Bengkel konversi motor listrik dinilai tidak akan bertahan lama jika hanya mengejar pemasangan kit. Yang membuat usaha ini hidup justru layanan setelah motor bensin berubah menjadi motor listrik, karena dari sanalah kebutuhan servis, perawatan, dan penggantian komponen terus muncul.
Pandangan itu menguat di tengah kembali bergulirnya wacana konversi motor listrik dengan target 120 juta unit. Di lapangan, minat masyarakat belum bergerak signifikan meski insentif sudah beberapa kali digelontorkan dan berbagai program gratis sempat dicoba.
Purnajual menjadi sumber napas usaha
Pengamat otomotif nasional Bebin Djuana menilai bisnis konversi harus bertumpu pada ekosistem yang sehat. Menurut dia, bengkel swasta dan UMKM baru bisa memperoleh pemasukan berkelanjutan jika populasi motor listrik hasil konversi tumbuh secara alami.
Bebin melihat nilai ekonomi konversi tidak berhenti saat proses modifikasi selesai. Motor hasil konversi masih membutuhkan perawatan rutin, dukungan teknis, dan penggantian komponen agar tetap berjalan.
Karena itu, bengkel tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan sekali dari pemasangan kit. Servis dan pemeliharaan setelahnya justru lebih penting untuk menjaga usaha tetap bergerak.
Pasar hidup dinilai lebih realistis
Bebin menilai model yang paling masuk akal adalah membuat konversi berjalan sebagai pasar yang hidup. Ia menganggap pendekatan yang terlalu kaku sebagai proyek pemerintah justru kurang cocok untuk menopang usaha jangka panjang.
Dalam pandangannya, bengkel lokal akan tumbuh jika jumlah motor konversi cukup banyak dan dipakai dalam waktu lama. Jika populasi kendaraan hasil konversi tidak terbentuk sehat, bengkel akan kesulitan bertahan hanya dari pemasangan awal.
Ia juga menegaskan bahwa bengkel yang mengerjakan konversi tetap dapat memperoleh penghasilan setelah proses selesai. Pola itu dinilai lebih masuk akal ketimbang mengejar volume proyek semata.
Target besar belum sejalan dengan minat di lapangan
Pemerintah sebelumnya sudah berupaya mendorong program konversi motor listrik. Pada Maret 2023, subsidi Rp 7 juta diberikan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2023.
Karena peminat masih sepi, nilai subsidi kemudian dinaikkan menjadi Rp 10 juta per unit pada Desember 2023. Meski begitu, minat masyarakat untuk mengonversi motor bensin tetap belum ramai.
Sejumlah program konversi gratis juga sempat diluncurkan untuk menarik pasar. Namun, langkah tersebut belum mampu menggerakkan masyarakat secara luas masuk ke skema konversi.
Kepastian usaha masih menjadi persoalan
Bebin meragukan target konversi 120 juta kendaraan bila dijalankan sebagai proyek pemerintah yang dikerjakan bengkel swasta. Ia menilai mekanisme pendanaan dan birokrasi kerap menjadi hambatan utama dalam program nasional yang dipusatkan.
Menurut dia, banyak pelaku usaha akan berhitung ketat jika skema proyek tidak memberi kepastian pembayaran. Bengkel dan UMKM sangat bergantung pada kelancaran arus kas, sehingga pencairan yang terlambat dapat membuat mereka memilih menjauh.
Karena itu, peran pemerintah dinilai lebih tepat sebagai regulator dan fasilitator. Fokus kebijakan seharusnya diarahkan untuk membangun ekosistem, bukan hanya menyalurkan proyek dengan mekanisme yang rumit.
Harga komponen dan standar teknis ikut menentukan
Selain urusan skema usaha, Bebin menilai biaya komponen juga perlu ditekan. Ia menyebut komponen konversi sebaiknya tidak dibebani berbagai pajak agar harga motor hasil konversi lebih terjangkau.
Menurut dia, insentif di sektor hulu akan lebih efektif dibanding subsidi yang prosesnya rumit secara birokratis. Jika baterai, controller, dan motor penggerak atau kit konversi mendapat pembebasan pajak, harga di tingkat konsumen bisa turun dengan sendirinya.
Ia juga menekankan pentingnya standardisasi komponen. Kepastian standar akan membuat masyarakat lebih tenang saat harus mengganti suku cadang di kemudian hari, sekaligus memudahkan bengkel dalam melakukan servis dan perawatan.
Dengan komponen yang jelas dan seragam, jaringan bengkel yang lebih luas akan lebih mudah menangani perbaikan. Di titik inilah pasar purnajual menjadi penentu utama, karena masa depan bengkel konversi motor listrik tidak hanya bergantung pada jumlah kit yang terpasang, tetapi pada keberlanjutan layanan setelah kendaraan kembali digunakan.
Source: otomotif.kompas.com