Purnajual Harley-Davidson Menguat 120 Persen, Penjualan Unit Masih Tertekan Menuju 2026

Kinerja Harley-Davidson di Indonesia menunjukkan arah yang kontras antara penjualan unit dan layanan pendukung. Saat unit baru mengalami koreksi sepanjang 2025, bisnis purnajual justru mencatat lonjakan yang jauh lebih kuat dan menjadi penopang utama aktivitas perusahaan.

PT JLM Auto Indonesia melihat pergeseran ini sebagai cerminan kondisi pasar motor premium yang masih belum sepenuhnya pulih. Di satu sisi, pembelian unit baru ikut tertekan oleh faktor makro dan ketidakpastian global. Di sisi lain, pemilik motor yang sudah ada tetap aktif merawat kendaraannya dan membeli produk pendukung resmi.

Purnajual jadi titik terang

Lonjakan paling mencolok datang dari layanan servis dan penjualan suku cadang. Keduanya naik 120 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa aktivitas pelanggan Harley-Davidson tetap tinggi meski minat membeli unit baru melemah.

Direktur Operasional PT JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly, menilai perubahan perilaku konsumen ikut membentuk tren tersebut. Banyak pemilik memilih mempertahankan motor yang sudah dimiliki, lalu fokus pada perawatan dan modifikasi, ketimbang segera mengganti dengan unit baru.

Pola itu membuat lini purnajual menjadi lebih penting bagi bisnis. Ketika pasar unit baru bergerak lambat, servis dan suku cadang menjaga perputaran pendapatan sekaligus mempertahankan hubungan dengan pelanggan.

Apparel dan merchandise ikut menguat

Selain layanan teknis, kategori apparel dan merchandise umum juga tampil positif. Penjualannya tercatat naik 115 persen, yang menandakan minat terhadap produk resmi Harley-Davidson masih terjaga kuat.

Bagi konsumen dan komunitas penggemar, produk semacam ini bukan sekadar pelengkap. Apparel dan merchandise juga menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup yang lekat dengan merek Harley-Davidson, sehingga permintaannya tetap bertahan di tengah tekanan pasar unit.

Kinerja kategori ini membantu perusahaan menjaga aktivitas bisnis tetap bergerak. Saat penjualan motor baru tidak sekuat sebelumnya, produk pendukung memberi ruang pertumbuhan yang lebih stabil.

Tekanan pasar masih menahan pembelian unit

Korek­si penjualan unit tidak lepas dari kondisi eksternal yang belum bersahabat. Pasar motor premium masih berada di bawah tekanan akibat geopolitik, fluktuasi nilai tukar dolar AS, dan daya beli yang belum pulih penuh.

Irvino juga menyebut harga minyak dunia, regulasi yang menantang, serta situasi global yang belum stabil sebagai faktor yang menambah hambatan. Karena Harley-Davidson sangat terkait dengan transaksi berbasis dolar AS, perubahan nilai tukar ikut memengaruhi strategi harga dan pengadaan unit.

Dalam situasi seperti ini, minat konsumen untuk membeli motor baru tidak bergerak sekuat sebelumnya. Ketika biaya meningkat dan ketidakpastian masih tinggi, sebagian pembeli cenderung menunda keputusan.

Langkah perusahaan menghadapi 2026

Memasuki 2026, PT JLM Auto Indonesia memilih berhitung hati-hati dalam menyusun target. Perusahaan berharap bisa meraih hasil minimal setara dengan capaian tahun lalu, meski tantangan ekonomi global dan tekanan pasar premium masih terasa.

Untuk menjaga minat pasar, distributor menyiapkan dua model flagship terbaru, yaitu Harley-Davidson Road Glide Limited dan Street Glide Limited. Kehadiran keduanya diarahkan untuk mempertahankan posisi merek di segmen premium sekaligus memberi dorongan pada penjualan.

Di saat bersamaan, fokus pada layanan purnajual dan penjualan aksesori resmi tetap dipertahankan. Arah ini menegaskan bahwa saat pasar unit belum kembali pulih penuh, bisnis Harley-Davidson di Indonesia kini bertumpu pada kombinasi penjualan motor, servis, suku cadang, serta produk gaya hidup yang masih diminati pelanggan.

Baca Juga

Back to top button