Perdagangan Mpondwe Tersendat Oleh Penutupan Perbatasan Uganda, Truk Dan Barang Terancam Busuk

Di Mpondwe, penutupan perbatasan Uganda ke Kongo bukan lagi sekadar langkah kesehatan, melainkan persoalan dapur banyak keluarga. Saat truk-truk berhenti di jalur perbatasan, barang mulai tertahan, pedagang kehilangan putaran uang, dan sebagian muatan terancam rusak sebelum sempat bergerak.

Situasi itu paling terasa pada komoditas yang mudah cepat membusuk. Leah Masika, pedagang pisang raja, melihat sendiri barang bawaannya macet di antrean panjang kendaraan di kedua sisi perbatasan, lalu mulai mengeluarkan air dan berisiko busuk dalam hitungan jam bila tidak segera berjalan.

Antrean panjang dan barang yang tak bisa menunggu

Di sisi Uganda, seorang agen klaring, Sylvia Asiimwe, menyebut antrean truk memanjang lebih dari satu mil. Ia juga menyoroti sedikitnya tujuh truk yang membawa ikan impor dari China dan ditujukan ke kota Beni dan Butembo di Kongo.

Asiimwe menegaskan kedua kota itu berada di provinsi North Kivu, bukan di Ituri yang menjadi pusat wabah. Karena itu, ia menilai barang-barang tersebut akan rusak jika terus ditahan, sementara nilai uang yang dipertaruhkan sangat besar.

Dampak ekonomi di simpul dagang utama

Efek pembatasan paling mudah terlihat di sekitar Mpondwe, pos perbatasan terbesar Uganda untuk ekspor informal. Nilai aktivitas itu diperkirakan mencapai $131 juta pada 2023 menurut Uganda Bureau of Statistics.

Sejumlah toko tutup, dan para pemuda yang biasanya mendapat pekerjaan harian terlihat duduk tanpa kegiatan. Ismail Mumbere, penjual camilan di pinggir jalan, mengatakan banyak warga menggantungkan hidup dari perputaran barang dan jasa di kawasan itu.

Masika merasakan tekanan yang sama dari dua arah. Ia mengatakan tidak akan memesan barang baru dari Kongo sampai wabah berakhir, tetapi masih terancam rugi besar jika 50 karung pisang raja yang sudah dalam perjalanan tidak sampai ke wilayah sekitar Kampala.

Alasan penutupan dan pengawasan yang diperketat

Otoritas Uganda menutup perbatasan baratnya pada 28 Mei, sekitar dua pekan setelah Kongo mengumumkan wabah Ebola di provinsi Ituri di timur. Meski begitu, pengecualian masih diberikan untuk kondisi darurat, termasuk respons wabah, alasan kemanusiaan, kargo, dan keamanan.

Dalam beberapa hari terakhir, pembatasan di distrik perbatasan Kasese makin ketat karena penyebaran Ebola di timur Kongo dinilai bergerak lebih cepat daripada responsnya. Petugas pengawasan di Kasese, Arafat Bwambale, membela langkah itu dan menyebut pergerakan kargo serta truk juga berarti pergerakan orang, sehingga risiko penularan perlu ditekan.

Bwambale menambahkan, petugas berupaya mencegah warga Kongo menyeberang ke Uganda melalui lebih dari dua lusin jalur setapak di sekitar Mpondwe. Otoritas setempat juga disebut sedang menyiapkan cara yang lebih ketat dan sistematis untuk mengatur masuknya kargo dan truk ke negara itu.

Kekhawatiran kesehatan yang belum mereda

Kecemasan di perbatasan makin besar karena situasi wabah di Kongo diduga telah menginfeksi lebih dari 1.000 orang. Jumlah kasus terkonfirmasi jauh lebih rendah karena banyak korban diduga meninggal di luar rumah sakit tanpa bukti pasti bahwa penyebabnya adalah Ebola.

WHO telah menyatakan wabah itu sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Namun lembaga tersebut tidak mendorong penutupan perbatasan, meski mengakui negara-negara tetangga menghadapi risiko penularan yang tinggi.

Uganda sendiri sudah mencatat 15 kasus Ebola yang semuanya terkait dengan wabah di negara tetangga. Kasus itu muncul setelah sejumlah warga Kongo mencari perawatan di Kampala sebelum diketahui bahwa wabah sedang terjadi, sementara penyakit tersebut diyakini telah menyebar selama berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum diumumkan pada 15 Mei.

Pengalaman panjang Uganda menghadapi Ebola ikut membuat kewaspadaan tetap tinggi. Negara itu juga pernah mengalami beberapa wabah sejak 2000, ketika penyakit tersebut menewaskan lebih dari 200 orang.

Kasus yang merebak di Kongo kali ini dinilai mengkhawatirkan karena merupakan jenis Bundibugyo yang langka. Vaksin dan pengobatan yang tersedia untuk Ebola tidak bekerja pada pasien dengan tipe tersebut, sehingga pelacakan kontak, isolasi, dan perlengkapan pelindung bagi tenaga medis menjadi kunci pengendalian.

Di Kasese, rumah sakit rujukan terdekat disebut memiliki pusat isolasi dan laboratorium yang bisa mengeluarkan hasil sampel dalam enam jam. Dalam beberapa hari terakhir, sampel dari 41 orang di wilayah Kasese dilaporkan negatif Ebola, tetapi pedagang di Mpondwe masih dihantui jam-jam penahanan yang berarti barang rusak, pelanggan hilang, dan pendapatan lenyap.

Exit mobile version