Pirelli sedang mendorong ban masuk ke level yang jauh lebih jauh dari sekadar komponen penopang kendaraan. Lewat Cyber Tire, ban dirancang untuk membaca permukaan jalan secara aktif, lalu mengirimkan datanya ke mobil dan ke cloud agar kendaraan dapat bereaksi lebih cepat terhadap kondisi berbahaya.
Yang menarik, data dari ban ini tidak hanya dipakai oleh mobil yang melintas di atasnya. Pirelli menyebut informasi tersebut juga dapat diteruskan ke mobil di belakang untuk memberi peringatan soal lubang, hujan, salju, dan es di depan, sehingga pengemudi punya waktu lebih awal untuk menyesuaikan cara berkendara.
Ban yang berubah menjadi sumber data
Cyber Tire diposisikan Pirelli sebagai sistem hardware dan software pertama di dunia yang mampu mengumpulkan data dari sensor di dalam ban. Setelah data terkumpul, software dan algoritma milik Pirelli memprosesnya sebelum informasi tersebut dikirim secara real time ke elektronik kendaraan.
Dengan cara ini, ban tidak lagi hanya berfungsi sebagai bagian yang menopang mobil. Pirelli ingin menjadikannya sumber informasi yang membantu pengalaman berkendara, keselamatan, dan juga ekosistem infrastruktur yang terhubung.
Piero Misani, chief technical officer sekaligus kepala bisnis Cyber Tire di Pirelli, menjelaskan bahwa sensor akselerasi di dalam ban dapat mendeteksi gaya, kondisi jalan, kekasaran permukaan, ketidakteraturan, hingga lubang. Sistem ini juga disebut mampu mengenali air, es, dan salju di jalan.
Berperan dalam jaringan kendaraan yang saling terhubung
Kemampuan berbagi data ke kendaraan lain menjadi salah satu aspek penting dari teknologi ini. Pirelli menempatkan Cyber Tire dalam kerangka V2X, atau vehicle to everything, yaitu ekosistem yang membuat mobil bisa saling berkomunikasi dan terhubung dengan infrastruktur di sekitarnya.
Misani mengatakan mobil akan makin terhubung satu sama lain, sehingga data dari ban tidak hanya berguna untuk steering dan braking control pada mobil itu sendiri. Dalam skema itu, ban ikut menjadi bagian dari jaringan data yang lebih luas dan ikut mendukung respons kendaraan terhadap situasi jalan.
Peringatan dari mobil di depan atau dari kondisi jalan yang baru dilalui kendaraan lain dapat membantu pengemudi mengantisipasi risiko sebelum masuk ke titik berbahaya. Itu membuat Cyber Tire punya fungsi yang melampaui peran tradisional ban pada kendaraan.
Pengembangan panjang dan tuntutan teknis berat
Untuk mencapai tahap ini, Pirelli mengaku sudah mengumpulkan data dari ban sejak 2000. Perjalanan lebih dari 25 tahun itu dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat teknis yang sesuai agar sistem dapat bekerja seperti yang dirancang.
Tantangan teknisnya juga tidak sederhana. Sensor di dalam ban harus tahan terhadap beban hingga 1000 g dan tetap berfungsi saat ban berputar pada kecepatan 270 km/jam atau 168 mph.
Ada batasan bobot yang sangat ketat pula. Total sensor harus tetap ringan, kurang dari 14 gram termasuk baterai, sementara baterainya harus mampu bertahan sepanjang umur ban meski bekerja di lingkungan dengan g-force tinggi.
Arah produksi dan langkah bisnis Pirelli
Pirelli menyebut Cyber Tire akan diproduksi di pabriknya di Rome, Georgia, meski perusahaan belum mengumumkan tanggal pasti untuk memulai produksi. Rencana itu menjadi sinyal bahwa teknologi ini sedang diarahkan menuju tahap komersialisasi.
Claudio Zanardo, CEO Pirelli North America, menilai dimulainya produksi Cyber Tire di Rome, Georgia, sebagai tonggak penting bagi Pirelli di Amerika Serikat. Ia melihat langkah itu sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk membawa teknologi canggih lebih dekat ke pasar.
Pirelli juga memperkuat pengembangan teknologi ini dengan mengambil 30 persen saham Univrses, perusahaan AI asal Swedia. Langkah tersebut ditujukan untuk memperdalam integrasi computer vision ke dalam sistem Cyber Tire dan memperkuat posisi Pirelli di ranah ban pintar yang terhubung.