Candaan Presiden Prabowo Subianto kepada Jumhur Hidayat menjadi salah satu momen paling mencuri perhatian dalam peresmian Museum dan Rumah Singgah Pahlawan Nasional Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di tengah acara yang bernuansa serius, suasana justru berubah lebih cair ketika Prabowo menyapa satu per satu tamu undangan dengan gaya santai.
Interaksi itu muncul saat Prabowo melihat Jumhur yang datang memakai kemeja putih dan celana hitam. Dari penampilan tersebut, Prabowo melontarkan sindiran ringan karena Jumhur tidak mengenakan kaos buruh seperti identitas yang kerap melekat pada tokoh serikat pekerja.
Tawa hadirin langsung terdengar setelah celetukan itu keluar. Prabowo kemudian menambahkan pertanyaan yang membuat suasana semakin akrab, yakni soal kapan terakhir Jumhur dipenjara.
Momen tersebut memberi warna berbeda pada peresmian yang sebenarnya memiliki makna simbolik kuat. Museum dan Rumah Singgah Pahlawan Nasional Marsinah memang erat dengan ingatan publik terhadap perjuangan buruh dan sosok Marsinah sebagai simbol gerakan pekerja.
Kehadiran Jumhur Hidayat di acara itu juga menambah relevansi percakapan yang terjadi di panggung. Sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, ia hadir dalam konteks yang dekat dengan dunia buruh dan sejarah perjuangannya.
Prabowo tidak berhenti pada celetukan soal penampilan. Ia juga menyinggung perjalanan hidup Jumhur dengan nada bercanda, termasuk riwayatnya yang pernah bolak-balik masuk penjara.
Pernyataan itu disampaikan sebagai bagian dari suasana santai, tetapi tetap menyoroti dinamika hidup Jumhur yang tidak biasa. Prabowo menggambarkan bahwa seseorang bisa melalui proses hukum, lalu pada tahap berikutnya dipercaya memegang jabatan tinggi di pemerintahan.
Gaya penyampaian seperti itu membuat forum resmi terasa lebih hidup. Di hadapan para tamu undangan, Prabowo terlihat membangun jarak yang lebih dekat dengan cara menyelipkan humor di tengah agenda peresmian.
Bagi acara yang dikaitkan dengan Marsinah, nuansa tersebut punya lapisan makna tersendiri. Nama Marsinah sendiri lekat dengan perjuangan buruh, sehingga kehadiran tokoh serikat pekerja seperti Jumhur terasa selaras dengan tema besar yang diangkat dalam peresmian itu.
Percakapan singkat antara Prabowo dan Jumhur akhirnya menjadi bagian yang paling mudah diingat dari rangkaian acara. Di tengah format seremonial, momen itu menonjol karena memperlihatkan sisi spontan dan cair dari suasana peresmian di Nganjuk.
Source: www.beritasatu.com




