Merek mobil Jepang kini menghadapi tekanan yang lebih kompleks daripada sekadar soal angka penjualan. Di Indonesia, beberapa dealer yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi justru mulai tutup, sementara merek China terus memperluas kehadiran mereka dengan tawaran kendaraan yang lebih murah, modern, dan kaya fitur.
Perubahan itu membuat posisi merek Jepang tidak lagi sekuat dulu. Pakar otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kondisi ini menunjukkan pergeseran besar dalam pasar otomotif, terutama karena konsumen semakin sensitif terhadap harga dan lebih mudah melirik alternatif yang terlihat lebih menarik.
Dealer tidak lagi cukup kuat menahan tekanan pasar
Penutupan dealer merek Jepang menurut Yannes bukan sekadar gangguan di jaringan penjualan. Ia melihat masalah ini sudah menyentuh model bisnis secara keseluruhan, termasuk hubungan antara pabrikan dan dealer yang dinilai makin berat untuk dijalankan.
Beban kepatuhan terhadap regulasi juga ikut menekan ruang usaha dealer. Yannes menyebut perubahan aturan yang datang mendadak dapat menggerus margin dan membuat kondisi bisnis lebih rapuh, terutama ketika pasar bergerak sangat cepat.
Dalam situasi seperti itu, konsumen pun punya lebih banyak alasan untuk berpindah. Ketika ada merek lain yang menawarkan harga lebih kompetitif dan fitur lebih lengkap, daya tahan merek lama di pasar menjadi ikut diuji.
China mempercepat perubahan peta persaingan
Kehadiran merek mobil China di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data yang disampaikan Yannes, jumlahnya kini mencapai 16 merek dan hampir seluruhnya fokus pada kendaraan elektrifikasi, terutama battery electric vehicle atau BEV.
Pola itu membuat persaingan berubah lebih cepat dari sebelumnya. Produk-produk asal China dinilai mampu mencuri perhatian karena tampil lebih segar, membawa teknologi ramah lingkungan, dan dijual dengan harga yang lebih bersaing.
Kombinasi desain baru, fitur yang padat, dan banderol yang lebih terjangkau memberi konsumen lebih banyak pilihan. Di tengah kondisi pasar yang makin sensitif terhadap harga, reputasi panjang merek Jepang tidak otomatis cukup untuk mempertahankan dominasi.
Yannes menyampaikan bahwa fenomena banyak dealer mobil Jepang yang tutup dan kemudian digantikan merek China menjadi sinyal kuat terjadinya pergeseran pasar. Ia menilai perubahan ini didorong oleh kombinasi regulasi yang bergerak cepat dan persaingan harga yang semakin ketat.
Jepang didesak menyesuaikan strategi
Di tengah tekanan tersebut, Yannes menilai pabrikan Jepang harus bergerak lebih cepat jika ingin menjaga pangsa pasar. Salah satu opsi yang ia soroti adalah investasi pada EV lokal yang lebih terjangkau agar bisa menjangkau konsumen yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Ia juga membuka ruang bagi kerja sama dengan pemasok China untuk menggabungkan teknologi dan harga yang lebih kompetitif. Strategi semacam ini dinilai dapat membantu merek Jepang beradaptasi dengan arah pasar yang makin condong ke elektrifikasi.
Selain produk, layanan purnajual juga disebut menjadi pembeda penting. Konsumen sekarang tidak hanya menilai mobil saat dibeli, tetapi juga melihat kemudahan servis, ketersediaan suku cadang, dan nilai jangka panjang dari sebuah merek.
“Jepang jelas perlu menyusun ulang model kerjasamanya yang lebih menguntungkan dealer dan perlu memperkuat jaringan after-sales setiap produknya,” kata Yannes melalui pesan singkat, Jumat (17/4).
Pemerintah diminta ikut menjaga iklim usaha
Yannes tidak hanya menyoroti langkah pabrikan, tetapi juga peran pemerintah dalam menjaga kepastian usaha. Ia menilai iklim industri otomotif perlu dibuat tetap kompetitif agar tidak memunculkan ketidakpastian baru bagi pelaku usaha.
Ia meminta harmonisasi regulasi lintas kementerian supaya kebijakan yang lahir saling mendukung. Menurut dia, reformasi TKDN juga perlu disertai insentif bagi perusahaan yang benar-benar melakukan transfer teknologi dan membuka lapangan kerja.
Di sisi lain, stabilitas suku bunga dan daya beli masyarakat juga dianggap penting. Pasar otomotif masih tertekan inflasi pangan dan pelemahan kelas menengah, sehingga produsen Jepang dituntut merespons lebih cepat agar tidak terus kehilangan ruang di tengah ekspansi pabrikan China.
Source: www.cnnindonesia.com