Di antara burung pantai, pelejang justru menempuh jalur yang tidak biasa. Kelompok ini memilih wilayah gurun yang kering, jauh dari tepi air yang identik dengan kerabat sejenisnya.
Pilihan habitat itu membuat pelejang mudah luput dari perhatian. Bulunya menyatu dengan warna tanah, sementara tubuhnya dirancang untuk bergerak cepat di hamparan terbuka yang panas dan minim naungan.
Bukan penghuni pesisir
Pelejang termasuk famili Glareolidae, satu kelompok dengan burung terik. Meski masih satu keluarga, pola hidup keduanya tidak sama karena pelejang tidak bergantung pada kawasan berlumpur atau pesisir.
Di wilayah kering, burung ini lebih sering melintasi tanah terbuka daripada bertahan di sekitar air. Kebiasaan itu menjadi pembeda penting di antara burung-burung pantai lain yang umumnya dekat dengan sumber air.
Tubuhnya disesuaikan untuk gurun
Pelejang punya tubuh ramping, tinggi, dan tampak tegak. Hampir semua jenisnya berwarna kecokelatan, sehingga mudah menyatu dengan lanskap gurun dan tanah berbatu.
Ukuran tubuhnya juga tidak besar. Pelejang sayap-perunggu menjadi jenis terbesar dengan panjang 25—29 sentimeter dan berat 91—220 gram, sedangkan pelejang Temminck menjadi jenis terkecil sekaligus paling luas tersebar, dengan panjang 19—21 sentimeter dan berat 70 gram.
Pola bulunya bukan hanya soal tampilan. Corak itu berfungsi sebagai kamuflase agar tubuhnya tidak mudah terbaca di habitat yang terbuka.
Sinyal penyamaran yang berubah saat terbang
Pada jenis tertentu, terutama dari marga Rhinoptilus, ada garis hitam-putih khas dari belakang mata hingga tengkuk. Pola tersebut membantu menyamarkan bentuk tubuh dari predator maupun mangsa.
Namun efeknya tidak selalu sama. Saat terbang, kontras antara bulu sayap hitam dan bulu tubuh kecokelatan justru membuat pelejang tampak jelas di udara.
Lebih aktif saat suhu turun
Sebagai penghuni gurun, pelejang jarang terlihat bergerak di bawah terik matahari. Burung ini bersifat nokturnal dan biasanya berteduh di bawah semak ketika siang hari masih panas.
Sepasang burung atau keluarga kecilnya kerap diam di tempat teduh saat suhu tinggi. Begitu senja datang, aktivitas mereka mulai terlihat karena waktu itu mereka berburu makanan.
Pemburu darat yang gesit
Kaki panjang membantu pelejang berlari mengejar mangsa di tanah. Nama Inggris courser sendiri berasal dari kata Latin yang berarti pelari.
Burung ini mampu berlari jauh untuk menangkap serangga yang mencoba kabur. Paruhnya yang runcing dan melengkung ke bawah membantu memungut serangga serta makhluk kecil lain dari permukaan tanah dengan cepat.
Cara makannya mirip perilaku perandai. Pelejang bergerak dengan pola lari lalu berhenti, seperti yang umum terlihat pada burung cerek atau plover.
Berkembang biak dengan cara yang sangat sederhana
Karena hidup di habitat terbuka dan minim pepohonan, pelejang tidak punya banyak pilihan saat membuat tempat bertelur. Sarangnya hanya berupa cekungan di tanah, lalu telur diletakkan begitu saja di sana.
Telur dan anak burung ini tetap terlindungi oleh penyamaran alami. Coraknya mirip tanah bebatuan di sekitarnya sehingga sulit terlihat di hamparan gurun berbatu.
Pada beberapa jenis, telur bahkan diletakkan dekat kotoran hewan yang warnanya menyerupai telur mereka. Strategi itu menambah perlindungan di lingkungan yang keras dan terbuka.
Source: www.idntimes.com