Perubahan pada layanan ortopedi kini tidak hanya berbicara tentang mengganti sendi lutut yang rusak, tetapi juga tentang bagaimana tindakan itu bisa dilakukan lebih tepat dan pemulihan berlangsung lebih nyaman. Pada operasi Total Knee Replacement, arah pengembangan layanan kini bergerak ke hasil yang lebih presisi, masa rawat yang lebih singkat, dan kualitas hidup pasien yang lebih baik setelah tindakan.
Dorongan itu muncul seiring meningkatnya kebutuhan penanganan osteoartritis, termasuk pada pasien usia produktif. Kondisi ini membuat operasi lutut tidak lagi dipandang sebagai tindakan yang hanya identik dengan usia lanjut, melainkan sebagai terapi yang perlu dirancang lebih terukur sesuai karakteristik tiap pasien.
Teknologi robotik membantu akurasi tindakan
Salah satu perubahan paling menonjol datang dari penggunaan teknologi robotik dalam operasi lutut. Mayapada Healthcare menghadirkan VELYS Robotic-Assisted Solution untuk membantu dokter bekerja dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibanding metode konvensional.
Prof. Dr. dr. Dwikora Novembri Utomo, Sp.OT(K), menilai perkembangan teknologi telah mengubah praktik klinis secara nyata. Ia menjelaskan bahwa Total Knee Replacement kini dapat dilakukan lebih presisi berkat dukungan sistem modern, sehingga hasil operasi menjadi lebih akurat dan pemulihan pasien dapat berlangsung lebih optimal.
Pendekatan ini juga memberi ruang bagi dokter untuk menyesuaikan tindakan dengan anatomi masing-masing pasien. Dengan begitu, hasil operasi menjadi lebih konsisten karena setiap kasus ditangani berdasarkan kondisi klinis yang ditemui, bukan sekadar mengikuti pola umum.
Pemulihan kini menjadi bagian penting dari keberhasilan operasi
Keberhasilan operasi lutut tidak lagi dinilai hanya dari hasil di ruang bedah. Setelah tindakan selesai, perhatian besar juga diarahkan ke fase pemulihan agar pasien bisa kembali beraktivitas dengan nyaman dalam waktu yang lebih cepat.
Di titik ini, protokol Enhanced Recovery After Surgery atau ERAS menjadi bagian penting dalam layanan ortopedi modern. Protokol ini mendorong kerja sama lintas disiplin antara dokter ortopedi, anestesi, rehabilitasi medik, dan nutrisi klinik.
Tujuannya jelas, yaitu mempercepat pemulihan, menekan lama rawat inap, dan membuat pasien lebih nyaman selama masa penyembuhan. Dalam praktiknya, pendekatan ini menempatkan pemulihan sebagai rangkaian yang sudah dipersiapkan sejak awal, bukan proses yang berjalan belakangan setelah operasi selesai.
Prof. Nicolaas C. Budhiparama menegaskan bahwa kebutuhan pasien telah berubah. Menurut dia, pasien saat ini tidak hanya mencari hasil operasi yang baik, tetapi juga pemulihan cepat dan nyeri minimal, sementara teknologi seperti VELYS dan desain implan yang tepat dapat membantu menghadirkan luaran yang lebih konsisten.
Kolaborasi klinis ikut menentukan hasil
Selain teknologi dan protokol pemulihan, keberhasilan operasi lutut juga sangat bergantung pada kerja tim. Brigjen TNI dr. Sunaryo Kusumo, Sp.OT(K), menekankan bahwa pendekatan kolaboratif terbukti meningkatkan akurasi diagnosis dan hasil klinis, terutama pada kasus yang kompleks.
Hal ini menjadi penting ketika menangani deformitas lutut atau kondisi lain yang membutuhkan perencanaan matang. Pada situasi seperti itu, keberhasilan tidak ditentukan oleh satu tindakan tunggal, melainkan oleh rangkaian keputusan klinis yang terkoordinasi sejak awal.
Perspektif global memperkuat arah perubahan
Perubahan layanan ortopedi di Indonesia juga mendapat dorongan dari forum ilmiah bertajuk Global Best Practices in Advancing Total Knee Replacement. Dalam simposium internasional ini, para ahli dari berbagai negara berbagi praktik terbaik untuk memperkuat layanan ortopedi di dalam negeri.
Salah satu perhatian utama dalam forum tersebut adalah kualitas implan sebagai faktor penentu keberhasilan operasi. Kevin Perry, MD dari Mayo Clinic, menyoroti meningkatnya jumlah pasien muda yang menjalani operasi lutut. Ia menilai desain implan penting bukan hanya untuk keberhasilan bedah, tetapi juga untuk daya tahan dan fungsi jangka panjang, terutama bila dipadukan dengan personalisasi berbasis anatomi pasien dan teknologi robotik.
Pandangan serupa disampaikan Dr. Liow Ming Han Lincoln dari Singapore General Hospital. Ia melihat penggunaan awal teknologi robotik di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan presisi dan hasil yang lebih konsisten, yang dinilai sebagai langkah menuju standar ortopedi yang lebih maju di kawasan.
Dr. Prof. Rajesh Malhotra dari Apollo Hospital New Delhi juga menekankan pentingnya hasil perawatan yang konsisten. Ia menyoroti presisi tindakan, alur klinis yang terintegrasi, dan kualitas keperawatan sebagai unsur yang mendukung pemulihan lebih cepat.
Arah layanan ortopedi semakin berpusat pada pasien
Mayapada Healthcare menyebut transformasi layanan ortopedi di Indonesia perlu berjalan seiring inovasi global dan kebutuhan pasien yang makin menuntut hasil lebih baik. Presiden Direktur & CEO Mayapada Healthcare, Navin Sonthalia, menegaskan komitmen menghadirkan standar perawatan ortopedi terbaik dunia di dalam negeri tanpa mengharuskan pasien pergi ke luar negeri.
Dengan dukungan teknologi robotik, pengembangan desain implan, dan penerapan protokol pemulihan modern, operasi lutut kini diarahkan menjadi layanan yang lebih aman, lebih presisi, dan lebih berpusat pada pasien. Pendekatan ini membuka peluang bagi pasien untuk kembali bergerak aktif dengan proses penyembuhan yang lebih cepat dan pengalaman perawatan yang lebih baik.
Source: www.suara.com




