Pemeriksaan Mata Anak Tak Lagi Bisa Dipukul Rata Dengan Dewasa, Layar Digital Ubah Kebutuhannya

Paparan layar digital membuat pemeriksaan mata anak tidak lagi bisa diperlakukan seperti pemeriksaan pada orang dewasa. Perubahan kebiasaan visual sejak usia dini menuntut cara evaluasi yang lebih peka terhadap usia, perkembangan, dan respons anak selama proses berlangsung.

Di tengah kondisi itu, layanan kesehatan mata perlu menyesuaikan cara kerja agar hasil pemeriksaan tetap nyaman dan akurat. Pendekatan yang lebih lentur menjadi penting karena anak tidak selalu memberi respons seperti pasien dewasa saat diperiksa.

Kebutuhan anak berubah mengikuti era digital

Doli Rosmiaty, Direktur Operasional Retail Optik Tunggal, menilai bahwa anak membutuhkan metode pemeriksaan yang lebih spesifik. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang lembut, observasi yang teliti, serta cara pemeriksaan yang disesuaikan dengan tahap usia dan perkembangan anak.

Menurut Doli, kebutuhan visual anak ikut berubah seiring paparan layar digital yang makin dekat dalam keseharian. Karena itu, kualitas layanan mata anak juga harus bergerak mengikuti perubahan tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa pemeriksaan tidak cukup hanya bertumpu pada alat. Tenaga pemeriksa perlu membaca respons anak dengan cermat agar evaluasi penglihatan tetap tepat.

Peran optometris menjadi semakin penting

Penguatan kemampuan optometris disebut sebagai bagian penting untuk menjawab kebutuhan baru tersebut. Doli menyampaikan bahwa pembelajaran berkelanjutan perlu dijaga supaya standar pelayanan tetap konsisten dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ia menilai kualitas layanan sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia. Tim yang terlatih dinilai lebih mampu memberi pengalaman pemeriksaan yang nyaman dan tepat bagi anak.

“Anak memiliki kebutuhan pemeriksaan visual yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga pendekatan yang dilakukan juga harus lebih spesifik,” ujar Doli. Ia menambahkan bahwa pengembangan kompetensi tim akan terus menjadi fokus agar layanan dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Rasa aman ikut menentukan hasil pemeriksaan

Dr. Scarlet Cacayuran Salva, O.D menegaskan bahwa keberhasilan pemeriksaan mata anak tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Kemampuan tenaga profesional membangun interaksi yang aman dan nyaman juga memegang peran besar selama proses pemeriksaan.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak menunjukkan respons yang berbeda ketika menjalani pemeriksaan mata. Karena itu, optometris perlu sabar, teliti mengamati, dan memakai komunikasi yang membuat anak merasa terlibat tanpa tekanan.

“Pengalaman pemeriksaan yang positif juga dapat membantu meningkatkan akurasi evaluasi penglihatan pada anak,” kata Dr. Scarlet. Pandangan ini menempatkan kenyamanan anak sebagai bagian yang langsung memengaruhi kualitas hasil pemeriksaan.

Pelatihan untuk pediatric vision care

Untuk memperkuat layanan tersebut, Optik Tunggal menggelar program pelatihan pediatric vision care yang melibatkan sekitar 40 optometris dari berbagai store di Indonesia. Program ini menghadirkan Dr. Scarlet Cacayuran Salva, O.D dari Centro Escolar University, Manila, Filipina, sebagai Pediatric Optometrist dan Expert Advisor.

Pelatihan membahas pediatric handling, komunikasi dengan anak, pendekatan pemeriksaan visual anak, serta kesadaran terhadap perkembangan kondisi visual pada anak di era digital. Peserta juga mendapat materi tentang psychological safety agar anak merasa lebih tenang dan kooperatif selama pemeriksaan.

Selain aspek teknis, pelatihan ini menekankan child-friendly approach dan penggunaan metode pemeriksaan yang sesuai usia. Pendekatan tersebut dinilai penting karena kebutuhan visual anak tidak hanya soal alat ukur, tetapi juga cara memeriksa, cara berinteraksi, dan cara membaca respons anak secara menyeluruh.

Perubahan pola aktivitas visual anak di era digital membuat layanan mata anak harus menyesuaikan diri dengan lebih cepat. Pemeriksaan yang komunikatif, nyaman, dan sesuai tahap usia kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mata anak secara lebih tepat.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version