiri dari 4.201 rawat inap dan 6.091 non rawat inap.
2022: 10.374 unit, terdiri dari 4.302 rawat inap dan 6.072 non rawat inap.
2023: 10.180 unit, terdiri dari 4.210 rawat inap dan 5.970 non rawat inap.
2024: 10.268 unit, terdiri dari 4.252 rawat inap dan 6.016 non rawat inap.
Dampak ekonomi bisa meluas
Yusuf Rendy Manilet dari CORE menilai investasi di layanan kesehatan primer punya efek ekonomi yang besar dalam jangka panjang. Layanan yang kuat bisa menekan biaya pengobatan, memperbaiki produktivitas, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia menyebut ada tiga dampak utama jika puskesmas diperkuat. Pertama, biaya kesehatan jangka panjang bisa turun karena diabetes, hipertensi, tuberkulosis, serta masalah kesehatan ibu dan anak dapat ditangani lebih awal di tingkat puskesmas.
Kedua, layanan primer yang lebih kuat berpotensi membantu menekan stunting. Saat ini prevalensi stunting Indonesia masih berada di kisaran 21,5%, dan Bank Dunia sebelumnya memperkirakan kerugian ekonominya bisa mencapai 2% sampai 3% dari produk domestik bruto setiap tahun.
Ketiga, layanan kesehatan yang lebih dekat dan lebih baik dapat mengurangi risiko keluarga jatuh miskin akibat biaya pengobatan. Dalam kerangka itu, puskesmas bukan hanya tempat berobat, tetapi juga benteng pencegahan agar penyakit tidak berubah menjadi beban ekonomi yang lebih besar.
Pembenahan harus berlanjut setelah renovasi
Meski renovasi besar-besaran terdengar menjanjikan, kebutuhan setelah bangunan diperbaiki tetap tidak kecil. Puskesmas yang sudah direnovasi masih memerlukan anggaran rutin untuk perawatan, alat kesehatan, listrik, obat-obatan, dan sistem digital kesehatan.
Yusuf menilai tantangan layanan primer tidak berhenti pada fisik bangunan. Ketersediaan dokter, alat diagnostik, obat, dan sistem rujukan sama pentingnya agar puskesmas tidak sekadar terlihat lebih modern dari luar.
Di sisi lain, puskesmas tetap memegang peran strategis sebagai layanan awal untuk edukasi kesehatan, vaksinasi, skrining penyakit, pemantauan gizi balita, kesehatan ibu hamil, dan pengendalian penyakit menular. Jika dana Rp10,27 triliun benar-benar masuk ke sektor ini, perhatian berikutnya adalah memastikan kualitas layanan ikut naik, bukan hanya tampilan gedungnya.
Source: lifestyle.bisnis.com