Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan Seleksi Penerimaan Murid Baru atau SPMB 2026 khusus program Sekolah Manusia Unggul atau Maung. Jalur ini dijadwalkan dibuka pada 25-29 Mei dan hanya menerima siswa berprestasi, baik akademik maupun nonakademik.
Program Sekolah Maung disiapkan di 41 sekolah negeri yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat. Dari jumlah itu, 28 merupakan SMA negeri dan 13 lainnya SMK negeri, dengan target total penampungan mencapai 21 ribu siswa.
Di tengah persiapan itu, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Aten Munajat mengingatkan agar perhatian terhadap mutu pendidikan tidak berhenti di sekolah unggulan. Ia menilai sekolah reguler tetap harus menjadi sasaran utama penguatan agar akses pendidikan massal tidak tertinggal.
Aten menilai kapasitas sekolah negeri di Jawa Barat masih belum cukup untuk menjawab tingginya kebutuhan masyarakat. Ia menyebut daya tampung sekolah negeri baru sekitar 43,9 persen dari total kebutuhan pendidikan menengah.
Kondisi itu membuat banyak orang tua tetap menaruh harapan besar agar anaknya bisa masuk sekolah negeri. Persaingan masuk sekolah negeri pun tetap ketat dari tahun ke tahun karena permintaan jauh lebih besar dibanding daya tampung yang tersedia.
Menurut Aten, Sekolah Maung tidak bisa diposisikan sebagai jawaban tunggal atas persoalan pemerataan pendidikan. Sekolah unggulan tetap memiliki kapasitas terbatas, sehingga tidak mungkin menampung seluruh siswa yang ingin masuk.
Karena itu, ia mendorong pemerintah menyiapkan jalur alternatif dengan standar pendidikan yang merata. Jalur tersebut perlu memperkuat sekolah swasta sekaligus sekolah negeri yang tidak berstatus Sekolah Maung.
Aten juga menekankan bahwa peningkatan kualitas tidak boleh hanya menyentuh satu jenjang atau satu kelompok sekolah. Ia menilai kualitas pendidikan perlu ditingkatkan di seluruh SMA dan SMK negeri maupun swasta di Jawa Barat.
Menurutnya, jumlah sekolah yang cukup banyak di provinsi ini justru membuat pemerataan mutu menjadi kebutuhan yang mendesak. Jika tidak dijaga seimbang, sekolah unggulan dikhawatirkan akan menyedot perhatian lebih besar sementara sekolah lain tertinggal dalam mutu dan daya tarik.
Karena itu, kebijakan pendidikan di Jawa Barat perlu menjaga keseimbangan antara sekolah unggulan dan sekolah reguler. Pemerataan kualitas dianggap penting agar akses pendidikan tetap terbuka luas dan kesenjangan baru tidak muncul di daerah.
Source: jabar.antaranews.com