Di tengah semangat berbagi saat Iduladha, urusan limbah penyembelihan sering kali justru luput dari perhatian. Padahal, darah, isi perut, dan sisa pemotongan hewan kurban dapat menjadi sumber pencemaran bila dibuang tanpa penanganan yang benar.
Masalah ini menjadi penting karena kegiatan kurban kerap berlangsung di area yang dekat dengan permukiman. Saat ruang penyembelihan terbatas, risiko limbah masuk ke lingkungan sekitar, termasuk ke sumber air yang dipakai warga sehari-hari, ikut meningkat.
Pakar kesehatan lingkungan Universitas Airlangga, Corie Indria Prasasti, menegaskan bahwa setiap penyembelihan hewan kurban menghasilkan limbah yang wajib diatur penanganannya. Ia mengingatkan bahwa limbah cair seperti darah dan limbah padat seperti isi perut hewan tidak boleh dibuang ke sungai atau sumber air.
Jika limbah dibuang sembarangan, dampaknya tidak berhenti pada area pemotongan saja. Air yang digunakan masyarakat bisa tercemar, dan kondisi itu berpotensi memicu gangguan kesehatan.
Corie juga menjelaskan bahwa limbah kurban memang dapat dikubur. Namun, penguburan harus dilakukan di tempat khusus dan tidak boleh dekat dengan sumber air agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.
Tantangan terbesar di lokasi padat penduduk
Menurut Corie, persoalan paling berat biasanya muncul di masjid atau wilayah permukiman yang padat. Banyak lokasi penyembelihan tidak memiliki lahan yang cukup aman untuk menampung limbah kurban dengan jarak yang layak dari sumber air.
Karena itu, cara penanganan limbah tidak bisa disamaratakan. Kondisi tiap daerah berbeda, sehingga pengelolaan harus menyesuaikan ruang yang tersedia dan situasi setempat.
Di lokasi yang sempit, limbah padat dan cair bisa menumpuk bila panitia tidak merencanakannya sejak awal. Situasi seperti ini membuat pengelolaan limbah tidak bisa dianggap sebagai urusan kecil.
Perlu kerja bersama, bukan hanya panitia
Corie menilai pengelolaan limbah kurban tidak dapat dibebankan hanya kepada panitia penyembelihan. Pemerintah, dinas kesehatan, peternakan, lingkungan hidup, dan pengurus masjid perlu terlibat agar pelaksanaan kurban tetap aman bagi warga.
Ia juga menyebut bahwa persyaratan khusus bagi tempat penyembelihan hewan kurban dapat membantu memperbaiki pengelolaan limbah. Dengan aturan yang lebih jelas, pelaksanaan di lapangan bisa berjalan lebih tertib dan aman.
Keterlibatan banyak pihak menjadi penting karena persoalan ini menyangkut kebersihan lingkungan, perlindungan sumber air, dan pencegahan risiko kesehatan. Jika koordinasi lemah, limbah dapat berakhir di tempat yang salah dan menimbulkan masalah yang lebih luas.
Edukasi kebersihan perlu diperluas
Selain penanganan teknis, Corie menilai edukasi soal kebersihan lingkungan saat Iduladha juga sangat penting. Informasi mengenai bahaya membuang limbah sembarangan perlu disebarkan lewat media sosial dan media elektronik agar lebih banyak warga memahami risikonya.
Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada panitia kurban. Masyarakat umum juga perlu tahu bahwa limbah penyembelihan yang tidak dikelola dengan benar dapat meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, limbah kurban harus diperlakukan sebagai bagian penting dari penyelenggaraan ibadah. Jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik, ibadah yang berlangsung di tengah warga justru bisa berubah menjadi sumber pencemaran dan ancaman bagi kesehatan lingkungan.
Source: www.beritasatu.com




