Pertamina Tegaskan Tak Ada LPG Untuk Indonesia Di Selat Hormuz, ESDM Koreksi Kabar Tanker Crave

Penjelasan terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menepis kabar yang sempat ramai soal adanya tanker LPG yang disebut bergerak dari Selat Hormuz menuju Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa informasi itu tidak sesuai dengan data resmi yang diterima, sehingga publik tidak perlu mengaitkannya dengan pasokan LPG nasional.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyampaikan bahwa tidak ada LPG yang sedang dikirim ke Indonesia melalui jalur tersebut. Ia juga menegaskan laporan yang beredar tidak cocok dengan informasi dari pihak terkait, termasuk dari Pertamina yang memastikan tidak ada kargo LPG untuk Indonesia.

Klarifikasi ini muncul setelah perusahaan analitik pelayaran Kpler menyebut ada kapal tanker berbendera Panama bernama Crave yang membawa LPG dari Uni Emirat Arab dengan tujuan Indonesia. Namun, ESDM menilai data tersebut tidak tepat berdasarkan keterangan resmi yang masuk dan menolak kesimpulan bahwa ada suplai LPG Indonesia yang tengah melintas di Selat Hormuz.

Pernyataan serupa juga datang dari PT Pertamina International Shipping melalui Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita. Ia menegaskan kabar mengenai kargo LPG bukan bagian dari operasional perusahaan dan tidak dapat dikaitkan dengan armada Pertamina.

“Itu bukan kapal maupun kargo Pertamina ya,” kata Vega. Penegasan ini memperjelas bahwa isu yang beredar perlu dibedakan dari aktivitas kapal milik Pertamina yang memang berada di kawasan tersebut.

Dua armada Pertamina yang tercatat berada di Selat Hormuz adalah VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Keduanya memang sempat tertahan di jalur itu, tetapi muatannya bukan LPG untuk Indonesia.

Pertamina Pride disebut membawa minyak mentah jenis light crude oil. Sementara itu, Gamsunoro mengangkut kargo milik pihak ketiga, sehingga tidak terkait dengan pasokan LPG bagi kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah menekankan pentingnya membedakan jenis kapal, jenis muatan, dan tujuan pengiriman agar tidak terjadi salah baca atas informasi pelayaran. Dalam situasi seperti Selat Hormuz, detail semacam ini menjadi krusial karena satu laporan yang keliru bisa memunculkan spekulasi soal cadangan energi.

Sorotan terhadap jalur itu juga tak lepas dari pergerakan kapal yang sempat ramai dipantau. Kpler sebelumnya mencatat lebih dari 20 kapal melewati Selat Hormuz pada Sabtu saat Iran sempat membuka lintasan tersebut, dengan sejumlah kapal membawa produk minyak, logam, hingga LPG ke berbagai tujuan.

Dari catatan itu, lima kapal disebut mengangkut produk minyak hingga logam dari Iran. Tiga kapal LPG lainnya juga terpantau bergerak menuju China dan India, sementara beberapa tanker lain melintas dengan tujuan berbeda.

Akti A dan Athina disebut membawa produk olahan minyak ke Mozambik dan Thailand. Adapun Navig8 Macallister tercatat mengangkut 500.000 barel nafta menuju Korea Selatan.

Di tengah ramainya data pergerakan kapal, ESDM menegaskan lagi bahwa kabar adanya tanker LPG menuju Indonesia tidak benar. Pemerintah dan Pertamina sama-sama memastikan tidak ada kargo LPG untuk Indonesia yang dikirim melalui Selat Hormuz, sehingga publik diminta mengacu pada informasi resmi agar tidak muncul kesalahpahaman soal pasokan energi nasional.

Baca Juga

Back to top button