Kekhawatiran soal DRM baru PlayStation bukan hanya soal pembajakan, tetapi juga soal sejauh mana game digital benar-benar berada di tangan pembeli. Temuan awal yang beredar membuat banyak pemain bertanya apakah game offline di PS5 bisa ikut terkunci jika konsol terlalu lama tidak melakukan verifikasi lisensi.
Perbincangan ini menguat setelah pengujian yang dilakukan oleh YouTuber Spawn Wave dan komentar dari komunitas seperti ResetEra serta grup DoesItPlay. Meski begitu, informasi yang muncul masih bertumpu pada temuan awal dan belum didukung penjelasan resmi yang lengkap.
Apa yang diduga terjadi pada lisensi game digital
Laporan yang dirujuk MBG menyebut game digital yang baru dibeli tampaknya memiliki lisensi offline selama 30 hari. Jika konsol tidak tersambung ke internet melewati batas itu, game disebut bisa berhenti dijalankan sampai perangkat kembali online untuk memeriksa kepemilikan.
Gambaran ini sempat memunculkan kesan bahwa akses game bisa hilang begitu saja. Namun, penjelasan yang berkembang di komunitas menunjukkan bahwa situasinya kemungkinan tidak sesederhana itu.
Satu kali verifikasi bisa mengubah status lisensi
NIB melalui unggahan di X menyebut lisensi awal itu kemungkinan hanya bersifat sementara dan berkaitan dengan masa refund 14 hari. Artinya, pembeli tidak otomatis kehilangan akses permanen hanya karena melewati periode awal tanpa koneksi internet.
Setelah jendela refund berakhir, satu kali pemeriksaan online disebut dapat mengubah lisensi menjadi jangka panjang, bahkan tanpa batas waktu. Pola ini membuat game tetap bisa dipertahankan, selama konsol sempat terhubung ke internet setidaknya sekali setelah pembelian.
Mengapa sistem seperti ini masuk akal bagi penerbit
Dari sisi industri, mekanisme semacam itu memiliki alasan yang cukup jelas. Sistem ini diduga dibuat untuk menutup celah yang memungkinkan lisensi permanen diambil dari konsol yang sudah dimodifikasi, lalu pembeli tetap mengajukan refund.
Dengan lisensi awal yang hanya berlaku dalam waktu singkat, ruang penyalahgunaan menjadi lebih sempit. Karena itu, kebijakan baru ini dipandang memiliki tujuan yang mirip dengan alat anti-pembajakan di PC seperti Denuvo, meski penerapannya berlangsung lebih senyap di ekosistem konsol.
Kenapa pemain tetap merasa waspada
Di sisi pengguna, persoalan utamanya bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal rasa memiliki. Saat game single-player pun membutuhkan validasi berkala, batas antara membeli game dan sekadar mendapat izin akses menjadi semakin kabur.
Kekhawatiran lain muncul dari sisi jangka panjang. Jika server verifikasi suatu saat tidak lagi tersedia, preservasi game digital bisa ikut terdampak, terutama bagi pemain yang terbiasa bermain offline.
Komunitas melihatnya sebagai lapisan kontrol tambahan
Sejumlah pembahasan di komunitas juga menilai bahwa sistem ini tidak berarti game harus selalu online. Andshrew di ResetEra serta DoesItPlay disebut melihat DRM baru PlayStation sebagai lapisan kontrol tambahan yang tetap memberi batas pada game digital yang sudah dibeli.
Pandangan itu penting karena mengubah cara membaca isu ini. Persoalannya bukan semata apakah game masih bisa dimainkan tanpa internet, tetapi seberapa besar kendali platform terhadap lisensi yang sudah berpindah ke tangan pengguna.
Pada tahap ini, semua pembahasan yang beredar masih perlu diperlakukan sebagai indikasi awal. Jika temuan tersebut benar, PlayStation tampaknya sedang mencari titik tengah antara menutup celah pembajakan dan menjaga agar akses pemain sah tetap berjalan tanpa hambatan yang terlalu besar.
Source: tech.sportskeeda.com




