Ketegangan di Timur Tengah kembali menemukan titik paling sensitifnya saat sebuah serangan drone memicu kebakaran di area pinggir PLTN Barakah, fasilitas nuklir milik Uni Emirat Arab. Insiden itu langsung memunculkan kekhawatiran baru karena Barakah berada di tengah situasi kawasan yang sudah rapuh akibat bayang-bayang konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Badan Energi Atom Internasional atau IAEA menyoroti insiden tersebut sebagai peringatan serius bagi keamanan nuklir. Lembaga itu menyebut aktivitas militer yang mengancam keselamatan fasilitas nuklir tidak dapat diterima, terutama ketika target yang terdampak adalah pembangkit dengan status strategis seperti Barakah.
Menurut otoritas Uni Emirat Arab, kebakaran yang terjadi tidak mengganggu keselamatan fasilitas nuklir. Seluruh unit reaktor tetap beroperasi normal, dan tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi yang dilaporkan.
IAEA menjelaskan bahwa serangan drone itu memicu kebakaran pada generator listrik. Pada salah satu reaktor, generator diesel darurat sempat digunakan sebagai langkah pengamanan untuk menjaga operasi tetap terkendali.
PLTN Barakah memiliki posisi penting bagi Uni Emirat Arab karena merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama dan satu-satunya di dunia Arab. Fasilitas senilai US$ 20 miliar itu dibangun bersama Korea Selatan dan mulai beroperasi pada 2020.
Dari sisi pasokan energi, Barakah menyumbang sekitar seperempat kebutuhan listrik Uni Emirat Arab. Letaknya yang dekat perbatasan Arab Saudi dan sekitar 225 kilometer dari Abu Dhabi membuat setiap gangguan di kawasan itu cepat menarik perhatian regional.
Serangan terbaru ini juga menjadi yang pertama kali menyasar kompleks empat reaktor Barakah sejak perang kawasan memanas. Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan drone tersebut, dan pemerintah Uni Emirat Arab belum secara terbuka menuduh pihak tertentu sebagai pelaku.
Meski begitu, ketegangan antara Uni Emirat Arab dan Iran sudah lebih dulu meningkat. Sebelumnya, Uni Emirat Arab menuding Iran meluncurkan sejumlah serangan drone dan rudal dalam beberapa hari terakhir di tengah situasi yang memanas di Selat Hormuz.
Situasi itu membuat gencatan senjata Iran dan Amerika Serikat yang sudah rapuh semakin dipertanyakan daya tahannya. Dua sumber yang mengetahui keadaan tersebut mengatakan Israel dan AS sedang berkoordinasi mengenai opsi serangan lanjutan jika gencatan senjata gagal bertahan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut turut mempertimbangkan kemungkinan memulai kembali serangan terhadap Iran bersama Israel. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya siap menghadapi berbagai kemungkinan terkait Iran.
“Kami siap untuk skenario apa pun,” ujar Netanyahu dalam rapat kabinet. Pernyataan itu menambah sinyal bahwa kawasan belum bergerak menuju ketenangan, terutama ketika fasilitas vital seperti Barakah ikut berada dalam pusaran ketegangan.
Kekhawatiran juga bertambah karena Selat Hormuz merupakan jalur penting pengiriman energi dunia. Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi meluas dan memengaruhi stabilitas keamanan, termasuk pada fasilitas strategis yang berada di sekitarnya.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga pernah mengeklaim menargetkan Barakah ketika fasilitas itu masih dibangun pada 2017. Tuduhan tersebut dibantah oleh Uni Emirat Arab, tetapi serangan terbaru kembali memperlihatkan betapa rentannya titik-titik penting di kawasan Teluk.
Source: www.beritasatu.com