Jejak hujan panjang di Bumi purba menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat membalik wajah planet dalam waktu geologi yang relatif singkat. Dari kondisi kering dan panas, daratan berubah menjadi rawa, hutan lembap, dan aliran sungai baru, lalu menciptakan ruang bagi dinosaurus untuk berkembang.
Peristiwa itu dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode. Para ilmuwan menempatkannya sekitar 232 juta tahun lalu, ketika tekanan besar terjadi bersamaan di darat dan laut.
Sebelum masa basah itu datang, Pangea masih menyatukan hampir seluruh daratan Bumi. Bentuk benua raksasa ini membuat banyak wilayah pedalaman jauh dari pengaruh laut, sehingga cuaca di banyak tempat cenderung sangat panas dan kering.
Bukti geologi dari periode Trias memperlihatkan endapan gurun dan mineral evaporit dalam jumlah besar. Jejak itu menunjukkan bahwa hujan jarang turun selama jutaan tahun, dan kondisi demikian memaksa tumbuhan maupun reptil purba beradaptasi untuk bertahan dengan air yang terbatas.
Dalam lingkungan seperti itu, tumbuhan harus mencari strategi bertahan yang keras. Reptil purba pun hidup dengan cara hemat air, termasuk melalui kulit bersisik yang membantu mengurangi penguapan tubuh.
Ketika curah hujan meningkat tajam, komposisi vegetasi ikut bergeser. Tumbuhan yang cocok di habitat kering mulai berkurang, lalu digantikan hutan konifer, paku-pakuan, dan tumbuhan rawa yang tumbuh subur di wilayah lebih basah.
Perubahan lanskap itu membuka habitat baru bagi berbagai kelompok hewan. Amfibi purba dan predator air tawar mendapat ruang lebih luas, sementara beberapa temnospondyl bahkan tumbuh menjadi raksasa dan mendominasi rawa serta sungai.
Dampaknya tidak berhenti di daratan. Air tawar dalam jumlah besar mengubah salinitas pesisir, sedangkan kadar karbon dioksida yang tinggi membuat laut lebih asam dan berbahaya bagi organisme bercangkang seperti karang dan moluska.
Gangguan pada plankton ikut mengguncang rantai makanan laut. Sejumlah ekosistem terumbu purba pun mengalami kemunduran besar, sementara banyak reptil archosaur nondinosaurus yang sebelumnya kuat justru mengalami penurunan.
Di tengah tekanan itu, dinosaurus justru memperoleh celah untuk naik. Pada awalnya kelompok ini masih kecil dan belum mendominasi daratan, tetapi banyak pesaing mereka melemah saat lingkungan berubah cepat.
Beberapa ilmuwan menduga dinosaurus punya sistem pernapasan yang lebih efisien dibanding banyak reptil Trias lain. Postur tubuh yang tegak juga membantu mereka bergerak lebih hemat energi di lingkungan yang terus berubah.
Fosil seperti Eoraptor dan Herrerasaurus memperlihatkan bahwa dinosaurus awal berkembang pesat setelah periode hujan ekstrem itu. Penyebaran mereka kemudian meluas ke berbagai wilayah Pangea dalam beberapa juta tahun berikutnya.
Meski dominasi penuh dinosaurus baru terjadi pada periode Jura, banyak paleontolog menilai Peristiwa Pluvial Karnia sebagai titik awal kebangkitan mereka. Perubahan iklim besar tersebut melemahkan pesaing sekaligus menciptakan ruang evolusi yang lebih luas.
Para peneliti sendiri belum sepakat soal detail perubahan itu, termasuk apakah hujan turun serentak di seluruh dunia. Paul Olsen menyebut musim pada masa Pangea bisa jauh lebih ekstrem daripada kondisi modern karena benua raksasa itu tidak dikelilingi air seperti sekarang.
Olsen juga menilai Periode Karnia masih menjadi persoalan penting dalam riset iklim purba. Data geologi yang terbatas membuat sinkronisasi hujan di semua wilayah Bumi belum dapat dipastikan, meski para ilmuwan sepakat bahwa perubahan besar memang terjadi.
Di penghujung periode Trias, krisis iklim itu bertemu dengan aktivitas vulkanik raksasa yang dikenal sebagai Provinsi Magmatik Atlantik Tengah atau CAMP. Olsen memperkirakan kawasan vulkanik ini mencakup lebih dari 5,5 juta mil persegi atau sekitar 15 juta kilometer persegi.
Studi yang dipublikasikan di PNAS menyebut letusan besar tersebut memicu kepunahan massal. Olsen menilai dampak paling besar datang dari efek iklim, karena kadar CO2 di atmosfer meningkat dua hingga tiga kali lipat dan lalu disusul musim dingin vulkanik akibat abu serta aerosol yang menutupi atmosfer.
Ia menjelaskan bahwa penggandaan CO2 dapat menaikkan suhu global sebesar tiga hingga lima derajat. Sementara itu, salah satu musim dingin vulkanik raksasa bisa menurunkan suhu 10 atau 15 derajat, dan sebagian besar kerusakan terjadi pada fase awal letusan.
Kombinasi perubahan iklim, hujan ekstrem, dan letusan besar membuat banyak spesies sensitif tidak bertahan. Namun sebagian dinosaurus selamat, lalu berkembang pesat pada masa berikutnya hingga Bumi memasuki era yang dikenal luas sebagai Zaman Dinosaurus.
Jejak perubahan itu masih tersimpan dalam batuan, sedimen rawa, dan lapisan fosil di berbagai wilayah dunia. Dari gurun kering menuju hutan lembap, Peristiwa Pluvial Karnia memperlihatkan bagaimana hujan panjang dapat mengubah arah evolusi kehidupan secara dramatis.
Source: www.beritasatu.com