Nyeri otot dan memar sering menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebiasaan berlari, terutama ketika tubuh dipaksa menerima beban latihan lebih cepat dari kemampuan adaptasinya. Di tengah meningkatnya minat masyarakat urban terhadap lari, keluhan ringan seperti ini perlu mendapat perhatian agar aktivitas sehat tidak berubah menjadi gangguan yang berkepanjangan.
Banyak orang memilih lari karena dianggap sederhana, murah, dan mudah disisipkan ke rutinitas harian. Namun, di balik popularitas itu, ada risiko cedera ringan yang ikut naik, terutama pada tubuh yang belum siap menghadapi intensitas latihan yang meningkat.
Lari makin populer, tubuh juga harus siap
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 62,6 persen penduduk Indonesia sudah memenuhi kategori cukup beraktivitas fisik. Angka ini menggambarkan kebiasaan bergerak yang mulai membaik, tetapi juga menegaskan bahwa aktivitas fisik tetap membutuhkan penyesuaian dan pemulihan yang memadai.
Dalam kedokteran olahraga, masalah yang muncul saat berlari tidak selalu berupa cedera berat. Pada banyak kasus, keluhan yang lebih sering terjadi justru inflamasi atau peradangan akibat penggunaan otot yang berlebihan, terutama ketika intensitas latihan naik terlalu cepat.
Kondisi seperti ini kerap muncul setelah latihan berulang, beban tubuh yang belum siap, atau waktu istirahat yang kurang. Jika tubuh terus dipaksa bergerak tanpa jeda yang cukup, rasa tidak nyaman bisa bertahan lebih lama dan mengganggu aktivitas harian.
Nyeri dan memar kerap datang bersamaan
Pada pelari maupun orang yang aktif bergerak, keluhan fisik tidak selalu berdiri sendiri. Nyeri otot dan memar dapat muncul dalam waktu yang sama setelah aktivitas padat, sehingga penanganannya perlu melihat keseluruhan gejala, bukan hanya satu bagian.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, Sp.KO, menekankan bahwa penanganan cedera tidak cukup hanya mengurangi rasa sakit. Menurut dia, pemulihan jaringan juga perlu dipercepat agar proses inflamasi tidak berlangsung terlalu lama dan tidak memperburuk keadaan.
Pandangan ini penting karena banyak keluhan ringan justru luput dari perhatian. Saat tubuh masih dipaksa aktif, masalah kecil dapat terasa lebih mengganggu dan memperlambat kesiapan untuk kembali berolahraga.
Atlet lari nasional Triyaningsih juga menyoroti bahwa nyeri otot dan memar merupakan risiko yang hampir selalu hadir dalam latihan. Ia menilai pemulihan yang baik menjadi kunci agar tubuh tetap bisa aktif dan performa tidak menurun.
Kebutuhan penanganan yang praktis
Di lapangan, keluhan nyeri dan memar sering ditangani secara terpisah, padahal keduanya dapat muncul bersamaan. Karena itu, banyak orang aktif membutuhkan solusi yang sederhana dan sesuai dengan pola hidup yang padat.
Salah satu pendekatan yang disebut dalam referensi adalah Thrombovoren Emulgel, yang dirancang untuk membantu meredakan nyeri sekaligus mendukung penanganan memar. Produk ini memadukan Diclofenac Diethylamine untuk meredakan nyeri dan Heparin Sodium untuk membantu mengatasi memar.
Marketing Product Manager Thrombovoren, Kurniawan, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang mobilitasnya tinggi. Dalam konteks lari yang semakin digemari, solusi seperti itu dinilai relevan karena banyak pelari membutuhkan penanganan yang cepat, sederhana, dan sesuai dengan keluhan yang muncul.
Pemulihan perlu mendapat porsi yang sama
Ketika tren lari terus bertumbuh, perhatian terhadap pemulihan tidak semestinya kalah penting dari latihan itu sendiri. Tubuh yang aktif memang mendapat banyak manfaat, tetapi risiko cedera ringan tetap perlu diwaspadai agar rutinitas olahraga tidak terganggu.
Nyeri otot dan memar sebaiknya dikenali sejak awal, terutama bila muncul setelah sesi lari yang lebih berat dari biasanya. Penanganan yang tepat membantu tubuh kembali siap beraktivitas dan mencegah keluhan berkembang menjadi masalah yang lebih lama.
Pada akhirnya, lari tetap bisa menjadi bagian sehat dari gaya hidup urban selama tubuh diberi waktu pulih dan keluhan ringan tidak diabaikan. Di tengah meningkatnya minat berlari, kewaspadaan terhadap nyeri otot dan memar menjadi bagian penting agar langkah sehat tetap aman dan konsisten.
Source: www.suara.com




