Pendampingan psikologis kini menjadi langkah utama yang disiapkan UPT PPA Kota Yogyakarta untuk keluarga yang terdampak insiden di Daycare Little Aresha. Layanan ini diarahkan agar anak dan orang tua tidak hanya pulih dari peristiwa yang memunculkan kekhawatiran publik, tetapi juga mendapat pemantauan yang lebih terarah atas kondisi mental mereka.
Fokus layanan tersebut tidak berhenti pada penanganan sesaat. UPT PPA Kota Yogyakarta menyiapkan skrining tumbuh kembang anak sekaligus konseling individual bagi orang tua atau wali murid agar dampak psikologis insiden tidak berlanjut lebih jauh.
Pemantauan anak dilakukan lewat skrining khusus
Untuk anak-anak yang terdampak, UPT PPA Kota Yogyakarta melibatkan psikolog profesional dari Puskesmas. Mereka akan menjalankan skrining tumbuh kembang anak sebagai upaya melihat kondisi psikis setelah kejadian yang berpotensi mengganggu rasa aman dan kenyamanan.
Layanan skrining itu digelar di Kantor UPT PPA Kota Yogyakarta pada Selasa, 28 April 2026 hingga Kamis, 30 April 2026. Jadwal pelayanan dibuka pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB, dan orang tua diminta mendampingi anak saat hadir ke lokasi.
Kehadiran keluarga dinilai penting karena proses pemantauan akan lebih mudah diarahkan ketika anak berada bersama pendamping terdekatnya. Dari sini, petugas bisa lebih cepat mengenali kebutuhan anak sejak awal dan melihat apakah diperlukan pendampingan lanjutan.
Orang tua juga mendapat ruang konseling
Selain anak, orang tua korban ikut menjadi perhatian dalam layanan ini. UPT PPA Kota Yogyakarta membuka sesi psikologis khusus bagi orang tua karena peran mereka dinilai sangat menentukan dalam proses pemulihan anak di rumah.
Sesi tersebut dibuat secara individual agar peserta dapat menjelaskan kondisi yang dialami dengan lebih leluasa. Pendekatan ini juga memberi ruang yang lebih aman untuk membahas respons anak sekaligus tekanan psikologis yang dirasakan keluarga.
Pendampingan untuk orang tua dijadwalkan pada Rabu, 29 April 2026 dan Kamis, 30 April 2026. Kegiatan berlangsung di UPT PPA Kota Yogyakarta mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, dengan kuota yang dibatasi 20 orang per hari.
Pembatasan kuota itu diterapkan agar pendampingan tetap efektif dan privasi peserta lebih terjaga selama proses konseling berlangsung. Dengan begitu, setiap orang tua dapat memperoleh ruang bicara yang memadai tanpa mengurangi kualitas layanan.
Upaya pemulihan yang menyasar keluarga secara utuh
Langkah cepat UPT PPA Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa dampak insiden pada anak tidak hanya dilihat dari sisi kejadian fisik. Kondisi psikologis setelah peristiwa seperti ini juga perlu dipantau serius supaya tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih panjang.
Pelibatan psikolog Puskesmas dalam skrining dan pendampingan menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Kehadiran tenaga profesional diharapkan membantu membaca kebutuhan anak dan keluarga secara lebih tepat, lalu menentukan apakah ada tindak lanjut yang diperlukan.
Dalam konteks pemulihan anak, dukungan keluarga sering menjadi faktor yang sangat menentukan. Karena itu, pendampingan terhadap orang tua ditempatkan sebagai bagian yang ikut menopang pemulihan anak secara langsung, bukan sebagai layanan yang berdiri sendiri.
UPT PPA Kota Yogyakarta juga menekankan pentingnya kehadiran sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Ketepatan waktu dan kepatuhan pada prosedur dibutuhkan agar layanan berjalan tertib dan setiap peserta mendapat kesempatan pendampingan yang memadai.
Melalui skema ini, Pemerintah Kota Yogyakarta lewat UPT PPA berupaya mengurangi beban mental yang dialami keluarga korban Little Aresha. Pendampingan psikologis bagi anak dan orang tua diharapkan dapat membantu fase pemulihan berjalan lebih terarah dengan dukungan tenaga profesional.
Source: www.suara.com




