Tekanan promosi dan beban sejarah akan bertemu di Stadion Maguwoharjo saat PSS Sleman menjamu PSIS Semarang. Pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang nasib Super Elang Jawa dalam perebutan tiket naik kasta.
PSS datang dengan posisi yang belum sepenuhnya aman di puncak klasemen Liga Championship. Mereka mengoleksi 53 poin, sama seperti Persipura Jayapura, sementara Barito Putera masih mengintai di bawah dengan 50 poin.
Situasi itu membuat hasil laga melawan PSIS tidak otomatis mengunci promosi. PSS tetap harus menunggu hasil pertandingan lain pada hari yang sama, saat Persipura menjamu Persiku Kudus dan Barito Putera menghadapi Persipal Palu.
Karena itu, duel di kandang sendiri menjadi ujian penting bagi tim asuhan PSS. Kemenangan akan sangat membantu mereka menjaga peluang promosi tanpa perlu terlalu bergantung pada hasil tim pesaing.
Di sisi lain, PSIS Semarang datang dengan beban yang berbeda. Status mereka sudah aman di Liga Championship, sehingga hasil pertandingan tidak lagi memengaruhi posisi mereka di klasemen.
Meski begitu, PSIS tidak berniat sekadar menjalani laga formalitas. Chief Operating Officer PSIS Semarang, Fariz Yulinar, menegaskan bahwa timnya akan tampil penuh dan berusaha meraih kemenangan.
Fariz bahkan menyebut ada bonus khusus bagi pemain jika mampu menundukkan PSS di kandang lawan. Ia juga menegaskan bahwa tim akan turun dengan kekuatan terbaik dan bertarung maksimal.
“Tidak ada istilah kalah. Saya selalu berprinsip harus menang di setiap pertandingan, termasuk saat menghadapi PSS Sleman,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa PSIS akan tampil full team dan fight demi hasil terbaik.
Laga ini juga membawa ingatan ke peristiwa kelam yang masih melekat kuat di pertemuan kedua tim. Pada 26 Oktober 2014, PSS Sleman dan PSIS Semarang terseret dalam skandal yang dikenal luas sebagai sepak bola gajah.
Kala itu, keduanya bertemu di babak 8 besar Divisi Utama di Stadion Sasana Krida AAU. Pertandingan tersebut berakhir buruk setelah terjadi aksi gol bunuh diri massal yang dilakukan secara sengaja untuk menghindari pertemuan dengan Pusamania Borneo FC di semifinal.
Drama itu muncul menjelang akhir laga dan berlangsung sangat cepat. Gol bunuh diri dari gelandang PSS Agus Setiawan memicu balasan dari pemain PSIS seperti Fadli Manan dan Komaedy, hingga total lima gol bunuh diri tercipta dalam waktu singkat.
Peristiwa tersebut kemudian berujung pada sanksi berat dari PSSI dan FIFA bagi para pelaku. Hingga kini, kejadian itu masih dianggap sebagai noda hitam dalam sejarah pertemuan PSS dan PSIS.
Di tengah semua latar itu, Maguwoharjo akan menjadi panggung dengan tekanan berlapis. Dukungan suporter bisa menjadi kekuatan besar bagi PSS, tetapi ekspektasi untuk menang juga ikut membebani tuan rumah.
Konsentrasi sejak menit awal akan sangat menentukan arah pertandingan. Jika terpeleset, PSS masih bisa digeser atau setidaknya dipaksa menunggu hasil laga lain untuk memastikan promosi.
Source: mediaindonesia.com