Pochettino Masih Terikat Emosi Pada Spurs, Tottenham Kian Dekat Ke Jurang Degradasi

Tottenham Hotspur kembali berada dalam tekanan besar setelah hanya menyisakan empat pertandingan dan masih terpaut dua poin dari zona aman di Premier League. Kondisi ini membuat setiap laga tersisa terasa seperti partai penentuan, apalagi tim baru meraih kemenangan liga pertama mereka tahun ini saat menghadapi Wolverhampton Wanderers yang sudah terdegradasi.

Situasi yang tidak stabil itu ikut memicu reaksi emosional dari Mauricio Pochettino. Mantan pelatih Tottenham tersebut mengakui bahwa apa yang sedang dialami klub lamanya terasa menyakitkan, karena ia masih merasa punya hubungan yang sangat kuat dengan Spurs.

Ikatan yang belum putus

Pochettino menegaskan bahwa Tottenham tidak pernah benar-benar lepas dari hidupnya. Baginya, klub London utara itu bukan hanya bagian dari rekam jejak kepelatihannya, tetapi juga bagian penting dalam kehidupan pribadi.

Dalam siniar yang dikutip BBC, pelatih asal Argentina itu menyampaikan bahwa penderitaan di dalam klub dan di kalangan suporter terasa nyata baginya. Ia menyebut semua yang terjadi di Tottenham sulit diterima karena dampaknya dirasakan oleh banyak orang.

“Klub ini akan selalu menjadi bagian dari hidup saya, bagian penting dalam hidup saya sebagai pelatih, juga dalam kehidupan pribadi saya,” ujar Pochettino. Ia juga menambahkan, “Ini sangat menyedihkan karena saya tahu bagaimana orang-orang di sana menderita, di dalam klub maupun para penggemar. Ini sulit untuk diterima.”

Tekanan makin besar di papan bawah

Kondisi klasemen membuat Tottenham tidak punya banyak ruang untuk bernapas. Posisi mereka yang berada di peringkat 18 menempatkan Spurs dalam situasi berbahaya, terlebih dengan jarak yang tipis dari zona aman.

Dengan empat laga tersisa, hasil di setiap pertandingan akan sangat memengaruhi nasib mereka. Ancaman degradasi membuat fokus tim tidak hanya soal permainan, tetapi juga soal ketahanan mental menghadapi tekanan hasil yang terus membayangi.

Laga tandang ke markas Aston Villa kini menjadi ujian penting berikutnya. Tottenham membutuhkan konsistensi agar tidak terus terjebak dalam persaingan papan bawah hingga akhir musim.

Masalah skuad menambah beban

Tantangan Spurs tidak berhenti pada posisi di klasemen. Klub itu juga menghadapi masalah kebugaran pemain setelah Xavi Simons dipastikan absen sampai akhir musim karena cedera lutut saat melawan Wolves.

Di pertandingan yang sama, Dominic Solanke juga sempat ditarik keluar karena cedera. Dua gangguan itu membuat Tottenham semakin terbebani pada fase yang justru menuntut seluruh pemain inti berada dalam kondisi terbaik.

Situasi tersebut mempersempit pilihan tim di saat kebutuhan untuk meraih poin justru semakin mendesak. Spurs harus mencari solusi cepat di tengah waktu yang makin sempit dan tekanan yang terus meningkat dari pekan ke pekan.

Bayangan masa lalu dan peluang kembali

Hubungan Pochettino dengan Tottenham tetap menjadi salah satu cerita penting di tengah krisis yang dihadapi klub tersebut. Ia pernah memimpin Spurs pada periode 2014 hingga 2019 dan membawa mereka menembus final Liga Champions, pencapaian yang masih melekat dalam ingatan banyak pendukung.

Setelah berpisah dari Tottenham, Pochettino sempat melatih Paris Saint-Germain sebelum kembali ke Premier League bersama Chelsea. Kini, ia sedang bersiap memimpin tim nasional Amerika Serikat menuju Piala Dunia 2026 sebagai tuan rumah.

Meski fokusnya ada pada tugas bersama Amerika Serikat, Pochettino tetap membuka kemungkinan kembali bekerja di sepak bola Inggris. Ia menilai Premier League masih cocok dengan karakter dirinya sebagai pelatih dan juga sebagai pribadi.

“Suatu hari, ya, karena saya sangat menyukai Inggris. Saya pikir profil saya, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelatih, sangat cocok dengan Premier League,” ujarnya. Di saat Tottenham berusaha keluar dari ancaman zona merah, hubungan emosional dengan Pochettino masih menjadi bagian dari identitas klub yang sedang diuji berat.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version