Polinema Dorong Lulusan Siap Industri Sejak Kuliah, Kurikulum Dibuat Menyusul Perubahan Zaman

Polinema memilih cara yang sangat terukur untuk menjembatani kampus dengan dunia kerja. Alih-alih bertahan pada pola kuliah yang kaku, perguruan tinggi negeri di Kota Malang itu menempatkan pembelajaran adaptif sebagai dasar agar lulusan lebih cepat masuk ke kebutuhan industri.

Arah tersebut bukan sekadar perubahan teknis di ruang kelas. Polinema merancang kurikulum dan materi ajar dengan menyesuaikan perkembangan zaman, dinamika sosial, situasi dalam dan luar negeri, serta kebutuhan sektor industri.

Direktur Polinema Ir Supriatna Adhisuwignjo menekankan bahwa penyesuaian itu disusun supaya lulusan bisa langsung memberi kontribusi setelah menyelesaikan studi. Karena itu, pembelajaran tidak dibiarkan berhenti pada penguasaan teori semata.

Kampus ini kemudian menguatkan pendekatan out come base education untuk menyeimbangkan kemampuan teknis dan nonteknis mahasiswa. Dengan pendekatan itu, hasil pendidikan diharapkan lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Industri masuk langsung ke proses belajar

Untuk memperkuat kesiapan kerja, Polinema memakai framework organisasi pengembangan dan manufaktur kontrak atau CDMO dengan standar internasional. Langkah ini diarahkan agar lulusan tidak hanya siap di pasar kerja nasional, tetapi juga memiliki daya saing global.

Keterhubungan dengan dunia usaha dan dunia kerja juga dibangun lewat praktik yang lebih nyata. Mahasiswa diwajibkan magang di industri dan menjalani tugas akhir bersama mitra industri.

Polinema menyebut sekitar 90 persen mitranya berasal dari sektor industri. Kondisi itu membuat mahasiswa berhadapan langsung dengan cara kerja, pola koordinasi, dan standar yang dipakai di lingkungan industri modern.

Mahasiswa dibentuk jadi pemecah masalah

Kedekatan dengan industri dipakai untuk membangun kebiasaan berpikir kritis sejak bangku kuliah. Mahasiswa diarahkan agar terbiasa mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan secara efektif, realistis, dan kreatif.

Kemampuan itu dianggap penting karena dunia kerja kini tidak cukup hanya membutuhkan lulusan yang bisa menjalankan tugas. Perusahaan juga mencari orang yang mampu melihat masalah lalu menawarkan solusi.

Supriatna menilai karakter problem solver dapat mendorong lulusan menjadi agen perubahan yang ikut berkontribusi pada target Indonesia Emas. Ia juga menegaskan bahwa seluruh strategi pembelajaran disusun dengan membaca tantangan yang ada sekaligus perkembangan ke depan.

Dengan arah itu, pendidikan di Polinema tidak hanya mengejar capaian akademik. Kampus ingin hasil belajar memberi dampak langsung setelah mahasiswa keluar dari lingkungan kampus.

Layanan belajar ikut disesuaikan

Selain memperkuat praktik lapangan dan pembelajaran luring, Polinema juga mulai merumuskan penerapan sistem pembelajaran jarak jauh. Program ini disiapkan agar akses belajar lebih mudah bagi mahasiswa asal luar kota.

Penyesuaian itu dilengkapi dengan pengembangan bahan ajar digital, termasuk e-books. Langkah ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya mengubah isi pembelajaran, tetapi juga cara layanan akademik disiapkan agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Perubahan tersebut menegaskan bahwa adaptasi di pendidikan tinggi tidak berhenti pada penggunaan teknologi. Bagi Polinema, adaptasi juga berarti merancang lulusan yang relevan dengan ritme kerja yang terus berubah.

Arah kebijakan itu memperlihatkan upaya kampus membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan. Polinema menempatkan pembelajaran adaptif sebagai pijakan agar mahasiswa tidak hanya lulus, tetapi juga siap bergerak cepat saat masuk ke dunia kerja.

Source: jatim.antaranews.com
Exit mobile version