PSIM Lagi-Lagi Tumpul Di Depan Gawang, Kalah Tipis Dari Persita Di Bantul

Kekalahan di kandang kembali menegaskan satu persoalan yang belum juga selesai bagi PSIM Yogyakarta: ketajaman lini depan. Saat menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Laskar Mataram sebenarnya lebih sering memegang bola dan sempat menciptakan sejumlah peluang, tetapi tetap pulang dengan kekalahan tipis 0-1.

Situasi itu membuat hasil laga terasa semakin menyakitkan. Di hadapan pendukung sendiri, PSIM lagi-lagi gagal mengubah dominasi permainan menjadi poin penuh, sementara lawan justru mampu memaksimalkan satu kesempatan awal untuk mengunci kemenangan.

Gol cepat yang mengubah jalannya laga

Persita tidak membutuhkan banyak peluang untuk membuat PSIM berada dalam tekanan. Satu kesempatan di awal pertandingan langsung berbuah gol pembuka, dan gol itu bertahan sampai peluit akhir.

Keunggulan tersebut membuat Persita lebih nyaman mengatur ritme. Setelah unggul, mereka memilih menurunkan garis pertahanan dan rapat menutup ruang dengan blok rendah, sehingga PSIM dipaksa mencari celah dari sisi lain permainan.

Penguasaan bola PSIM tidak berbuah ancaman berarti

PSIM memang tampil lebih sering menguasai bola setelah tertinggal. Namun, aliran serangan mereka kerap terhenti ketika memasuki area sepertiga akhir, sehingga peluang yang sempat muncul tidak berkembang menjadi ancaman serius.

Laskar Mataram berusaha membangun serangan dari berbagai sisi. Meski begitu, rapatnya pertahanan Persita membuat tim tuan rumah kesulitan menembus ruang yang sempit dan mengubah tekanan menjadi gol penyeimbang.

Masalah penyelesaian akhir kembali disorot

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean Paul Van Gastel, menilai timnya kembali gagal memanfaatkan peluang yang ada. Menurutnya, persoalan utama yang terus berulang adalah penyelesaian akhir yang tidak kunjung membaik dari satu pertandingan ke pertandingan lain.

“Kami kebobolan di menit-menit awal dari peluang pertama Persita. Kemudian mereka bermain dengan low block dan sulit ditembus meski sebenarnya kami bisa menciptakan beberapa peluang,” kata Van Gastel.

Ia juga menyoroti upaya PSIM untuk merespons ketertinggalan dengan permainan yang lebih agresif. Namun, tekanan itu tetap tidak cukup karena para pemain depan kembali gagal menyelesaikan peluang yang hadir.

“Selalu dapat kesulitan dalam penyelesaian akhir dari peluang yang ada. Ini yang jadi masalah,” ujarnya.

Harapan sempat muncul lewat penyelamatan Cahya Supriadi

Di tengah situasi yang tidak ideal, PSIM masih sempat mendapat momen yang bisa mengubah arah pertandingan. Cahya Supriadi tampil penting saat menggagalkan penalti Persita, sebuah aksi yang sempat menjaga harapan tuan rumah untuk bangkit.

Van Gastel menilai penyelamatan itu sempat memberi dorongan psikologis bagi tim. Namun, momentum tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, karena setelah peluang itu berlalu PSIM tetap tidak berhasil menemukan gol balasan.

Kegagalan memanfaatkan momen krusial itulah yang membuat hasil akhir tetap memihak Persita. Saat ruang lawan sempat terbuka, PSIM tidak cukup tajam untuk menuntaskan peluang menjadi angka di papan skor.

Rekor kandang yang belum membaik

Kekalahan dari Persita juga memperpanjang tren negatif PSIM yang belum menang dalam tujuh pertandingan beruntun. Dalam lima laga terakhir, mereka bahkan mencatat empat kekalahan, sebuah catatan yang menunjukkan konsistensi performa masih jauh dari stabil.

Di klasemen sementara, PSIM berada di peringkat ke-11 dengan 39 poin. Angka itu masih menyisakan ruang untuk memperbaiki posisi, tetapi hasil di kandang menunjukkan masalah yang lebih mendasar belum berhasil diatasi.

Dominasi bola ternyata belum cukup jika tidak diikuti efektivitas di depan gawang. Saat lawan tampil disiplin dan menutup ruang dengan rapat, PSIM kembali kesulitan menemukan solusi untuk mengubah permainan bagus menjadi kemenangan.

Exit mobile version